Fam Trip Nias Selatan, Dari Lompat Batu Sampai Batu Megalit

 Fam Trip Nias Selatan, Dari Lompat Batu Sampai Batu Megalit

Putri Pariwisata Sumut 2022, Elma Hana Hasibuan saat mengikuti tarian Moyo di Batu Megalit di Desa Lahusa Idanotae, Tundrumbaho. (Foto. Disbudpar Sumut)

JAYAKARTA NEWS – Fam Trip atau Familiarization Trip merupakan perjalanan untuk memperkenalkan destinasi-destinasi wisata di suatu daerah. Ini salah satu langkah promosi pariwisata. Seperti yang dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Sumatera Utara yang melakukan Fam Trip ke Nias Selatan, 25-28 Oktober 2022.

Peserta rombongan Fam Trip berjumlah 26 orang. Dari Disbudpar Sumut antara lain Dedi Arian Rizki Siregar, S.STP, Kepala Seksi Promosi Pariwisata, Novita Rahayu, S.Par, Septiana Perdana, Afdal Hadi Matondang, Martina Sanova Purba, Putri Pariwisata 2022, dan Elma Hana Hasibuan. Peserta lain di antaranya pelaku pariwisata dari ASPPI, HPI, media TV, Elektronik, fotografer dan content creator. 

Melalui penerbangan Citilink IW 1269 rombongan Fam Trip berangkat dari Bandara Kualanamu pukul 10.20 WIB. Tiba di bandara Binaka Nias pukul 11.20 WIB, lanjut menuju rumah makan yang tidak jauh dari bandara. Usai makan langsung menuju destinasi pertama, Desa Wisata Hilisimaetano. Perlu waktu perjalanan sekitar tiga jam di tengah guyuran hujan.

Salah satu peserta bernama Thomas Ginting. Ia ternyata seorang content creator yang sudah 4 kali mengikuti Farm Trip Disbudpar Sumut. “Awalnya saya tahu di IG Disbudpar Sumut yang sedang mencari sepuluh content creator. Saya mendaftar, ternyata lolos. Yang pertama saya ikut Fam Trip ke ke Tangkahan, disusul Langkat dan Nias Selatan 2 kali,” ujar Thomas kepada Jayakarta News.

Setelah Fam Trip, video-videonya pun ditayangkan di Instagram Thomas Ginting. “Artinya saya siap turut serta mempromosikan dan ikut berperan dalam pengembangan pariwisata Sumut,” ujarnya.

Rombongan Fam Trip foto bersama dengan masyarakat desa wisata Hilisimaetano, Nias Selatan. (Foto. Disbudpar Sumut)

Lompat Batu

Tiba di Desa Wisata Hilisimaetano, rombongan disambut Kabid Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata Liberty fau, Kabid Pemasaran Yan Prince Laoli dan perangkat desa serta masyarakat. Sebuah tarian selamat datang menyambut mereka. Tak lama, satu per satu peserta mendapatkan topi hasil kerajinan masyarakat desa Hilisimaetano.

Yang menarik adalah atraksi lompat batu yang sudah kesohor. Atraksi yang tak kalah menarik lainnya adalah Famadaya Harimao, Maluaya (Tari Perang) dan lainnya. Famadaya Harimao (Lawölö Fatao) adalah ritual tolak bala dan penetapan hukum-hukum adat yang berlaku di Desa Hilisimaetanö dan daerah sekitar.

Usai menyaksikan atraksi wisata budaya di Desa Hilisimaetano, peserta melakukan foto bersama dengan membentangkan spanduk Fam Trip Nias Island 2022. Saat pengambilan video pendek, mereka bersama-sama mengucapkan, “Mari berwisata DiSumutAJA”.

Rombongan pun menuju Baga Resort Hotel yang terletak di Jalan Lagundri Km. 12, Desa Laundri, Kec. Luahagundre Maniamolo, Kab. Nias Selatan, untuk istirahat.

Lompat batu merupakan warisan dari suku Nias yang hingga kini masih ada. (Ilustrasi oleh Muhammad Lazuardi)

Batu Megalit

Hari kedua, rombongan Fam Trip menuju Situs Batu Megalit di Desa Lahusa Idanotae, Tundrumbaho. Tiba di sana pukul 11.30. Pimpinan Fam Trip, Shan Ilano dari HPI Sumut mengajak peserta makan terlebih dahulu sebelum menuju situs Batu Megalit.

Usai makan, rombongan berjalan kaki sekitar 15 menit menyusuri jalan menanjak. Di beberapa bagian yang terjal, jalanan dibuat undak-undakan. Tiba di lokasi, rombongan disambut Tari Elang (Tari Moyo). Tarian itu merupakan bagian dari ritual sebelum berkunjung ke situs Batu Megalit.

Menurut penelitian yang dilakukan Balai Arkeologi Medan melalui analisis metode carbon dating, situs ini tercatat antara 460 – 220 tahun yang lalu. Situs bersejarah ini, sejak tahun 2021 sudah mulai ditata, agar semakin banyak wisatawan domestic dan manca negara berkunjung ke sana.

Situs Batu Megalit di Desa Lahusa Idanotae, Tundrumbaho. (foto: jadesta.kemenparekraf.go.id)

Usai meninjau Situs Batu Megalit, rombongan melanjutkan perjalanan darat menuju Desa Wisata Hilinawalo Fau Batu Salawa, Kecamatan Fanayama. Jalur yang berliku tajam, diseling sejumlah tanjakan terjal, menjadikan perjalanan terasa lebih eksotik.

Setelah dua jam perjalanan, rombongan tiba di lokasi, dan kembali disambut tarian adat. Rombongan juga dijamu kuliner lokal seperti, babahe, nasi yang dimasak dengan periok tanah. Ada kolak, lepat ubi, air minum daun pepaya dan lainnya.

Desa Hilinawalo Batusalawa merupakan satu dari empat desa yang masih memiliki Omo Nifolasara (Rumah Adat Besar dengan hiasan kepala lasara yang merupakan rumah tempat tinggal Si’ulu). Keberadaan Omo Nifolasara yang sudah berusia sekitar 10 generasi ini terbilang unik, dan memberi daya tarik tersendiri bagi siapa pun yang datang berkunjung.

Selain itu, Desa Hilinawalo Batusalawa menjadi salah satu dari sedikit desa-desa adat di Nias yang masih memiliki kelengkapan elemen-elemen desa adat khas Nias Selatan seperti: Gerbang desa (Bawagoli), Susunan batu yang menjadi poros desa (Iri Newali), Batu pusat desa (Fuso Newali/Fuso Banua), Tugu lompa batu (Hombo batu), Situs musyawarah adat (Ewali Orahua), Rumah raja (Omo Nifolasara), Pancuran batu tempat pemandian umum (Hele), dan sebagainya.

Desa Hilinawalo Fau/Hilinawalo Batusalawa merupakan desa adat karena selain dikelola berdasarkan prinsip hukum administrasi negara, juga diatur menurut hukum adat lokal yang telah berlaku selama ratusan tahun, dan mengambil wujud dalam relasi antara Si’ulu (Bangsawan), Si’ila (Kaum cerdik pandai) dan Sato (Masyarakat).

Pantai Shorake

Pulang dari Hilinawalo Fau, rombongan menuju ke penginapan. Makan malam digelar di Pantai Shorake. Shorake adalah pantai yang bersebelahan dengan pantai Lagundri yang legendaris. Kawasan pantai yang satu ini, terkenal dengan ombaknya yang besar sehingga sangat cocok untuk kegiatan berselancar. Setiap tahun banyak wisatawan terutama wisatawan manca negara berselancar di pantai ini.

Museum Pusaka Nias. (foto: museum-nias.org)

Museum Pusaka

Hari ketiga, peserta Fam Trip Disbudpar Sumut bergeser Gunungsitoli. Sebelumnya, mereka singgah ke Walo Green Beach dengan jarak tempuh setengah jam. Puas menikmati pantai dengan berfoto-foto, rombongan menempuh perjalanan dua jam menuju Miga Beach Hotel di Kota Gunungsitoli.

Usai makan siang beteman desiran ombak, rombongan menuju Museum Pusaka Nias di Jalan Yos Sudarso Ujung No.134-A, Iraonogeba, Kec. Gunungsitoli, Kota Gunungsitoli. Hujan kembali turun sesaat setelah tiba di dalam area museum.

Museum Pusaka Nias dikelola oleh Yayasan Pusaka Nias yang bersifat sosial dan nirlaba. Kegiatan utamanya berfokus pada pelestarian budaya Nias. Yayasan Pusaka Nias didirikan oleh Pastor Johannes Hammerle yang telah bekerja di Nias sejak tahun 1971.

Museum ini dijadikan basis kegiatan pelestarian budaya Nias mulai dari pengumpulan berbagai artefak budaya Nias, hingga pameran artefak. Selain itu juga untuk penelitian, termasuk penerrbitan buku budaya Nias.

Masih banyak kegiatan lain yang dilakukan Museum Pusaka Nias. Di antaranya, mendampingi masyarakat desa adat dalam merehabilitasi rumah-rumah adat dan situs megalit di Kepulauan Nias. Termasuk, merevitalisasi seni tari dan musik tradisional. Tidak hanya merevitalisasi tetapi juga mengadakan pertunjukkan tari dan musik melalui sanggar.

Para peserta Fam Trip foto bersama di Walo Green Beach. (Foto. Yudha Bahar)

Pentahelix

Malam harinya, rombongan Fam Trip mendapatkan cenderamata dari Dedi Arian Rizki Siregar, S.STP, Kepala Seksi Promosi Pariwisata dari Disbudpar Sumut. Sebelumnya, Dedi Arian menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk promosi sekaligus pengenalan destinasi wisata yang dilakukan secara penthahelix.

Kolaborasi pentahelix adalah sebuah kerja bersama yang melibatkan banyak unsur terkait, di antaranya pemerintah, unsur masyarakat, akademisi, pengusaha, dan media.  “Komitmen dan sinergi antar unsur menjadi kunci utama,” tambahnya.

Kepada para travel agent, Dedi mempersilakan bikin kemasan paket wisata ke Nias. Kepada media, ia juga meminta bantuannya dalam memasarkan pariwisata Nias pada khususnya, dan Sumatera Utara pada umumnya.

Dalam kesempatan itu, salah seorang pelaku pariwisata dari DPD ASPPI Sumut Achmad Fauzi Lubis SE yang juga owner PT. Fauzi Haya Tour and Travel mengatakan baru pertama kali ikut Fam Trip Disbudpar Sumut. “Sebagai operator saya dan teman-teman ASPPI akan mengemas paket wisata ke destinasi-destinasi yang dikunjungi, untuk dipasarkan ke wisman dan turis lokal,” ujar Fauzie. (Monang Sitohang)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.