Kentang dan Makelar di Satu Los Pasar

 Kentang dan Makelar di Satu Los Pasar
Widayat, sang penjual kentang, sekaligus makelar tanah dan rumah. Dua bisnis dipajang di satu los. Foto: Roso Daras

LELAKI paruh baya, duduk terkantuk-kantuk di tengah Pasar Beringharjo Yogyakarta yang pikuk. Widayat nama lelaki itu. Ia sudah lebih dua puluh tahun menjadi bagian dari komunitas pedagang pasar, yang menghuni los sayur mayur, di lantai dua bagian belakang. Jualan Widayat adalah kentang.

Mengenakan batik, hari itu Widayat memang tidak seperti kebanyakan pedagang pasar sayur yang lain. “Anu… tadi mampir silaturahmi sebelum ke pasar,” ujar warga Jalan Godean, Sleman, mengklarifikasi soal baju batik yang ia kenakan untuk berjualan kentang.

Sejatinya yang menarik dari Widayat ini bukan baju batiknya, tetapi pada kreativitasnya menjaring rezeki. Berjualan kentang ia katakan sebagai yang utama, tetapi siapa sangka, ada kalanya justru rezeki datang dari profesinya sebagai makelar tanah dan rumah. Bagaimana bisa?

Begitulah. Kentang ia jual (ketika itu) Rp 12.000 per kg. Berapa keuntungannya? Keuntungan bersih tidak sampai Rp 3.000 per kg. “Awalnya sih tidak sengaja jadi makelar, tapi sekarang sudah kepalang basah,” kata Widayat tentang bisnis makelaran yang ia jalankan sembari berjualan kentang.

Karena itu, jangan heran jika dari luas los pasar yang kurang dari 2 x 2 meter, lebih setengah ia pakai untuk memajang white board besar dan kecil, serta serakan kertas-kertas fotokopian sertifikat. Sebagian los lain untuk memajang kentang di atas tampah-tampah bambu. “Hehehe… terus terang, dari hasil makelaran tanah, rumah atau kontrakan, terkadang lebih besar duitnya,” ujar Widayat sambil tertawa.

Ada tiga white board dipajang di meja los pasar yang seharusnya ia pakai buat mendisplay. Dua white board di antaranya berukuran 90×60 cm, dan satu white board kecil berukuran 60×40 cm. Satu white board berisi deretan catatan rumah-rumah yang dijual, lengkap dengan alamat dan harganya. Beberapa di antaranya dilengkapi fotokopian sertifikat. Satu white board lagi berisi catatan ukuran tanah, letak atau alamat, serta harga. Terakhir, satu white board kecil, berisi catatan rumah-rumah yang dikontrakkan.

Widayat dengan fasih bisa menceritakan riwayat satu per satu tanah atau rumah yang ia bantu pasarkan. “Yang ini, rumah baru selesai dibangun. Bagus sekali, menghadap sawah. Yang ini, rumah tua, tapi lokasinya sangat strategis. Nah, ada nih tanah yang sangat murah, jauh di bawah harga pasaran, orangnya sedang butuh uang. Yang ini nih….,” Widayat berpromosi dengan gigihnya.

Memang, jika diperhatikan, pendatang atau pengunjung pasar Beringharjo, Yogyakarta yang letaknya di jantung Malioboro, bukan hanya para ibu. Tidak jarang, tampak bapak-bapak menemani istri atau anaknya blusukan ke pasar Beringharjo yang memang nyaman, bersih, dan aman. Dari logat bicaranya, mereka bukan asli Yogya. Bisa jadi, datang dari Jakarta, Surabaya, atau bahkan dari luar Jawa.

“Merekalah sasaran saya. Ketika melihat white board berisi daftar tanah dan rumah yang dijual, lengkap dengan alamat dan harga, biasanya ada saja yang terarik dan bertanya-tanya. Entah untuk investasi, atau untuk diteruskan kepada kawan yang sedang mencari tanah atau rumah di Yogya,” urai Widayat seraya menambahkan, “kalau sudah begitu, saya tinggal minta nomor telepon.” ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *