“Bahaya BPA”, Data Para Ahli Dunia Terus Bertambah

 “Bahaya BPA”, Data Para Ahli Dunia Terus Bertambah

JAYAKARTA NEWS – Ketua Perkumpulan Jurnalis Peduli Kesehatan dan Lingkungan (JPKL), Roso Daras menyampaikan hasil penelitian terbaru mengenai bahaya BPA. Hasil penelitian itu dipublikasikan melalui jurnal kesehatan dunia pada tanggal 1 Juni 2021 melalui website  https://neurosciencenews.com/bpa-brain-development-18528/.

Hasil penelitian Dr Deborah  Kurrasch selama dekade terakhir telah berfokus pada bahan kimia yang dapat dikenali secara luas: Bisphenol A atau yang juga dikenal sebagai BPA. Bahan kimia ini umumnya ditemukan dalam plastik, pelapis makanan kaleng, dan bahkan kuitansi termal.

Studi terbaru dari laboratorium Kurrasch, yang diterbitkan di Science Advances menunjukkan bahwa kewaspadaan berkelanjutan diperlukan. Rilis terbaru mengenai bahaya BPA ini, melengkapi penelitian sebelumnya, yang dalam waktu 6 bulan di tahun 2021 ini, sudah ada 3 penelitian yang dipublikasikan pada jurnal internasional.

Pada bulan Januari 2021, peneliti gabungan dari Thailand, Jepang, dan Amerika Serikat merilis hasil penelitian efek paparan bisphenol A prenatal pada gen terkait autisme dan hubungannya dengan fungsi hipokampus. Hasil penelitian tersebut adalah Paparan BPA sebelum melahirkan yang lebih tinggi diduga meningkatkan risiko autisme (https://www.nature.com/articles/s41598-020-80390-2).

Lalu pada tanggal 15 April 2021, situs web sains, Neuroscience News.Com merilis hasil penelitian terbaru mengenai efek BPA dan BPS. Tim peneliti Bayreuth yang dipimpin Dr Peter Machnik, melakukan penelitian mengenai Kerusakan Otak Terkait Senyawa Umum Dalam Benda Plastik Sehari-hari (https://neurosciencenews.com/plasticizers-brain-damage-18243/).

Terkait bertambahnya jumlah penelitian yang menyatakan BPA berbahaya, ketua JPKL, Roso Daras menyesalkan pernyataan Eko Hari Purnomo, Pakar Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) yang mengatakan bahwa BPA tidak berbahaya bagi kesehatan seperti yang disampaikan dalam sebuah tayangan televisi pada 22 Juni 2021 lalu.

Menurut Roso Daras, ada beberapa hal yang kurang tepat dari pernyataan Eko Hari Purnomo. “Beliau menyampaikan bahwa BPA tidak berbahaya bagi kesehatan tidak berdasarkan penelitian, melainkan hanya mengacu ketentuan BPOM ihwal batas migrasi 0.6 bpj. Sayangnya, Pak Eko tidak melakukan melakukan penelitian,” ujarnya.

Hal itu berbeda dengan JPKL yang telah melakukan kajian dari para peneliti serta berbagai publikasi mengenai bahaya BPA di jurnal-jurnal nasional dan internasional. Tim JPKL juga senantiasa mengacu pada referensi regulasi terkait larangan BPA di beberapa negara maju.

“Bahkan bukan hanya itu. JPKL juga telah meminta salah satu laboratorium yang terakreditasi untuk menganalisa migrasi BPA dengan acuan standard SNI yang telah ditetapkan BSN di dalam menganalisa migrasi BPA, dan hasilnya di atas batas toleransi yang ditetapkan BPOM. Dan perlu saya sampaikan bahwa kajian dan analisa lengkap terkait BPA telah JPKL sampaikan secara resmi ke BPOM,” ungkap Roso Daras seraya menambahkan, “insya Allah kami akan kirimkan juga ke Eko Hari Purnomo sebagai referensi. Apalagi beliau seorang akademisi yang harus menjaga reputasi pada setiap pernyataannya.”

Di luar itu, Roso justru menyoroti disiplin ilmu Eko yang berlatar belakang pakar pangan. “Harusnya yang kompeten bicara pakar plastik. Tapi atas nama kebebasan menyampaikan pendapat, ya silakan saja. Masyarakat toh tidak semuanya bodoh. Semoga saja statemen beliau tidak menyesatkan,” cetus Roso.

Roso juga menambahkan bahwa apa yang disampaikan Eko Hari Purnomo semestinya disampaikan oleh BPOM langsung. “Terus terang, lebih elok kalau yang memberi statemen BPOM langsung. Sebab, sebagai pakar pangan, kurang pas kalau bicara BPA. Ia sebaiknya justru mendorong BPOM melakukan penelitian seperti yang JPKL lakukan. Setidaknya untuk menguji kembali kadar yang telah BPOM tentukan, dan benarkah kemasan guna ulang yang beredar selama ini benar-benar di bawah ambang batas yang pak Eko sebutkan,” paparnya.

Di sisi lain, pendapat para ahli dunia yang menyatakan zat BPA berbahaya telah masuk dalam jurnal internasional. Di tahun 2021 ini saja sudah ada di tiga publikasi jurnal kesehatan seperti yang disampaikan di atas.

Belum lagi penelitian pada tahun-tahun sebelumnya. Bahkan di Indonesia sendiri Jejaring Laboratorium Pengujian Pangan Indonesia (JLPPI) memberikan rekomendasi yang menyatakan bahwa regulasi mengenai migrasi BPA masih sangat minim padahal bahaya BPA selalu membayang-bayangi konsumen, terutama produk yang kemasannya terbuat dari plastik Polikarbonat. Lab yang terkumpul dalam JLPPI (Jejaring Laboratorium Pengujian Pangan Indonesia) ini menyadari masih kurangnya infrastruktur dalam pengujian BPA tersebut terlebih sudah mulai banyak kemasan yang mengklaim bahwa kemasannya BPA Free.

Pernyataan ini dapat di akses di http://jlppi.or.id/berita-263-tantangan-pengujian-bisphenol-a-bagi-laboratorium-pengujian.html

Menarik garis waktu lebih ke belakang, pada tahun 2013, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia melakukan Kajian Sistematis Dampak Pajanan Bisphenol A (BPA) terhadap Sistem Reproduksi dan Perkembangan Manusia. Kesimpulan yang dapat diambil dalam kajian itu adalah BPA memberikan dampak yang buruk terhadap organ reproduksi manusia. Juga terdapat saran, bagi Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI):

1. Melakukan pembatasan penggunaan BPA pada produk kemasan pangan bayi dan anak-anak serta pada wanita hamil;
2. Memberikan sosialisasi terkait penggunaan produk kemasan atau wadah makanan yang mengandung BPA;
3. Bagi bayi di bawah tiga tahun dan wanita hamil, sebaiknya tidak menggunakan produk atau wadah makanan dengan bahan BPA dan dapat diganti dengan botol kaca; Bagi orang dewasa, sebaiknya mengurangi penggunaan produk plastik mengandung BPA dan menghindari memegang langsung bukti pembayaran menggunakan kertas termal;
4. Melakukan studi biomonitoring pajanan BPA di Indonesia untuk mengetahui kondisi pajanan BPA terhadap masyarakat Indonesia.

http://lib.ui.ac.id/detail?id=20346523&lokasi=lokal

“Sependek pengetahuan saya, Saudara Eko Hari Purnomo belum melakukan penelitian dan masuk dalam jurnal kesehatan nasional dan internasional, tapi bisa menyatakan bahwa BPA aman? Atas dasar apa dia menyatakan hal tersebut? Ini yang patut dipertanyakan. Seharusnya Saudara Eko sebagai pakar dapat mempelajari, memahami hasil penelitian sebelumnya dan kebijakan-kebijakan negara maju dalam melindungi kesehatan konsumen, terutama pada usia rentan seperti bayi dan balita. Sdr. Eko sebagai pakar sekaligus akademisi seharusnya justru bersuara lantang bicara perlu adanya label peringatan konsumen, guna melindungi bayi dan anak sebagai generasi muda Indonesia yang tumbuh kembang sehat dan cerdas agar tidak terpapar bahaya BPA,” tegas Roso Daras.

Statemen Menggelikan

Seperti dilansir media, Eko menegaskan bahwa BPA tidak membahayakan kesehatan, dan belum ada hasil penelitian atau literatur yang membuktikan pelepasan BPA di galon guna ulang berbahaya bagi kesehatan. “Yang membuat bahaya itu bukan hanya sekadar bahannya, tapi juga dilihat dari konsentratnya. Kalau bicara aman atau tidaknya tergantung jumlah konsentrat yang ada dalam kandungannya,” ujar Eko, Senin (28/6).

Ia juga menekankan, ada batasan BPA maksimal yang bisa lepas dari kemasan. Dan BPOM telah menetapkan Peraturan Nomor 20 Tahun 2019 tentang Kemasan Pangan yang mengatur persyaratan keamanan kemasan pangan termasuk batas maksimal migrasi BPA maksimal 0,6 bpj (600 mikrogram/kg) dari kemasan PC. Dan menurut hasil pengawasan BPOM terhadap kemasan galon AMDK yang terbuat dari Polikarbonat selama lima tahun terakhir menunjukkan migrasi BPA di bawah 0,01 bpj (10 mikrogra/kg) atau masih aman.

“Hasilnya masih di bawah ambang batas. Begitu pula saat dilakukan pengujian di air. Sangat kecil kemungkinan terjadinya migrasi BPA ke dalam air yang ada dalam galon guna ulang yang berbahan Polikarbonat (PC). Jadi kenapa ini masih diributkan,” paparnya.

“Suhu memang bisa berpengaruh terhadap pelepasan, tapi dalam proses distribusi yang normal kan nggak mungkin galon kemasan isi ulang akan ditaruh di tempat yang langsung terpapar sinar matahari,” tandas Eko.

Atas statemen-statemen Eko tadi, Roso Daras sangat heran. “Tidak saja mengherankan, tapi juga menggelikan. Benarkah Saudara Eko pernah mengikuti bagaimana distribusi galon isi ulang dari pabrik sampai ke konsumen? Tahukah dia, galon-galon diangkut dalam truk terbuka dan terjemur langsung matahari. Di depo pun dijemur. Apa Saudara Eko berpikir galon-galon tadi diangkut pakai truk yang tertutup rapat dan berpendingin udara? Dia kan akademisi, sebaiknya jangan asal bicara, dan bicara jangan asal-asalan. Lakukanlah survei, setidaknya observasilah ke lapangan, amati dan lihat langsung mata rantai distribusi galon selama ini,” tutur Roso Daras.

Sebagai akademisi, Roso berharap Eko kritis dan objektif. Apakah tidak ada rasa ingin mengkaji lebih dalam, ketika mengetahu adanya fakta bahwa banyak negara maju melarang penggunaan kemasan yang mengandung BPA berkontak langsung dengan makanan atau minuman yang dikonsumsi bayi dan balita? “Pliss deh, pak Eko….,” pungkas Roso. (*/mons)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *