Balada Oplet Tua

 Balada Oplet Tua

Oplet tua koleksi Museum Transporasi, Taman Mini Indonesia Indah. (foto: monang sitohang)

Jayakarta News – Salah satu jenis angkutan umum yang legend di Ibukota Jakarta adalah opelet, atau oplet. Hingga tahun 70-an, oplet masih jadi moda transportasi paling populer. Hingga tahun 80-an, masih bertahan. Kini nyaris tinggal kenangan.

Sampai-sampai penyanyi balada legendaris Iwan Fals menuangkannya ke dalam sebuah lagu “Barang Antik”. Sepenggal liriknya:

Berjalan tersendat di antara sedan-sedan licin mengkilat/dengan warna pucat dan badan penuh cacat sedikit berkarat/Hai, oplet tua dengan bapak supir tua/cari penumpang di pinggiran ibukota/sainganmu mikrolet, bajaj, dan bis kota/kini kau tersingkirkan oleh mereka…

Lagu ini populer tahun 80-an. Iwan Fals menggambarkan bagaimana oplet mencoba bertahan di zamannya, hingga oplet menjadi ‘barang antik’ tahun 2000-an. Saat ini, nyaris tinggal kenangan. Sosoknya hanya bisa dilihat di museum dan garasi-garasi kolektor mobil.

Salah satu museum yang memajang oplet adalah Museum Transportasi Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. Saya pun jadi tertarik mengulik oplet lebih dalam.

Sejarah Opelete

Oplet adalah produk Opel, salah satu perusahaan otomotif Jerman. Opel sendiri awalnya memproduksi mesin jahit. Perusahaan ini baru memproduksi mobil tahun 1899 setelah bermitra dengan Friedrich Lutzmann.

Kemudian  di tahun 1932 Opel kembali merilis mobil berkapasitas 7 orang bernama Opelette. Nah, mobil inilah yang masuk ke Indonesia yang dipasarkan oleh Lindeteves Stokvis. Opelette atau biasa disebut Opelet atau oplet (yang berarti “Opel kecil”) adalah nama pemberian Mr. J.Th  GC Van Buuren pegawai General Motors Hindia Belanda.

Kemudian di tahun 1935 oplet beroperasi pertama kali di wilayah Jakarta Timur sebagai angkutan moda transportasi umum dengan rute Jati, Cijantung, Cibubur, Cilangkap, Cisalak dan lainnya.

Oplet koleksi Museum Transportasi Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. (foto: monang sitohang)
Museum Transportasi, Taman Mini Indonesia Indah. (foto: monang sitohang)

Bentuk oplet buatan Jerman ini  seperti mobil pick up, lalu dengan bakat kreativitas tangan seakan ditambah kap sampai belakang dengan bahan kayu. Dan pintu oplet ini ada tiga, yaitu satu pintu di bagian belakang untuk masuk dan keluar penumpang, lalu di depan ada dua pintu, yakni kanan dan kiri. Yang satu buat supir, satu lagi bisa duduk di samping supir. Jadi jumlah penumpang oplet umumnya muat untuk 10 orang.

Bentuk oplet unik, karena hampir seluruh badan terbuat dari kayu. Begitu juga jendelanya. Untuk menutup dan membuka, tinggal mengangkat atau menurunkan. Sedangkan jendela tidak terbuat dari kaca atau plastik, melainkan dari kayu dan semacam kulit sehingga tidak transparan.

Tangki bensin oplet ini ada di bagian dalam, persis di antara kaki penumpang. Sedangkan lampu sein oplet berada di luar sisi kanan dan kiri dan klaksonnya berada bagian luar, untuk menggunakannya harus dipencet karena terbuat dari karet.

Setelah memasuki era tahun 1950 oplet mendapatkan izin trayek secara resmi dan mulai beroperasi hampir di seluruh wilayah Jakarta. Orang-orang pada masa itu selain menyebut oplet, ada yang menyebutnya Auto-pet dan ostin.

Di zamannya oplet cukup menjadi primadona, melayani rute-rute yang tidak dilalui bus. Jadi oplet sangat berjasa di era itu. Maka sekitar tahun 1960 – 1970 oplet menjadi angkutan umum paling populer. Dan  biasanya pemilik oplet saat itu oleh pengusaha kecil, yang mereka sewakan kepada para supir dengan tarif Rp 1.000 sampai dengan Rp. 1.500 per hari pada akhir dekade 1960-an.

Sampai di tahun 1979 Gubernur DKI Jakarta dijabat Tjokropranolo saat itu mengeluarkan kebijakan untuk menghapus oplet dari Ibukota dan menggantikannya dengan angkutan umum yang lebih modern bernama Mikrolet.

Oplet Si Doel

Mobil jenis ini naik daun lagi bersamaan dengan melambungnya sinetron Si Doel Anak Sekolahan  yang diperankan aktor kawakan Rano Karno dan ditayangkan RCTI sekitar tahun 1990-an.

Kisah sinetron ini bercerita tentang keluarga Betawi yang masih memegang teguh nilai-nilai tradisional ditengah laju modernisasi Ibukota Jakarta. Oplet menjadi ikon dalam serial sinetron tersebut. Tak jarang Si Doel menarik oplet untuk memenuhi kebutuhan kuliah. Ketika wisuda, keluarga Si Doel pun berangkat ke kampus naik oplet yang dikemudikan Mandra.

Itulah sepenggal cerita dan kisah tentang oplet. Tahun 1999 oplet yang berbasis mobil Morris Minor Traveller 100 keluaran tahun 1957 ini, mulai menjadi salah satu benda koleksi bersejarah milik Museum Transportasi di TMII. (Monang Sitohang)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *