Pisang Pasir “Warisan”, dari Richeese hingga Franchise

 Pisang Pasir “Warisan”, dari Richeese hingga Franchise
Pisang Goreng Pasir “Warisan” (foto kiri). Foto kanan: A. Wahab Matondang SE, M.Si (Ketua Umum Lepri Lembaga Ekonomi dan Pendidikan Rakyat Indonesia) – (kiri), dan Rahdiyan Kurniawan (Ketua Bidang Kewirausahaan Lepri) – (kanan). Foto: Monang S

TRADISI minum kopi sambil makan pisang goreng, ada di hampir setiap pelosok negeri ini. Jangan tanya sejarah dan asal-usulnya. Sebab, kalau kita tanyakan ke bapak, bapak akan bilang itu kebiasaan kakek. Ketika bapak bertanya ke kakek, kakek akan menjawab itu kebiasaan buyut. Itu artinya, pisang goreng adalah penganan warisan. Penganan turun-temurun.

Tidak salah jika kemudian lahir produk pisang goreng pasir dengan brand “Warisan” di Medan, Sumatera Utara. Salah satu outlet “Warisan” ada di Jl. Karya Wisata, Simpang Karya Tani, Medan Johor. Meski produk ini sudah ada sejak 1981, tetapi bercokol di lokasi ini sejak November 2017.

Karena rasa yang khas, ditambah inovasi topping aneka rasa, membuat pisang goreng pasir “Warisan” melesat pesat. Dalam waktu lima bulan, sudah memiliki 21 outlet. Sebagian besar di antaranya outlet kerjasama, atau franchise. Alhasil, pisang goreng pasir “Warisan” kini hadir di beberapa sudut kota Medan, Binjai, dan Deli Serdang.

Bagi yang menyukai pisang goreng pasir rasa original, outlet ini menjanjikan cita rasa legit. Bagi yang gemar berpetualang rasa, “Warisan” menyediakan aneka pilihan selera: ala richeese, choco, cappuccino, strawberry jam, tiramisu, nutella, chocomaltine, toblerone, dan lain-lain. Tak ayal, outlet pisang pasir “Warisan” senantiasa ramai pembeli, sejak buka pukul 11.00 hingga tutup pukul 22.00 WIB.

Outlet berbentuk gerobak dengan warna dominan biru dan kuning itu, tidak menyediakan banyak meja dan kursi. Sebab, sebagian besar pembelinya memang model take-away. Kalau toh makan di tempat, dijamin tidak harus menunggu lama, sebab semua bahan sudah siap goreng, terdiri atas pisang kepok pilihan, penggorengan, dan aneka topping.

Pesanan Pisang Goreng Pasir “Warisan” melalui jasa Go-Food. Foto: Ist

“Kedai pisang pasir Warisan ini juga sudah masuk aplikasi go food, sehingga pembeli banyak yang menggunakan jasa driver gojek,” ujar pemilik outet ayam goreng pasir “Warisan” di Jl. Karya Wisata, A. Wahab Matondang, SE, MSi. Dijumpai Jayakartanews baru-baru ini, dosen salah satu perguruan tinggi swasta di kota Medan itu mengaku, jika keadaan ramai bisa menjual hingga 80 kotak per hari.

Wahab menambahkan, harga per kotak pisang antara Rp 15.000 sampai Rp 30.000 per kotak isi delapan pisang. “Cita rasa yang terjaga, karena kami menjaga kualitas, mulai dari pemilihan pisang kepok, keju, susu, cokelat, dan bahan-bahan terbaik lainnya,” tambah Wahab.

Menurut Jessica (16), asisten di kedai pisang pasir “Warisan”, tipikal pembeli terpeta jelas. Senin hingga Kamis, pembeli yang makan di tempat dan membawa pulang, komposisinya hampir sama. Sebaliknya, setiap Jumat hingga Minggu, mayoritas pembelinya menggunakan jasa go-food. “Selama sebulan bekerja di outlet pisang pasir Warisan Jalan Karya Wisata, ada tiga rasa yang sangat digemari yakni Tiramisu, Nutella, dan Chocomaltine,” jelas Jessica.

Sementara, Putri (20) pembeli pisang pasir “Warisan” mengaku, sekali mencoba dan ingin membeli lagi. “Ini yang keempat saya kesini. Pisangnya enak, apalagi kalau dimakan selagi hangat. Saya suka rasa richeese,” katanya. Sedangkan Iwan (23) pembeli lain, mengaku paling suka rasa coklat. “Coklatnya berasa. Paduan coklat berkualitas dengan pisang kepok goreng pasir, sunggu nikmat,” tambahnya.

Sekadar Informasi, siapa pun bisa bergabung dan sukses bersama pisang goreng “Warisan”. Di bawah naungan Lembaga Ekonomi dan Pendidikan Republik Indonesia (Lepri), “Warisan” membuka peluang kerjasama dalam bentuk franchise. “Lepri ini berdiri awal tahun 2009. Pembinanya Bapak Andrinof Chaniago, mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Ketua Bappenas 2014-2015,” kata Wahab Matondang, yang mengetuai Lepri Sumatera Utara. Divisi Kewirausahan dipegang Rahdiyan Kurniawan.

Salah satu tujuan Lepri adalah meningkatkan SDM serta menciptakan peluang usaha untuk kemajuan ekonomi masyarakat, dalam bentuk usaha kecil mandiri (UKM). Lepri juga memberi beasiswa dan bantuan pendidikan kepada anak-anak tak mampu, mulai dari jenjang SD hingga perguruan tinggi.

Yang menarik, untuk menjadi mitra franchise, Lepri tidak mematok nominal tertentu sebagai royalty yang wajib dibayar. Yang penting, peminat kerjasama harus sudah punya tempat berjualan. Setelah itu, silakan ambil paket dengan harga bervariasi sesuai item yang diambil. Harganya mulai dari Rp 8 juta sampai Rp 15 juta. “Kotak pisangnya harus standar dari kami, biar seragam,” katanya. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *