Tengkleng Gajah, Sensasinya tuh di Sini

 Tengkleng Gajah, Sensasinya tuh di Sini
Tengkleng Gajah yang terletak di Jl. Kaliurang KM. 9.3, Bulurejo, Minomartani, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. (Foto: Roso Daras)

Tengkleng adalah nama makanan khas Solo. Tidak ada sejarah yang pasti mengenai asal-usul nama tengkleng. Tapi besar kemungkinan nama itu berasal dari bunyi suara akibat benturan tulang dengan piring (seng). Maklumlah… menu ini konon sudah ada sejak zaman penjajahan, ketika rakyat jelata makan tidak pakai piring beling, melainkan piring seng.

Rakyat hanya kebagian makan tulang dan jeroan yang di-emoh-i majikan. Tuan dan nyonya, serta para priyayi ningrat, hanya makan daging. Oleh pekerja dapur, para abdi dalem, para jongos, tulang-tulang dengan sisa-sisa daging yang masih menempel, diolah menjadi masakan yang tak kalah sedap. Bumbu dapur yang digunakan ada 18 macam. Dengan adonan bumbu sebanyak itu, bahkan mengelumat tulang dengan sedikit daging dan tulang muda atau kikil, menjadi sangat nikmat.

Zaman bergulir, menu tengkleng tetap abadi. Di mana ada sate… tengkleng tak akan punah. Siapa sangka, sensasi makan tengkleng kemudian menjadi kegemaran di antara para pemburu kuliner. Solo adalah kota yang terkenal dengan masakan tengkleng-nya. Tapi cerita ini bukan datang dari Solo, melainkan dari Yogya. Di sana, ada tengkleng gajah!

Aneka tengkleng…. tengkleng pedas, tengkleng goreng, gulai, sate dan lain-lain tersedia di sini. (foto-foto: Roso Daras)

Jangan kaget dulu…. Sungguh, bukan tulang gajah yang disajikan. Gajah hanya nama. Tapi, kalau suatu hari Anda menjajal resto Tengkleng Gajah yang terletak di Jl. Kaliurang KM. 9.3, Bulurejo, Minomartani, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, Anda akan tahu mengapa dinamakan tengkleng gajah. Penamaan gajah sangat mungkin karena identitas resto itu yang menyajikan menu tengkleng dalam ukuran jumbo. Ukurannya segajah-gajah…..

Entah apa mau dikata…. Zaman memang sudah berubah. Dulu, makan tulang dengan potongan besar-besar, dipandang sedikit kurang sopan. Sekarang, ukurannya berbeda. Makan tulang kambing ukuran besar, memaksa Anda menggunakan kedua tangan. Nah… gaya makan ala barbarian itu barangkali menimbulkan sensasi tersendiri.

Bisa jadi memang sensasi itu yang diburu konsumen, sehingga pada jam-jam makan, resto yang berkapasitas 300-an orang ini bisa penuh, bahkan meluber sampai ke luar. Tidak sedikit yang rela gelar tikar di halaman belakang, tak jauh dari lokasi parkir.

Soal rasa? Tidak bisa dikatakan tidak enak, tetapi juga tidak bisa dibilang luar biasa. Beberapa kedai tengkelng lain di Yogya atau di Solo, ada yang lebih enak. Tetapi, sensasi memakan tulangan ukuran jumbo memang menjadikan tengkleng gajah luar biasa. Apalagi, aneka pilihan menu ada di sini. Selain aneka tengkleng, resto ini juga menyediakan sop, sate, dan gulai.

Karena selera orang berbeda…. Alhasil ketika makan berlima, satu akan mengatakan sopnya yang enak, yang lain menilai tengklengnya yahud, seorang lagi memilih satenya yang enak. Apa pun pendapatnya, satu saran saja, jangan pernah datang ke sana tanpa perut lapar…. Lapar sekali, lebih disarankan. (roso daras)

Reti Tengkleng Gajah, Yogyakarta selalu ramai dikunjungi pemburu kuliner dari dalam dan luar kota. Tak heran jika pada jam-jam makan, resto ini selalu penuh pengunjung. (foto-foto: Roso Daras)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *