“Konflik” Pemain Teater Alam dan ISI Yogyakarta

 “Konflik” Pemain Teater Alam dan ISI Yogyakarta
Adu akting aktor-aktor gaek Teater Alam dengan aktor-aktris kuliahan ISI Yogyakarta. (foto: richa amalia)

Jayakarta NewsA Streetcar Name Desire yang diterjemahkan oleh Toto Sudarto Bachtiar menjadi “Pusaran” ternyata menjadi “pusaran” yang harus dituntaskan para pemain dan para awak di belakang layar. Sutradara perempuan Prof Dr Yudiaryani MA tidak begitu saja membiarkan “konflik” yang terjadi tanpa penyelesaian.

Sementara Dr Memet Chairul Slamet sebagai penata musik tidak banyak bicara. Ia tetap diam menuntaskan komposisi musik dengan caranya.

Sementara Palgunadi sosok yang diandalkan sebagai Art Director melampiaskan kegelisahannya hingga membuat bahan yang digunakan terpotong-potong sesuai keinginannya.

Para pemain dari Teater Alam yang notabene sudah kakek-kakek seperti Meritz Hindra, Gege Hang Andika, Daning Hudoyo, dan generasi yang lebih muda seperti Gola Bustaman dan Dinar Saka seperti semakin berulah, bahkan terkadang terekspresikan serta tak ada yang bisa menahan, hingga para mahasiswa Jurusan Teater Fakultas Ilmu Pertunjukan, ISI Yogyakarta resah dan tertantang untuk nengimbangi emosi para pemain gaek agar tak menjadi korban begitu saja.

Akting Viola Alex dan Alfi. (foto: richa amalia)

Erlina Panca penata kostum dan rias, hanya bisa diam mengamati apa yang sedang terjadi tanpa bisa menyela. Sedangkan Naning Kartaatmaja selaku pimpinan produksi dalam “Pusaran” lebih sering berdoa agar konflik dalam pusaran yang akan digelar di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta, Senin – Selasa,  22 dan 23 Juli 2019 terselenggara dengan lancar.

Jelang hitungan hari, memang tampak keserasian semua elemen di bidangnya masing masing guna mencapai keberhasilan totalitas estetika pementasan.

Teater Musikal yang digelar dengan kolaborasi Teater Tertua di Yogya yang nyaris berusia 50th dengan ISI Yogyakarta yang menyongsong lustrum ke-7 ini memang boleh dibilang fenomena istimewa dalam perkembangan pertunjukan Teater di Yogyakarta.

Duel akting para kakek dengan anak anak milenial Viola Alex, Nur Alfiyah, Dama Wahyu yang disutradarai oleh Prof Yudi, apakah akan menjadi jurang pemisah semakin dalam, ataukan menjadi sinergi yang harmoni di antara dua generasi? Wajib kita saksikan. (gde mahesa)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *