Masa Depan Suram Hantui Afghanistan

Tentara Amerika Serikat bertempur melawan kelompok ISIS di Distrik Khot Provinsi Nangarhar, Afghanistan, pada April 2017. [Foto: Ghulamullah Habibi/European Pressphoto Agency]

MASA depan Afghanistan kini menjadi sebuah tanda tanya, menyusul pernyataan sejumlah pejabat senior Amerika Serikat, akan kemungkinan memburuknya situasi di wilayah Asia Tengah tersebut.

Dalam sebuah pernyataan di Washington, pada hari Selasa (13/6/2017) waktu setempat. Menteri Pertahanan AS Jim Mattis mengungkapkan, bagaimana situasi “yang dikuasai” Amerika dan sekutunya di Afghanistan dalam membantu menjaga keamanan. Berdasarkan data-data yang ada, aksi-aksi kekerasan dan terorisme masih terjadi di Afghanistan, dengan pelaku utama kelompok Taliban. Wajar kalau kemudian situasi ini membuat Amerika masih merasa “belum menang” dalam perang yang menyita waktu Amerika paling lama.

“Kita tidak menang di Afghanistan saat ini,” kata Mattis dalam satu acara dengar pendapat di Kongres. “Dan kita akan memperbaiki ini sesegera mungkin.”

Menang dalam perang di Afghanistan dalam kamus Pentagon dimaknai sebabgai situasi Pemerintah Afghanistan, yang dengan bantuan internasional, akan bisa menangani kerusuhan dan menurunkan tanggung jawabnya ke level pasukan keamanan lokal untuk dapat menanganinya.

“Mungkin perlu kekuatan tambahan yang melakukan dan memelihara pelatihan dan kemampuan yang baik,” kata Mattis.

“Ke depan akan ada era bentrokan kecil sering terjadi dan kita perlu perubahan dalam pendekatan.”

Jenazah seorang tentara Amerika Serikat tiba di tanah airnya. Jenazah Sersan Joshua Rodgers tiba di Central Illinois Regional Airport di Bloomington pada 5 Mei 2017 setelah tewas dalam pertempuran di Afghanistan pada sebulan sebelumnya. {Foto: David Proeber/The Pantagraph]

Sebelum Mattis, pernyataan senada juga disampaikan oleh pejabat senior dalam Pemerintahan Presiden AS Donald Trump, yang memperingatkan prospek suram bagi situasi keamanan di Afghanistan.

Direktur Intelijen Nasional AS Dan Coats, pada Mei mengungkapkan, situasi keamanan di Afghanistan sangat mungkin akan memburuk pada masa depan, sekalipun Amerika dan sekutunya memberi bantuan militer tambahan.

Peringatan tersebut disampaikan saat Trump dilaporkan sedang mempertimbangkan apakah akan mengirim tambahan ratusan prajurit AS ke Afghanistan, atau tidak.

Presiden AS Barack Obama ketika itu pernah berencana mengurangi jumlah tentara AS saat ini, 9.800 personel, di Afghanistan menjadi sebanyak 5.500 personel sampai akhir 2015 dan menarik semua tentara AS pada akhir 2016, ketika masa jabatan presidennya berakhir. Namun, mengingat situasi keamanan yang memburuk di Afghanistan, Pemerintah Obama berulangkali menunda penarikan itu.

Saat ini, ada sebanyak 8.400 prajurit AS dan sebanyak 5.000 personel lagi dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di lapangan di Afghanistan untuk melatih dan membantu pasukan Afghanistan menghadapi Taliban, serta melakukan misi kontra-terorisme.

Xinhua, Reuters

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *