Merdeka Belajar di Pangandaran

 Merdeka Belajar di Pangandaran

Siswa Kelas XI SMK Bakti Karya, Parigi, Pangandaran, Jawa Barat (Foto: Dok. SMK Bakti Karya)

JAYAKARTA NEWS – Mau melihat Indonesia sesungguhnya? Pergi lah ke SMK Bakti Karya, Parigi, Pangandaran, Jawa Barat. Sekolah dengan kelas multikultural ini diisi siswa berasal dari 21 provinsi Indonesia, dengan budaya, suku dan agama yang berbeda. Sangat beragam. Di sekolah ini keberagaman itu “dibenturkan” dan menghasilkan sesuatu yang disebut Bhineka Tunggal Ika.

Para siswa hidup bersama dengan cara pandang beragam. Mereka belajar bersama dan pada akhirnya sekat perbedaan pun hilang. Cara pandang siswa menyikapi perbedaan berubah. Toleransi muncul. Pada titik tertentu melahirkan rasa kebersamaan dan kesatuan. Rasa superior hilang. Kebencian akan perbedaan, sirna. Toleransi pun semakin kokoh.

Konsep belajar mengajar di SMK Bakti Karya sejalan dengan Asesmen Nasional (AN) Kemendikbudristek. Di sekolah ini siswa merdeka belajar, saling menghargai perbedaan, toleransi, nyaman bergaul dan berinteraksi dengan sesamanya. Ada kemerdekaan berpendapat serta dihargai karena iklim kebhinekaan  tercipta dengan baik.

Ai Nurhidayat, penggagas sekolah multikultural ini menegaskan, metode belajar yang diterapkan  berbeda dengan sekolah formal.  Kelas multikultural juga membangun suasana belajar yang lebih hidup dan dinamis. Perbedaan dimanfaatkan untuk saling mengenal satu sama lain. Sekolah dan para siswa juga terintegrasi dengan  masyarakat.  

Konsep  pembelajarannya mengikuti pola hidup  masyarakat. Saat musim tanam padi, panen, hajatan serta acara lain, para siswa diwajibkan terlibat. “Jumlah siswa saat ini 71 orang,” ujar Ai Nurhidayat kepada Jayakarta News, Sabtu (7/8/2021).

Dibangun juga Kampung Nusantara untuk tempat tinggal siswa. Setiap siswa mempunya orangtua angkat dari penduduk setempat. Dalam momen kelulusan akan kelihatan seorang siswa Kristen  dengan kalung salib diwisuda  didampingi orangtua berkerudung. Ini jelas  pemandangan yang sangat indah.

Friska Mabel, siswa asal Papua mengaku sangat bergairah menjalani hari-harinya di Pangandaran. Melalui teman-teman sesama siswa Friska semakin mengenal Indonesia, dengan aneka suku dan budaya, bahasa serta agama yang berbeda.  “Saya senang bisa belajar tentang budaya Sunda,” jelasnya.

Begitu juga dengan Fajar Riantoby, dari Nunukan, Kalimantan Utara. Kelas multikultural baginya kesempatan menyelami keberagaman dari berbagai wilayah Indonesia. “Di tempat ini saya merasakan benar-benar hidup di Indonesia dan  menjadi orang Indonesia seutuhnya,” ujarnya.

Perjalanan melahirkan sekolah multikultural ini cukup panjang. Semuanya berawal dari kegelisahan seorang Ai Nurhidayat. Hatinya tercekat menyaksikan bom waktu bernama perbedaan, yang siap meledak kapan saja jika tidak dikelola dengan baik. Baginya  perbedaan itu harus “dibenturkan”, untuk mendapatkan output yang positif. Mengelola sekolah multikultural, menggabungkan siswa dari berbagai latar belakang budaya, suku dan agama yang berbeda,  merupakan salah satu jawabannya. Maka pada 2016 sekolah multikultural pun digelar hingga sekarang.

Perbedaan memang mengerikan. Jika tidak ditangani dengan baik  akan melahirkan konflik horizontal yang jelas mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Sejumlah koflik di Tanah Air, mulai dari Ambon, pilkada DKI hingga pilpres 2019 lalu, jelas berawal dari perbedaan. Perbedaan yang dimanfaatkan untuk kepentingan politik, dan dampaknya hingga kini masih terus membekas.

Sejatinya  perbedaan itu  karunia Tuhan. Sayangnya, perbedaan masih dianggap sesuatu yang salah dan ujungnya jadi perpecahan. Ada kegagalan ketika merespon perbedaan secara bijaksana. Seharusnya setiap siswa bisa belajar di lingkungan yang aman dan tanpa diskriminasi. Sekolah multikultural di Pangandaran telah menjadi contoh dan berhasil “merayakan” Kemerdekaan Indonesia sesungguhnya.*** (melva tobing)

(Foto: Dok. SMK Bakti Karya, Parigi, Pangandaran, Jawa Barat)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *