Jakarta Akan Pentaskan ‘I La Galigo’

 Jakarta Akan Pentaskan ‘I La Galigo’

JAYAKARTA NEWS – Apakah mahakarya asli Indonesia adalah ‘Mahabharata’ dan ‘Ramayana’ ?

Bukahkah dua mahakarya tersebut berasal dari India dan bukan asli dari Indonesia ? Lalu, manakah karya asli bangsa Indonesia yang pantas dibanggakan ?

“I La Galigo’ adalah harta seni budaya Indonesia. Penghargaan masyarakat Internasional pada karya ini sudah terbukti ,” ujar Restu Kusumaningrum, Ketua Yayasan Bali Purnati dan Direktur Artistik I La Galigo kepada penulis, baru-baru ini.

Didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundatrion dan Ciputra Artpreneur serta Yayasan Bali Purnati, I La Galigo’ akan digelar di Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta. tanggal,3, 5, 6 dan 7 Juli 2019 mendatang.

“Ini adalah sebuah pementasan musik teater yang naskahnya dari ;Sureq Galigo’. Sureq Galigo adalah wiracarita mitos penciptaan suku Bugis abad 13 dan 15 yang terabadikan lewat tradisi lisan dari naskah-naskah dan kemudian dituliskan dalam bentuk syair menggunakan bahasa Bugis dan huruf Bugis kuno,” ikut urun rembug Rina Ciputra Sastrawinata, Direktur Ciputra Artpreneur.

Dalam adaptasi naskah panggung ini, Sureq Galigo menjadi dasar dari sebuah kisah yang menggambarkan petualangan perjalanan, peperangan, kisah cinta terlarang, pernikahan yang rumit, dan penghianatan. Elemen-elemen ini dirangkum sangat menarik, dinamik, dan ternyata masih memiliki relevansi dengan kehidupan modern zaman kini.

Sutradara pergelaran ini adalah Robert Wilson, sutradara kontemporer terbaik dunia dari Amerika. Penataan musik digubah oleh maestro musik Dr (musik) Rahayu Supanggah, dosen ISI Surakarta.

“Pergelaran ini akan berdurasi 2 jam dan sangat memukau karena tata cahaya dan tatapa panggung yang spektakuler,” papar Renitasari Adrian, Prpgram Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Restu Kusumaningrum dari Yayasan Bali Purnati menambahkan, sebanyak 10 kontainer seberat 4 ton kini sudah ada di Jakarta.

“Kami khusus mengangkutnya dari Nusa Dua, Bali dengan 3 truk melalui jalan darat. Kami sudah merasa plong karena semua properti I La Galigo ada di Milan, Italia. Kemudian, kami dari Yayasan Bali Purnati secara khusus meminta kepada Wakil Presiden bapak Jusuf Kala yang memang berasal dari Sulawesi Selatan dan ibu Sri Mulyani, Menko Ekuin Indonesia agar properti yang berserakan di Milan bisa diterbangkan ke Nusa Dua, Bali. Karena I la Galigo kala itu dipentaskan secara khusus berkelas dunia 0pada Annual Meetings IMF-Wolrd Bank Group 2018 di Bali.”ungkap Restu Kusumaningrum lagi.
Alhasil, setelah berpentas di sejumlah negara, antara lain Esplanade Theater di Singapura 2004, Lincoln Center di New York, USA, Amsterdam, Barcelona, Perancis, Taipei, Melbourne (Australia) dan di Milan (Italia), I la Galigo dapat dihelat di Benteng Rotterdam, Makassar.

“Delapan tahun kami melanglang ke banyak negara,dan akhirnya dapat digelar di Jakarta, tahun in,” demikian Restu Kusumaningrum.

Pantaslah The New York Times menulis ‘stunningly beautiful music-theater work,” saat I La Galigo menjadi pembuka pada Lincoln Center Festival, 2005. (pik)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *