Bantuan  Datang, Alika Batik Siap Bersaing di Pasar Global

 Bantuan  Datang, Alika Batik Siap Bersaing di Pasar Global

Ema Siti Asma dan beberapa produk fashion Alika Batik, usahanya, di Galeri Mini di rumahnya, Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: Istimewa)

JAYAKARTA NEWS – Bagai tanah kering yang merindukan air,  begitulah kondisi Alika Batik milik Ema Siti Asma di Tasikmalaya.  Maka ketika bantuan Pertamina mengucur, usahanya yang nyaris mati, bisa bangkit kembali. Apalagi saat itu disusul dengan banyaknya pesanan.

“Alhamdulilah, bantuan Pertamina datang tepat waktunya. Waktu itu modal saya sudah mau habis. Bahkan sudah nggak jelas, mana modal, mana uang sehari-hari.  Semua dipakai untuk kebutuhan rumah tangga, bayar uang sekolah dan lainnya.”

Begitulah penuturan perempuan yang akrab dipanggil Ema kepada Jayakarta News. Dua kali berbincang dengan Ema, Selasa (11/10) dan Kamis (13/10), sangat terasa rasa syukurnya menjadi Mitra Binaan Pertamina. 

Alika Batik memang belum lama menjadi Mitra Binaan Pertamina. “Baru sekitar tiga bulan,” katanya. Tetapi dalam tiga bulan ini, Ema sangat bersyukur, Alika Batik  sudah bisa mengambil pesanan seragam sekolah dari tingkat SD hingga SMA dari sekolah yang berlokasi di Bandung.

Beberapa produk fashion Alika Batik di Galeri Mini milik Ema di Gg. Pesantren Al Goffar, Tasikmalaya. (Foto: Istimewa)

Bukan hanya itu, kalau biasanya Ema membeli batik yang sudah jadi dari pabriknya. Kini Ema berani kerja sama dengan pabrik pembuat batik tersebut.  “Saya bawa bahan dasarnya ke pabrik itu, lalu minta dibuatkan dengan motif dan warna yang saya inginkan, atau dengan motif yang ada di pabrik tetapi dengan warna yang saya mau.  Jadi saya hanya bayar upah tenaganya saja,” papar Ema semangat.   

Hidup Bersama Batik Sejak Kecil

Bagi Ema Siti Asma, batik sudah menjadi bagian hidupnya sejak kecil. Perempuan yang lahir pada 4 Agustus 1973 ini, tumbuh dan besar di lingkungan pekerja pembuat batik yaitu di Gg. Pesantren Al Goffar, Tasikmalaya.  

Di wilayah tempat tinggal Ema, terdapat banyak pabrik pembuat kain warisan budaya Indonesia ini. Namun saat itu, batik yang diproduksi belum dikemas dalam bentuk fashion yang menarik.

Keluarga Ema pun, orang tua dan saudaranya juga membuka usaha batik. “Satu keluarga saya, turun temurun juga bikin batik,” ujarnya.

Ema mempersiapkan kain-kain batik untuk dipasarkan (Foto: Istimewa)

Batik yang diproduksi keluarganya, juga hanya berupa helai-helai kain, tidak dikemas dalam bentuk pakaian jadi. Kain batik itu pun dipasarkan ke berbagai tempat. 

“Kain Batik itu sebenarnya sangat indah, cantik-cantik, tetapi sayangnya monoton,” ujar Ema mengenai kain yang merupakan warisan budaya Indonesia ini.

“Saya pikir, mungkin karena memang dibuat untuk ibu-ibu atau orang tua saja, makanya batik itu hanya berupa kain saja. Tidak dijadikan fashion,” ujarnya lagi.  

Selain tampilan yang monoton,  Ema juga merasakan bahwa pemasaran kain-kain tersebut, cukup sulit. “Kalau sudah jadi, kita jual ke pasar-pasar atau kita tawar-tawarin ke pelosok dan ke pedesaan.”

Sehingga, Ema berkesimpulan tidak mudah kalau mau usaha batik seperti yang dilakoni keluarganya. “Selain hanya untuk orang tua, jualnya juga cape, musti bawa-bawa ke pelosok.”   

Maka suatu saat, sebelum ibunya meninggal pada Februari 2007, ibunya pernah bertanya kepada Ema dan para saudaranya, apakah ada di antara mereka yang mau meneruskan usaha batik keluarga itu. Ternyata,  tak satu pun yang mau meneruskan usaha batik orang tuanya.  

Ema dan produk fashion Alika Batik (Foto: Istimewa)

“Karena tidak ada yang mau meneruskan, semua ‘alat cap’ batik  dijual ibu. Mungkin itu tadi, karena pada mikirnya kok berat ya mau usaha batik, makanya tidak ada yang mau,” kisah Ema, bungsu dari delapan bersaudara ini.

Namun dalam perjalanan waktu, beberapa tahun setelah kepergian sang bunda, sikap Ema dan saudaranya berubah. Diawali dari saudara laki-laki tertua.

“Beberapa tahun setelah ibu meninggal, kaka laki-kaki tertua ingin membuka bisnis batik lagi. Memang harus dimulai dari nol. Bikin pabriknya lagi dan beli alat-alatnya,” kisah Ema.

Semangat kakanya pun menular ke saudara yang lain. “Kemudian, kaka perempuan nomor tiga yang tinggal di Jakarta,  juga ingin membuka usaha batik.”  

Usaha batik di Jakarta pun dibuka. Bisnis batik di Jakarta berjalan cukup lancar. Kakanya menjual batik yang sudah dikemas dalam bentuk fashion.  “Nah, kaka saya ini bisnis batiknya sudah dikemas dalam bentuk fashion. Selain menjual kain batiknya, dia menerima pesanan baju-baju batik. Awalnya yang pesan, teman-teman kantornya. Kemudian, merembet ke yang lain,” kata Ema.

Ema bersemangat ketika menuturkan bahwa keluarganya kembali bergairah menjalankan usaha batik. Gairah itu pun menular ke diri Ema. Keinginannya untuk mengembangkan warisan budaya leluhur ini pun tumbuh kembali dan dia mewujudkannya dengan semangat. “Melihat usaha yang di Jakarta, ada fashionnya, saya terinspirasi ingin membuat fashion dari batik juga,” tuturnya.

Ema bersama putrinya, Alika. Nama putrinya ini yang dipakai untuk usahanya, Alika Batik. (Foto: Istimewa)

Maka pada sekitar September 2013, Ema mulai melangkah memasuki dunia usaha batik dengan nama, Alika Batik. “Saya mulai memberanikan diri membuka usaha batik yang saya kemas dalam bentuk fashion,” ujar Ema semangat.

Nama ‘Alika’ diambil dari nama anak ketiganya, si bungsu. “Alika itu artinya membawa kebahagiaan keluarga. Saya berharap usaha ini bisa menjadi kebahagiaan keluarga kami,” tutur Ema mengenai nama usahanya itu.

Diawali dari Mukena    

Mengawali usahanya, Ema membuat Mukena dari Batik. “Kebetulan saya senang mukena batik,” katanya. Produk pertama Alika Batik ini pun dipasarkan Ema melalui media sosial, Facebook (FB) Alika Batik.  

“Waktu saya masukin ke FB, ternyata nggak lama, mukena saya ada yang lirik dan laku. Harganya 150 ribu rupiah. Kalau sekarang satu mukena harganya 250 ribu rupiah,” kisah Ema dengan senang.

Ema pun melakukan inovasi dalam promosi produk.  Bukan hanya melalui FB, juga  melalui Instagram (IG), @alikabatik. Dia juga berinovasi untuk model produknya.

Produk fashion Alika Batik diawali dari mukena batik (Foto: Istimewa)

Ema mencoba membuat fashion untuk  segala usia.  “Saya pikir, kenapa tidak coba membuat  fashion yang bisa digunakan semua usia. Tidak hanya untuk wanita, tetapi juga pria. Tidak hanya untuk dewasa, tetapi juga  untuk anak-anak.”

Ema mulai memperhatikan model-model pakaian yang ada.  Jika ada yang menarik, maka ia meniru model tersebut. Fashion yang dibuatnya ada yang dikombinasikan dengan bahan polos.

“Alhamdulilah, ternyata setelah saya masukin FB, banyak yang suka. Dari satu yang pakai, karena suka, lalu dipost sama yang beli, terus malah jadi ngerembet, alhamduliah, jadi banyak yang suka,” tuturnya gembira.  

Selain melalui media sosial, Ema juga membuaka galeri mini di rumahnya, Jalan Cigeureung, Gang Pesantren Al Gofar No. 4, Kecamatan Indihalang, Tasikmalaya. “Saya memanfaatkan tempat yang ada di rumah. Jadi saya bikin galeri mini di rumah saja,” ujarnya.   

Ema sebagai pemilik Alika Batik, menjalankan bisnisnya bekerja sama dengan perusahaan manufaktur (pabrik). “Namanya sistem maklon. Saya membawa bahan-bahan yang dibutuhkan dan dibuat di pabriknya sesuai dengan permintaan saya. Baik motif, warna dan lainnya yang saya inginkan.  Jadi saya hanya bayar upah tenaga saja,” ujar Ema lagi.

Saat ini, batik yang telah di buat Ema ada yang menjadi kemeja, tunik, gamis, maupun mukena. Produknya itu dibandrol dengan harga bervariasi. Untuk fashion harga dimulai dari Rp 150.000 hingga Rp 500.000. “Tergantung bahan kain batik dan tingkat kesulitan produk jenis apa yang dipakai,” jelasnya.

Bersama Ida Nurlela (duduk), rekan kerja dengan sistem maklon (Foto: Istimewa)

Sementara untuk kain batik, mulai dari Rp.80.000 (kain batik satu warna) hingga Rp 1.000.000 (kain batik tulis).

Pelanggan Salah Sambung     

Pelanggan Ema terus bertambah. Bahkan ada yang menjadi pelanggan karena salah sambung. Dia seorang dokter gigi. “Dia hubungi saya, waktu itu masih jamannya BB (BlackBerry). Dikiranya saya  yang jualan di pameran, padahal saya nggak ikut di pameran itu. Pameran cukup besar di Jakarta,” kisah Ema.

Bagi Ema, ada pesan salah sambung itu menjadi kesempatan untuk berpromosi. “Saya bilang gini, mba kalau mau batik, saya juga jualan batik. Jadi saya tawarin aja produk saya. Mukena sama kain. Kebetulan dia senang mukena batik,” kata Ema sambil tertawa.  

Gayung bersambut, wanita itu pun tertarik dengan mukena buatan Alika Batik dan memesannya cukup banyak. “Alhamdulilah, jadi pelanggan sampai sekarang. Namun, begitu masuk masa pandemi, dia sudah jarang pesan,” ujar Ema lagi.

Jika pelanggan mukena diawali dari salah sambung. Beda kisah dengan pelanggan pertama untuk fashion. “Produk fashion pertama saya dibeli oleh seorang wanita cantik yang berprofesi sebagai notaris. Saya memanggilnya, Mba Notaris,” ujar Ema sambil tertawa.

Pelanggan pertama fashion Alika Batik (Foto: Istimewa)

Di tengah harap-harap cemas ketika memasarkan batik fashion sebagai produk awalnya, Ema bersyukur ada yang tertarik dan membelinya. Bahkan sampai sekarang Mba Notaris yang dimaksud Ema itu, tetap menjadi pelanggan setia Alika Batik.

“Mba Notaris ini cantik dan pinter mengkombinasikan model. Setiap model yang dipesan, pasti dia post dan bisa jadi trendnya Alika Batik,” ujar Ema senang.

Ema selalu mengatakan, kalau Mba Notaris yang berasal dari Kalimantan Tengah ini adalah model gratisnya Alika Batik. “Dari Mba Notaris ini, saya mendapat pelanggan lainnya. Alhamdulilah, keluarganya, teman-temannya juga ikut pada pesan di Alika Batik,” tutu ibu dari tiga anak ini lagi.

“Bahkan, tetangganya pernah pesan gaun pengantin batik dari saya,” kata Ema dengan semangat.        

Namun, ketika Covid-19 melanda, mengubah banyak hal. Termasuk usaha Ema. Penjualan Alika Batik pun mengalami penurunan. “Omzet usaha saya turun hingga dua kali lipat dari biasanya,” ujar Ema.

Menjadi Mitra Binaan Pertamina

Di tengah usaha dan penjualan yang tidak menentu itulah Ema  mengajukan usahanya untuk menjadi Mitra Binaan Pertamina. Sambil menunggu jawaban dari Pertamina, Ema terus bertahan dan mencoba berbagai cara agar Alika Batik tetap berjalan.

Ema berusaha berinovasi dalam produk dan pemasaran. Namun, modal yang sangat dibutuhkan saat pandemi, semakin menipis. “Bahkan sudah tidak menentu. Bercampur dengan keuangan keluarga. Sudah tidak jelas, mana modal dan mana uang sehari-hari,” katanya mengingat kondisi Alika Batik yang mulai megap-megap sebelum menjadi Mitra Pertamina.

Tetapi Ema terus bersyukur, di saat-saat demikian, usahanya bisa bertahan walaupun berat. “Saya bersyukur di masa pandemi, bisa bertahan. Sementara banyak UMKM lain yang banting setir, alhamdulilah saya tidak sampe nol,” tuturnya.

Di saat-saat penuh harap itu, bantuan datang.  Alika Batik pun menjadi mitra binaan Pertamina. Tentu saja ini menjadi titik terang bagi usaha Ema di masa pandemi dengan adanya suntikan modal dari Pertamina.  

Tidak hanya mendapatkan penambahan modal sebagai bagian dari Mitra Binaan Pertamina, Ema juga mendapatkan pelatihan-pelatihan. Hingga mendatangkan orderan seragam umroh dan seragam sekolah dalam jumlah besar.

“Luar biasa saya senangnya menjadi Mitra Pertamina. Saya bisa terima orderan bikin seragam,” ujarnya dengan gembira. 

“Saya berharap bisa  terus berpartisipasi dalam kegiatan yang Pertamina buat seperti pelatihan, pameran, bazar offline maupun online dan lainnya,” kata Ema lagi.

Aneka kain batik dari Alika Batik (Foto: istimewa)

Ema mengungkapkan harapannya sebagai Mitra Pertamina agar mendapatkan kesempatan untuk ikut pameran di Jakarta. “Pengen banget bisa ikut pameran Pertamina di Jakarta,” kata Ema berharap.

Bersaing di Pasar Global  

Harapan Ema ini, katanya, agar dapat mendorong usahanya bisa bersaing di pasar global. “Saya siap kerja keras untuk bersaing di pasar global,” katanya dengan semangat.

Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR Jawa Bagian Barat, Eko Kristiawan menjelaskan bahwa untuk dapat bersaing di pasar global perlu kerja keras dan pemilik usaha harus terus berinovasi baik dari segi pemasarannya maupun produk yang di jual.

“Hal ini memang tidaklah mudah, mengingat perkembangan zaman dari tahun ke tahun yang semakin cepat dan serba digital (contohnya) tentunya merubah kebiasan para pemilik usaha konvensional untuk belajar agar dapat menjual produknya hingga mancanegara,” jelas Eko dalam keterangan tertulis yang diterima Jayakarta News, Minggu (9/10/2022).

Program sebagai Mitra Binaan Pertamina juga bertujuan untuk terus mengimplementasikan poin 8 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi. Selain SDGs, Pertamina juga berupaya menjalankan Environmental, Social and Governance (ESG) di bidang sosial. Dengan cara ini, Pertamina yakin dapat senantiasa menghasilkan manfaat ekonomi di masyarakat sesuai dengan tanggung jawab lingkungan dan sosial.

Eko menambahkan, bagi mereka yang ingin menjadi Mitra Binaan Pertamina, syarat untuk dapat bergabung dapat dilihat pada https://www.pertamina.com/id/program-kemitraan.  

Alika Batik kini telah menjadi Mitra Binaan Pertamina. Kesempatan mengembangkan usaha dan bersaing di pasar globar sudah terbuka. Sebagaimana arti nama dari Alika yaitu memberikan kebahagiaan, maka itulah yang diharapkan Ema Siti Asma. “Saya bangga bisa ikut melestarikan warisan budaya Indonesia ini melalui Alika Batik. Saya berharap semoga ada kesempatan untuk pameran-pameran agar Alika Batik semakin berkembang dan bisa bersaing di pasar global,” tutur Ema sambil berbisik, “Amiin.”***(Melva Tobing)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.