Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the zox-news domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/jayakartanews.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/jayakartanews.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260
Kijang Kencana: Ada Spider Man dalam Ceritanya - Jayakarta News
Notice: Function WP_Styles::add was called incorrectly. The style with the handle "ql-main" was enqueued with dependencies that are not registered: ql-bootstrap. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.9.1.) in /home/jayakartanews.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260
Connect with us

Drama & Teater

Kijang Kencana: Ada Spider Man dalam Ceritanya

Published

on

Kijang Kencana (kiri/foto swargaloka). Rama dan Shinta dalam Kijang Kencana (foto tiktok)

JAYAKARTA NEWS— Epos Ramayana diciptakan oleh Resi Valmiki dari India. Ia menulis sloka (bentuk syair suci) pertama didalam wiracarita ini. Terdiri atas 24.000 bait puisi  dan dibagi.jadi 7 bagian utama (kanda).

Kisah epos tersebut memiliki nilai-nilai universal yang mampu merefleksikan berbagai pertanyaan dan kegelisahan umat manusia.

Abadi karena diceritakan secara terus menerus melalui berbagai medium dalam bentuk film, buku, seni pertunjukan, musik dan lain-lain.

Kali ini, organisasi nirlaba Swargaloka yang difasilitasi Kemenkebud dan Djarum Foundation menggelar drama wayang (drayang) berjudul ‘Kijang Kencana’ di Teater Besar, TIM, 13 September 2026.

Sebuah kisah tentang sosok antagonis yang terlahir istimewa, namun tak menyadarinya.

Bermimpi menjadi apa yang ia damba. Hingga mampu menuntaskan ke raguannya meski raga jadi penukarnya.

“Pergelaran ini mengajak kita menyelami sisi lain kisah klasik Ramayana. Melihat dari sisi mata sang Kijang Kencana yang ingin diingat bukan hanya sebagai pemicu malapetaka. Tetapi sebagai jiwa yang juga berhak dianggap penting dalam aejarah besar manusia,” kata Ketua Yayasan Swargaloka, Bagaskoro Putro Dewandoro.

Kisahnya berawal ketika raksasa Rahwana alias Dasamuka yang tergila-gila pada kecantikan Shinta, suami Rama Wijaya dan ingin menculiknya di hutan Dandaka.

Lalu diutuslah patih yang pamannya, Kalamarica yang lalu menjelma jadi kijang.

Shinta terpukau dengan bulu keemasan kijang kencana dan berupaya mengelusnya.

Guna menjaga isterinya, adiknya bernama Laksmana disuruh menjaga Shinta.

Penculikan dan penyanderaan Shinta oleh Rahwana memicu peperangan dahsyat antara Rama dan Rahwana, penguasa Kerajaan Alengka.

Disini tokoh-tokoh baik bertempur melawan sosok-sosok jahat dan lalim.

Hadir pula Sarpakenaka, adik Rahwana yang ikut terlibat mengacaukan situasi.

Tragedi ini semua gegara kijang kencana tapi apakah hal tersebut benar ?

“Drayang di sini adalah wujud tranformasi dalam kebaruan cerita, tari, musik, kostum dan artistik pertunjukan,” jelas sutradara Bathara Saverigadi dan Irwan Riyadi berbareng.

Berdurasi 2 jam lebih, drayang ini dialognya berbahasa Indonesia, juga lagu yang mengiringi seluruh adegan.

Ucapan-ucapan jenaka dan peristiwa kekinian yang lagi ngetrend pun diselipkan kedalam wiracarita ini.

Eh, alamak, mendadak hadir tokoh fiktif Spider Man di satu adegan yang memancing ger penonton.

Pembaruan dan inovasi kiwari ini didalam drayang  ini juga mencuatkan momen agar seni tradisi ini bisa lestari dan langgeng disukai penonton muda.

“Para pemain dan tim produksinya 99% adalah Gen Z yang unjuk diri di dunia seni pertunjukan dengan segala resiko dan tantangannya,” urai Bagaskoro Putro Dewandoro.

Para pemeran yang rata-rata berusia muda baik yang memerankan tokoh protagonis maupun yang tampil jadi sosok antagonis perlu diapresiasi..

Pemeran kijang kencana yaitu Bathari Putri Surya Dewi sangat elok penampilannya. Gesture dan improvisasi yang dihadirkan pas dan cemerlang.

Juga pemeran lain tak kalah heroik dan keren.

Ruh dan kekuatan Kijang Kencana semakin paling istimewa dengan hadirnya live Gamelan Orchestra yang seluruh musisinya anak muda,.sehingga musik menjadi bagian yang hidup.

Juga koreografi, dinamika dramatik dan visual panggung sangat bernyawa.

Tampaknya cerita ini belum usai. Belum tampil pasukan kera putih Hanuman, Shinta obong (api penyucian), Wibisana dan burung  Garuda Jatayu belum nongol.

Kayaknya perlu dilanjutkan di Kijang Kencana 2 ?

Last but not least, kebudayaan bukan sekedar warisan masa lalu melainkan instrumen aktif dalam membentuk karakter bangsa, memperteguh jati diri, dan meningkatkan daya saing, serta citra Indonesia di kancah global, seperti dikatakan Menteri Kebudayaan, DR Fadli Zon. (pik)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement