Ayam Kemanggang Mbah Cemplung

 Ayam Kemanggang Mbah Cemplung
Ayam kampung goreng Mbah Cemplung. Diungkep dua kali, sehingga bumbunya sangat meresap lezat. Foto: Roso Daras

PILIH mana, ayam kampung atau ayam potong? Kalau Anda pilih ayam potong, saya pilih ayam kampung. Kalau Anda pilih ayam kampung, artinya kita satu selera. Rasa dagingnya jauh lebih gurih dibanding ayam potong. Yang ini mudah sekali ngetesnya. Goreng dua jenis ayam itu tanpa bumbu, lalu santaplah.

Jika tanpa bumbu saja sudah gurih, apalagi kalau dicampur bumbu, kemudian diungkep sampai dua kali, baru digoreng, sehingga bumbunya meresap dalam. Itulah resep sederhana yang ditawarkan rumah makan ayam goreng kampung Mbah Cemplung, di Desa Sendang Semanggi, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dulu, jualan keliling kampung jalan kaki. Sekarang, sudah memiliki rumah makan dan lahan parkir yang luas. Foto: Roso Daras

Sengaja tulisan ini tidak mendeskripsikan lokasi Mbah Cempung yang cukup berliku di pedalaman barat laut Kota Bantul, atau barat daya pusat kota Yogyakarta. Sebab, hari gini, menyebut arah, nama jalan, belok kanan, belok kiri, sungguh tidak praktis. Google maps akan dengan mudah menuntun Anda ke lokasi Ayam Goreng Mbah Cemplung. Aplikasi Waze juga dengan sangat akurat akan mencarikan rute terbaik ke warung Mbah Cemplung.

Selesai urusan lokasi, sekarang balik ke ayam kampung Mbah Cemplung. Untuk sebagian orang, terutama anak-anak, acap kali emoh menyantap ayam kampung, dan lebih suka fried chicken ala Barat. Alasan klasik anak-anak biasanya “alot”. Cobalah ayam kampung goreng Mbah Cemplung, dijamin tidak alot. Sebab, warung ini punya standar khusus untuk sajian utamanya, yakni ayam yang sudah masuk kategori “kemanggang”, alias pas buat dipotong dan disantap. Usianya rata-rata tiga bulan.

Menyantap ayam di Mbah Cemplung dengan harga per ekor antara Rp 100.000 – Rp 180.000 itu benar-benar puas. Jika khawatir kelebihan porsi, bisa pesan per potong, paha, gending, kepala, ati-ampela yang semuanya berukuran jumbo. Benar, potongan ayam di Mbah Cemplung memang ekstra besar.

Kalau anda penggemar kepala ayam, jangan kaget kalau mendadak disajikan tidak saja kepala plus leher, tetapi juga berikut tulang bagian punggung sampai brutu. Tentu saja di sekitaran tulang itu juga melekat serpihan-serpihan daging yang nikmat. Karenanya, jika di warung ayam kampung goreng yang lain, kepala ayam cukup buat “cemilan”, maka di Mbah Cemplung, bisa untuk lauk sepiring nasi, plus lalapan dan sambal yang bikin merem-melek.

Ihwal Cemplung

Mbah Rejo Sidal alias Mbah Cemplung.

Nama Mbah Cemplung terdengar unik. Di Jawa, cemplung artinya celup ke air. Biasa digunakan dalam kalimat, “kecemplung kali” yang artinya tercebur ke sungai. Benarkah Cemplung nama orang? Sejatinya tidak demikian. Cemplung itu nama alias, nick name. Aslinya, ia bernama Mbah Rejo Sidal. Di kampungnya, ia terkenal sebagai penjual ayam goreng kampung sejak tahun 1973. Sehari-hari ia menjajakan ayam kampung gorengnya itu keliling dari rumah ke rumah.

Mirip-mirip kisah sukses “from zero to hero” lainnya, Mbah Rejo Sidal pun memulai dari jualan keliling berjalan kaki. Dari yang semula hanya dibeli satu dua orang, sampai akhirnya banyak yang memesan. Baru tahun 1980-an, Mbah Rejo Sidal membuka warung. Selain karena fisiknya tidak kuat lagi berjalan jauh, anak-cucunya sudah bisa mengambil alih urusan “manajemen”, meski masih ala kadarnya. Merekalah yang mengelola rumah makan itu hingga sekarang, dengan resep warisan Mbah Rejo Sidal.

Munculnya nama Mbah Cemplung… karena alasan yang sangat sepele. Konon, setiap ditanya, “Apa resepnya sehingga ayam gorengnya begitu gurih dan empuk?” Mbah Rejo Sidal cuma menjawab singkat, “mung dicemplung, trus diangkat….” Cuma dicemplungkan (di penggorengan) sebentar, lalu diangkat.

Lantas, Cemplung pun menjadi brand yang unik sekaligus khas. Kini, nama ayam goreng kampung Mbah Cemplung sama unik dan kesohornya seperti para pendahulunya: Ayam Goreng Kalasan, Ayam Goreng Mbok Berek, Ayam Goreng Mbok Sabar, Ayam Goreng Bu Tini, dan resto-resto spesialis ayam kampung goreng lain di Yogyakarta.

Sebelum era medsos, nama ayam goreng Mbah Cemplung sudah ngider dari mulut ke mulut. Berkelana dari telinga ke telinga. Baru setelah era medsos, era penjelajah kuliner gemar selfie, nama Mbah Cemplung membubung. Tulisan berisi puja-puji terhadap kelezatan ayam gorengnya, marak di berbagai media online, termasuk blog-blog spesial kuliner. Jadi, kapan Anda mau ke sana? ***

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *