Guru Besar Unair Paparkan Pentingnya Menjaga Cagar Budaya

 Guru Besar Unair Paparkan Pentingnya Menjaga Cagar Budaya

Prof.Dr. FIB Unair Purnawan Basundoro (foto:istimewa)

JAYAKARTA NEWS – Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga ( FIB Unair), Prof. Dr. Purnawan Basundoro, M.Hum meminta semua pihak untuk tetap menjaga kelestarian cagar budaya. Ia menyoroti, bahwa amat disayangkan ketika kemajuan zaman kemudian berdampak pada hilangnya peninggalan kebudayaan berupa cagar budaya.

“Cagar budaya itu kan menyangkut gedung lama. Sifat dari orang Indonesia yang menginginkan hal-hal baru, maka kemudian gedung tersebut (gedung cagar budaya, Red) dihancurkan,” tutur Prof. Purnawan, Senin(9/8) seperti dirilis web Kominfo Jatim.

Dikatakannya, Kebudayaan merupakan warisan dari anak-cucu kita. “Jadi bukan warisan untuk mereka yang kita beri dalam keadaan rongsokan misalnya. Justru ini adalah milik mereka yang harus kita rawat, sehingga Kitab Isa menghindari hal-hal yang meleset dari pengelolaan kebudayaan tidak terstandar (terawat, Red),” ungkapnya.

Lokasi cagar budaya yang strategis karena terkadang berada di tengah kota, menjadi hal yang menyebabkan para investor “menukarnya” dengan bangunan baru. Menyesali hal itu, Prof. Purnawan menyebutkan, seharusnya bangunan cagar budaya dapat dijadikan penanda sejarah.  “Misalnya kita mengaku bahwa umur Kota Surabaya sudah 728 tahun, tapi kita tidak memiliki bukti karena semua bangunan tua sudah dirobohkan,” jelasnya.

Oleh karena itu, sambungnya, kita harus arif untuk mengelola kelestarian cagar budaya di tengah situasi yang terus berkembang dan aspek global yang menekan. Bahkan menurutnya, justru aspek kebudayaan tersebut bisa ditawarkan kepada masyarakat global untuk memperlihatkan kekayaan kita dalam bentuk cagar budaya.  

“Jadi justru ada namanya paradoks globalisasi. Di tengah globalisasi justru kan sekarang banyak negara menawarkan aspek-aspek kelokalan. Sehingga kita harus hati-hati, jangan sampai kemudian tawaran sesaat terkait dengan isu global itu akan menghancurkan kekayaan yang bersifat lokal,” terang Prof. Purnawan.

Ditambahkan oleh Prof. Purnawan, bahwa terdapat dua sisi dari pembangunan yang berpotensi merusak cagar budaya. Karena di sisi lain, pembangunan tersebut memang dapat melayani kepentingan wisatawan global. “Tapi justru kontraproduktif, karena wisatawan datang ke Indonesia itu kan ingin melihat keunikan budaya yang berkembang di sini,” imbuhnya.

Terakhir, Prof. Purnawan berpesan bahwa kita harus arif dalam membuat berbagai kebijakan, agar tidak menjadi fatal. Itu bisa merugikan aspek-aspek yang nilainya bersifat jangka panjang,” pungkas Dekan FIB Unair tersebut. (poedji) 

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *