Prof Ali Gufron Mukti: Jangan Langsung Klaim Temukan Obat, Ada Prosedurnya

 Prof Ali Gufron Mukti: Jangan Langsung Klaim Temukan Obat, Ada Prosedurnya

Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19 Kementerian Riset dan Teknologi/BRIN Prof. Ali Gufron Mukti, M.Sc., Ph.D (Komunikasi Kebencanaan/Ranti Kartikaningrum)

JAYAKARTA NEWS— Proses penemuan obat, terutama obat untuk penanganan Covid 19, membutuhkan proses yang panjang  karena menyangkut keamanan hidup masyarakat. Obat yang salah akan bisa menjadi racun dan berbahaya.

Demikian disampaikan Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19 Kementerian Riset dan Teknologi/BRIN Prof Ali Gufron Mukti M.Sc, Ph.D, dalam dialog di Media Center Satuan Tugas Penanganan COVID-19, Jakarta, kemarin.

Dikutip dari laman bnpb.go.id, Ali menjelaskan proses menemukan obat diawali dengan penelitian yang memiliki berbagai tahapan agar aman untuk diimplikasikan kepada masyarakat. Proses pertama dalam melakukan suatu penelitian adalah presentasi kepada kolega agar hasil penelitian bisa didiskusikan bersama mengenai kelayakannya. 

“Oleh karena itu, biasanya orang melakukan penelitian sebelumnya membuat proposal terlebih dahulu. Selanjutnya proposal tersebut harus lulus dalam uji etika kelayakan yang diuji oleh Komite Etik. Jadi tidak bisa langsung mengklaim menemukan obat. Harus ada prosedur yang dijalankan,” ujarnya.

Selanjutnya, Ali menginformasikan bahwa pemerintah terbuka dan mengapresiasi kepada siapa saja yang ingin ikut berpartisipasi dalam penemuan obat Covid 19 di Indonesia. Pemerintah akan memfasilitasi serta mendukung segala penelitian dalam penemuan obat Covid19 asal sesuai dengan koridor dan etika yang ada.

Selain itu, usaha memutus penyebaran Covid 19 juga dilakukan dengan berbagai inovasi yang telah banyak tercipta. Menurut Ali, peneliti dan dosen di Indonesia telah menghasilkan lebih dari 60 inovasi.

“Berbagai inovasi selama 4 bulan terakhir telah dihasilkan. Seperti robot perawat, rapid test kit dan lain sebagainya. Bahkan PCR yang biasanya kita impor, sekarang tidak. Peneliti Indonesia telah membuatnya. Ada juga mobile laboratory dimana laboratorium bisa menghampiri masyarakat. Itu juga inovasi yang dibuat oleh anak bangsa. Terakhir adalah ventilator canggih yang dibuat oleh UGM, yang kalau kita impor itu bisa miliaran tapi ini hanya 450 juta,” tutupnya.***/ebn

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *