Connect with us

Kolom

Kebangkitan Pasundan dalam Kancah Politik Nasional: Era Baru Representasi Budaya Sunda

Published

on

Oleh : Heri Mulyono

Lanskap politik Indonesia kini menyaksikan fenomena menarik berupa kebangkitan identitas Pasundan yang semakin menguat dalam arena politik nasional. Momentum ini mencapai puncaknya dengan terpilihnya Dedi Mulyadi sebagai Gubernur Jawa Barat periode 2025-2030, yang meraih kemenangan telak dengan 14.130.192 suara atau 62,22 persen. Kemenangan ini bukan sekadar pencapaian elektoral biasa, melainkan simbol kebangkitan representasi budaya Sunda dalam politik modern Indonesia.

Pasundan, sebagai identitas budaya masyarakat Sunda yang mendiami Jawa Barat, Banten, dan wilayah sekitarnya, kini menunjukkan dinamika politik yang signifikan. Dengan populasi sekitar 40 juta jiwa, masyarakat Sunda merupakan kelompok etnis terbesar kedua di Indonesia, namun representasi politik proporsionalnya baru mulai terwujud dalam dekade terakhir. Fenomena Dedi Mulyadi menjadi katalis yang mempercepat proses ini, menunjukkan bahwa politik berbasis kearifan lokal dapat menjadi kekuatan yang relevan dalam demokrasi Indonesia.

Dedi Mulyadi: Ikon Kebangkitan Pasundan

Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM (Kang Dedi Mulyadi), telah menjadi figur sentral dalam kebangkitan politik Pasundan. Dilantik sebagai Gubernur Jawa Barat ke-15 pada Februari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto, perjalanan politiknya mencerminkan evolusi kepemimpinan berbasis nilai-nilai Sunda dalam konteks modern.

Rekam jejaknya sebagai Bupati Purwakarta (2008-2018) telah membuktikan kemampuannya mengimplementasikan nilai-nilai Pasundan dalam tata kelola pemerintahan. Program-program inovatifnya seperti revitalisasi budaya Sunda, penguatan bahasa daerah, dan pembangunan berkelanjutan berbasis kearifan lokal menjadi model yang diadopsi daerah lain. Pendekatan kepemimpinannya yang sederhana namun komunikatif mencerminkan filosofi Sunda “silih asah, silih asih, silih asuh”.

Yang membedakan KDM dari politisi konvensional adalah penguasaannya terhadap komunikasi digital. Dengan total 19,7 juta pengikut di berbagai platform media sosial (12 juta di Facebook, 8 juta di TikTok, 7,7 juta di YouTube, dan 4,5 juta di Instagram), ia menjadi salah satu politisi dengan basis digital terkuat di Indonesia. Channel YouTube-nya yang mencapai 7,22 juta subscriber dengan 4.298 video yang diunggah menunjukkan konsistensi dalam membangun komunikasi langsung dengan rakyat.

Jejaring Strategis: Tim Pendukung dan Penasihat

Keberhasilan KDM tidak lepas dari dukungan jejaring strategis yang terdiri dari tokoh-tokoh berkaliber nasional dan internasional. Salah satu figur kunci adalah Mardigu Wowiek Prasantyo atau dikenal sebagai Bossman Mardigu, seorang pengusaha dan influencer yang kini dipercaya sebagai Komisaris Utama Independen Bank BJB. Bossman Mardigu, pria kelahiran Madiun tahun 1960-an, dikenal sebagai pendukung konsep Modern Monetary Theory (MMT) yang menurutnya dapat mengurangi ketergantungan negara terhadap dolar AS.

Kehadiran Mardigu dalam tim Dedi Mulyadi memberikan dimensi ekonomi dan keuangan yang kuat. Sebagai pengusaha yang aktif di media sosial dan sering menggelar workshop serta bootcamp terkait kiat-kiat sukses, Mardigu juga mendirikan perusahaan crypto asset. Kolaborasi antara Dedi Mulyadi dengan Bossman Mardigu menunjukkan integrasi antara kepemimpinan tradisional dengan inovasi ekonomi digital.

Tokoh lain yang tidak kalah penting adalah Susi Pudjiastuti, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, yang kini menjadi penasihat Pemerintah Provinsi Jawa Barat tanpa menerima honor. Keputusan Susi untuk tidak menerima honor menunjukkan komitmennya yang murni dalam membantu pembangunan Jawa Barat, dengan Dedi Mulyadi menegaskan bahwa seluruh penasihat di provinsi Jawa Barat bersifat sukarela tanpa biaya.

Selain Susi Pudjiastuti, Dedi Mulyadi juga menggandeng Ignasius Jonan, mantan Menteri Transportasi, sebagai tim ahli bidang transportasi. Kehadiran dua mantan menteri dari era Presiden Jokowi ini memberikan kredibilitas dan pengalaman birokrasi tingkat nasional yang berharga.

Dalam tim pemenangan Pilkada Jawa Barat 2024, Mayjen (Purn) Dwi Jati Utomo, mantan Kepala Staf Kodam Siliwangi, resmi menjadi Ketua Tim Pemenangan pasangan Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan. Uniknya, komedian Entis Sutisna alias Sule juga ditunjuk sebagai juru bicara tim pemenangan, dengan alasan kemampuannya menyampaikan pesan-pesan politik dengan cara yang mudah dipahami masyarakat.

Filosofi dan Nilai-Nilai Pasundan dalam Politik Modern

Kebangkitan politik Pasundan tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai filosofis yang menjadi pondasinya. Konsep “Tri Tangtu” yang mengajarkan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam, memberikan kerangka pemikiran holistik dalam pendekatan pembangunan. Nilai ini sangat relevan dengan tantangan kontemporer seperti krisis lingkungan, ketimpangan sosial, dan degradasi moral.

Tradisi musyawarah dalam budaya Sunda yang disebut “rembug” atau “papaosan” sejalan dengan prinsip demokrasi deliberatif. Dalam praktiknya, KDM sering menggunakan pendekatan dialogis dalam pengambilan kebijakan, melibatkan berbagai stakeholder melalui forum-forum diskusi terbuka, baik offline maupun melalui platform digital.

Konsep “Mipit Kudu” (harus hati-hati) dalam filosofi Sunda menjadi dasar pendekatan pembangunan yang berkelanjutan. Hal ini tercermin dalam kebijakan-kebijakan yang mengutamakan kelestarian lingkungan dan keadilan antar generasi, termasuk dalam kerjasama dengan Susi Pudjiastuti yang memiliki track record kuat dalam pelestarian lingkungan laut.

Transformasi Digital dan Komunikasi Politik

Era digital telah memberikan dimensi baru bagi politik Pasundan. Kekuatan media sosial Dedi Mulyadi menunjukkan bagaimana teknologi dapat menjadi jembatan antara nilai-nilai tradisional dan aspirasi modern. Melalui konten-konten yang diproduksi, nilai-nilai Pasundan dikemas dalam format yang accessible bagi generasi milenial dan Gen Z.

Julukan “gubernur konten” yang disandangnya bukan tanpa alasan. KDM memiliki tim khusus untuk produksi konten media sosial, namun tetap mempertahankan otentisitas dan kedekatan personalnya. Strategi komunikasi digital ini bukan sekadar untuk popularitas, melainkan sebagai instrumen demokratisasi informasi dan partisipasi publik dalam pemerintahan.

Penggunaan bahasa Sunda dalam konten digital tidak hanya berfungsi sebagai pelestarian budaya, tetapi juga sebagai instrumen pemberdayaan identitas lokal. Hal ini menciptakan sense of belonging yang kuat di kalangan masyarakat Sunda, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Sunda kepada audiens yang lebih luas.

Agenda Politik dan Isu Strategis

Sebagai Gubernur Jawa Barat, agenda politik KDM mencakup berbagai isu strategis yang mencerminkan nilai-nilai Pasundan sekaligus menjawab tantangan modern. Dengan dukungan tim ahli yang solid, beberapa program prioritas telah dirumuskan.

Pertama, pembangunan berkelanjutan berbasis kearifan lokal menjadi prioritas utama. Program “Smart Province” yang mengintegrasikan teknologi dengan nilai-nilai tradisional Sunda menjadi model inovasi dalam tata kelola daerah. Keahlian Mardigu Wowiek dalam bidang ekonomi digital memberikan kontribusi berharga dalam implementasi program ini.

Kedua, pengembangan sektor kelautan dan perikanan dengan bimbingan Susi Pudjiastuti. Keduanya telah sepakat untuk menolak seluruh keramba jaring apung di Pangandaran, menunjukkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan laut. Pengalaman Susi dalam pemberantasan illegal fishing dan pelestarian sumber daya kelautan menjadi aset berharga bagi pengembangan sektor ini di Jawa Barat.

Ketiga, pengembangan infrastruktur transportasi dengan masukan dari Ignasius Jonan. Bossman Mardigu bahkan menyarankan optimalisasi Bandara Kertajati untuk jamaah haji dan umroh, menunjukkan sinergi dalam pengembangan infrastruktur.

Keempat, revitalisasi bahasa dan budaya Sunda dalam sistem pendidikan. Program pendidikan berbasis kearifan lokal mulai diimplementasikan di berbagai tingkat pendidikan, dengan dukungan tokoh-tokoh nasional yang memberikan legitimasi lebih kuat.

Sinergi Lintas Generasi dan Profesi

Yang menarik dari tim KDM adalah sinergi lintas generasi dan profesi. Dari militer (Dwi Jati Utomo), birokrat berpengalaman (Susi Pudjiastuti dan Ignasius Jonan), pengusaha digital (Mardigu Wowiek), hingga entertainer (Sule), semuanya bersatu dalam visi pembangunan Jawa Barat yang berkelanjutan.

Keragaman latar belakang ini mencerminkan inklusivitas gerakan politik Pasundan yang tidak eksklusif berdasarkan etnisitas semata, melainkan terbuka bagi siapa saja yang memiliki komitmen terhadap pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai Pasundan yang mengutamakan gotong royong dan persatuan.

Implikasi terhadap Politik Nasional

Keberhasilan model kepemimpinan KDM dengan dukungan tim yang solid memiliki implikasi signifikan terhadap dinamika politik nasional. Pertama, fenomena ini menunjukkan bahwa representasi berbasis identitas budaya dapat menjadi kekuatan elektoral yang signifikan ketika dikelola dengan baik dan didukung oleh jejaring strategis yang berkualitas.

Kedua, integrasi teknologi digital dengan nilai-nilai tradisional, yang diperkuat oleh keahlian seperti Mardigu Wowiek dalam ekonomi digital, menciptakan model komunikasi politik yang inovatif. Pengalaman ini dapat menjadi rujukan bagi pemimpin lain dalam membangun komunikasi yang efektif dengan konstituen di era digital.

Ketiga, kemampuan merangkul tokoh-tokoh nasional dari berbagai latar belakang untuk berkontribusi tanpa pamrih menunjukkan model kepemimpinan yang kolaboratif. Kesediaan mantan menteri seperti Susi Pudjiastuti untuk bekerja tanpa honor memberikan contoh dedikasi terhadap kepentingan public service.

Proyeksi dan Peluang Masa Depan

Popularitas dan rekam jejak KDM, yang diperkuat oleh dukungan tokoh-tokoh berkaliber nasional, menempatkannya dalam radar politik nasional. Kemenangan telaknya di Pilkada Jawa Barat, ditopang oleh basis digital yang masif dan jejaring strategis yang kuat, menunjukkan potensi elektabilitas yang signifikan untuk level yang lebih tinggi.

Kehadiran figur-figur seperti Susi Pudjiastuti dan Ignasius Jonan dalam timnya memberikan kredibilitas birokrasi tingkat nasional, sementara dukungan Mardigu Wowiek membuka akses ke jaringan bisnis dan ekonomi digital. Kombinasi ini menciptakan modal politik yang kuat untuk proyeksi ke tingkat nasional.

Dalam diskursus regenerasi kepemimpinan nasional, karakteristik kepemimpinan KDM yang mengkombinasikan kearifan tradisional dengan pemahaman teknologi modern, ditambah kemampuannya merangkul talenta terbaik bangsa, menjadi daya tarik tersendiri di tengah dinamika politik kontemporer.

Tantangan dan Strategi Keberlanjutan

Meskipun menunjukkan tren positif, kebangkitan politik Pasundan dengan jejaring pendukung yang kuat ini menghadapi berbagai tantangan. Pertama, ekspektasi publik yang tinggi terhadap kinerja, terutama dengan adanya tokoh-tokoh berpengalaman nasional dalam tim. Keberhasilan dalam komunikasi digital harus diimbangi dengan capaian nyata dalam pembangunan.

Kedua, sustainabilitas jejaring strategis dalam jangka panjang. Komitmen tokoh-tokoh seperti Susi Pudjiastuti dan Ignasius Jonan untuk berkontribusi tanpa pamrih perlu dijaga agar tetap konsisten sepanjang periode kepemimpinan.

Ketiga, potensi stereotip politik identitas yang dapat menimbulkan resistensi di tingkat nasional. Penting untuk terus menekankan bahwa politik berbasis Pasundan bersifat inklusif dan berkontribusi pada kemajuan nasional, sebagaimana ditunjukkan oleh keragaman tim pendukungnya.

Catatan Akhir

Kebangkitan Pasundan dalam politik nasional, dengan KDM sebagai figur utama yang didukung jejaring strategis berkualitas tinggi, merepresentasikan fenomena penting dalam evolusi demokrasi Indonesia. Kehadiran tokoh-tokoh seperti Susi Pudjiastuti, Ignasius Jonan, Mardigu Wowiek, dan lainnya dalam tim menunjukkan bahwa politik berbasis kearifan lokal dapat menarik dukungan dari kalangan nasional yang kompeten.

Model kepemimpinan ini bukan sekadar tentang politik identitas dalam pengertian sempit, melainkan tentang bagaimana identitas budaya dapat menjadi platform untuk menarik dan mengintegrasikan talenta terbaik bangsa dalam pembangunan daerah. Kesediaan mantan menteri untuk berkontribusi tanpa pamrih menunjukkan daya tarik model kepemimpinan yang autentik dan berorientasi pada pelayanan publik.

Sinergi antara kearifan tradisional Pasundan, kekuatan digital, dan keahlian nasional menciptakan formula kepemimpinan yang unik dan berpotensi menjadi model bagi daerah lain. Dalam konteks yang lebih luas, fenomena ini berkontribusi pada penguatan demokrasi Indonesia yang berbasis pada keragaman dan merit, di mana identitas lokal menjadi kekuatan untuk menarik dan mengoptimalkan potensi nasional.

Ke depan, keberhasilan model ini akan sangat bergantung pada kemampuannya mempertahankan sinergi tim, merealisasikan janji-janji pembangunan, dan tetap relevan dengan aspirasi masyarakat yang terus berkembang. Dalam konteks inilah kebangkitan Pasundan dalam politik nasional, dengan jejaring pendukung yang solid, memiliki signifikansi strategis bagi masa depan Indonesia.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement