Bung Karno, Role Model Generasi Millenial

 Bung Karno, Role Model Generasi Millenial

Bung Karno, Putra Sang Fajar.

Oleh Said Achmad Kabiru Rafiie, SE, MBA, Dosen Ilmu Administrasi Negara, Universitas Teuku Umar, Aceh Barat

Tulisan ini, Saya persembahkan untuk Bapak bangsa Indonesia yang dilahirkan 6 Juni dengan julukan Putra Sang Fajar, proklamator kemerdekaan Republik Indonesia, seseorang yang telah mendedikasikan atau memberikan segenap hidupnya untuk Bangsa Indonesia, pemuda yang sejak duduk di bangku kuliah telah aktif memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari bangsa penjajah asing sehingga harus keluar masuk penjara dan hidup dalam pembuangan, pemuda yang dari balik jeruji penjara menulis pledoi Indonesia Menggugat yang disampaikan di depan hakim pengadilan Belanda 1930 di Bandung. Hari ini adalah hari kelahiranya 6 Juni 1901 dan jika saja beliau masih hidup hari ini tepat berumur 119 tahun.

Said Achmad Kabiru Rafiie, SE, MBA

Bung Karno sangat peduli tentang pemuda berikut ini kutipan pidatonya tentang pemuda “Berikan aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Gunung Semeru dari akarnya, beri Aku 10 pemuda niscaya akan kuguncang dunia”, pemuda yang dilukiskan oleh bung Karno yaitu pemuda yang hati dan jiwa bergelora tanpa henti-hentinya untuk perubahan, pemuda yang energik dan berdaya juang.

Bung Karno ingin menyampaikan sebuah makna perubahan yang lebih besar jika digerakkan dengan semangat pemuda. Dan dalam sejarah Bangsa pra kemerdekaan, pemuda telah memainkan peran penting dalam membangkitkan semangat nasionalisme terutama dengan kehadiran Budi Oetomo (20 Mei 1908) dan sumpah pemuda (28 Oktober 1928) yang menjadi tonggak penting bagi tumbuhnya semangat nasionalisme di Indonesia.

Lebih lanjut bung Karno menantang pemuda dengan bahasa yang lugas ‘Barangsiapa yang ingin mutiara, harus berani terjun di lautan yang dalam”. Hal ini menunjukan keinginan bung Karno untuk menjadikan pemuda Indonesia sebagi obor revolusi yang melahirkan semangat berjuang dan berkarya. Hal ini merupakan sebuah tantangan untuk pemuda untuk mencoba hal-hal baru seperti perumpamaan Bung Karno menyelam dalam laut yang dalam yang mungkin saja akan terlihat menyeramkan namun melahirkan keindahan karena mutiara dan ikan besar bermain di laut yang dalam. Dua kutipan tersebut menunjukan model pemuda Indonesia yang diinginkan oleh Bung Karno.

Kini setelah Bung Karno tiada, semangatnya tentang Indonesia tetap menyala dan hidup dalam Ideologi Negara yaitu Pancasila. Tanpa sebuah ideologi yang bisa menyatukan semua golongan, mungkin hari ini bangsa Indonesia tidak bisa hidup dengan rukun dan tenang serta terpecah belah. Kita melihat konflik sekterian dan agama di timur tengah seperti di Suriah, Lebanon, Sudan, dan Yaman yang tidak berkesudahan yang setiap golongan mengklaim paling benar.

Pancasila yang menjadi dasar bernegara di Indonesia memberikan ruang yang sama bagi pemeluk agama dan kepercayaan untuk melaksakaan ibadahnya sesuai dengan keyakinan masing-masing. Soekarno menitipkan Pancasila untuk bangsa Indonesia untuk menjadi penengah atau pemersatu yang dapat diterima oleh semua anak bangsa dari Barat ke Timur, selatan dan Utara. Dengan lima prinsip dasar dalam Pancasila tersebut bangsa Indonesia dapat menyatu dalam suasana rukun dan damai.

Era Millennial

Istilah millennial menjadi tidak asing lagi didengar dalam percakapan saat ini, Istilah ini diciptakan oleh dua pakar Sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe yang dikonotasikan dengan generasi yang terlahir pada era 1980-1990 dan awal 2000 yang ditandai dengan generasi yang paling dekat dengan teknologi. Secara nasional, persentase millennial di Indonesia sebanyak 33,75% dari 260 juta penduduk.

Bung Karno menjadi role of model bagi pemuda dalam melayani bangsanya. Karakterik millennial Indonesia yang sangat akrab dengan teknologi yang setiap saat informasi dapat diterima hanya dalam gengaman tangan. Sehingga dibutuhkan sosok yang dapat menjadi panutan dalam melayani bangsa dan Negara.

Bung Karno yang terlahir dari keluarga yang plural yang memiliki ayah yang bersuku Jawa dan Ibu yang bersuku Bali dan pada saat muda, Bung Karno pernah tinggal kos di rumah tokoh islam HOS Cokroaminoto di Surabaya, Jawa Timur yang merupakan pusat organisasi Islam Nahdatul Ulama dan menempuh kuliah di Bandung sebagai kota yang modern pada saat itu yang terkenal dengan gaya arsitekturnya yang mendapatkan julukan Paris Van Java. Sifat plurasime juga ditunjukan saat menikahi putri tokoh besar Muhammadiyah Bengkulu dari Pulau Sumatera yaitu Ibu Fatmawati sebagai first lady Indonesia.

Sehingga kehidupannya yang sangat majemuk dan blended menjadikan bung karno memahami berbagai perpektif agama, budaya dan latar belakang daerah. Bung Karno sosok yang sangat gemar membaca sehingga tidak salah jika selama menjadi presiden menerima gelar doctor honoriscausa (HC) sebanyak 26 buah perguruan tinggi dunia termasuk diantara Colombia University (24 Mei 1956), Amerika Serikat, Michigan University (27 Mei 1956) , Amerika Serikat, McGill Kanada, (8 Juni 1956), Istambul University , Turki (1959), Lomonov University Uni Soviet (1956), Brazil University (1959) , hingga mendapatkan gelar doktor ilmu filsafat al azhar university, kairo, Mesir 24 April 1960. Tidak ada tokoh bangsa Indonesia yang sampai saat ini yang keilmuanya diapresiasi begitu besar dari berbagai Universitas dunia. Dan lebih menariknya gelar HC tersebut didapat dari berbagai lintas ilmu dari Universitas lintas benua.

Menjadikan Bung Karno sebagai idola bagi millennial Indonesia merupakan salah satu cara kita untuk melihat kembali apa saja yang telah kita lakukan untuk negara ini . Bung Karno dalam perjuangan untuk membuat Indonesia merdeka, telah terbiasa keluar masuk penjara Belanda hingga hidup dalam pembuangan bertahun-tahun di daerah terpencil yang jauh dari keluarga dan teman dan pengikutnya. Disaat pandemic covid-19 ini, kita juga dapat merenung kembali kehidupan pembuangan yang dirasakan oleh Bung Karno yang dibatasi ruang geraknya oleh Belanda.

Mengutip pidato Presiden Amerika Serikat John F Kennedy saat dilantik menjadi presiden ke 35, 20 Januari 1961, “Jangan tanyakan apa yang telah negara berikan kepadamu, namun tanyakan apa yang telah kamu sumbangkan untuk negara mu”. Apa saja di usia kita saat ini sumbangan yang telah kita curahkan untuk negara ini yang telah diperjuangan oleh pendahulu kita termasuk Bung Karno. Ataukah kita hanya mengeluh kesah dengan setiap keadaan yang ada dan menyalahkan keadaan.

Hari ini, izinkan kami sebagai generasi millenial untuk mengucapkan Selamat hari kelahirannya Bung Karno, sosok penyambung lidah rakyat, semoga semangat gotong-royong yang menjadi intisari dari kehidupan berpancasila dalam bergelora di lubuk hati.***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *