Kabar
Inspiratif! Kisah Mahatmi Perempuan Indonesia yang Jadi Sopir Bus di Jepang, Gajinya Puluhan Juta
JAYAKARTA NEWS— Mahatmi Rismartanti (27), perempuan pertama asal Indonesia dan perempuan asing pertama yang menjadi sopir bus di Jepang. Perempuan yang akrab disapa Ami asal Malang, Jawa Timur, ini menjadi buah bibir karena berkarier di sektor yang tidak biasa di Jepang.
Siapa sangka hobi mengemudinya selama ini justru membawa Ami menjadi seorang pramudi di Jepang. Lulusan Sastra Jepang Universitas Brawijaya ini kini menjadi 1 dari 60 perempuan yang menjadi sopir bus di Jepang.
Dilansir laman KP2MI, sektor transportasi di Jepang dibuka untuk tenaga kerja asing, baru dibuka 2025 lalu. Perekrutannya melalui skema Specified Skilled Worker (SSW) atau yang juga dikenal dengan Tokutei Ginou.
Sebagai informasi, visa kerja ini merupakan izin kerja resmi dari Pemerintah Jepang untuk warga negara Indonesia yang bekerja langsung di berbagai sektor industri di Jepang.
Cita-cita Masa Kecil
Menariknya, menjadi seorang sopir bus rupanya sempat menjadi impian Mahatmi kecil. Di kampung halamannya di Malang, Ami mengaku sering melihat kendaraan-kendaraan besar yang melintas sehingga sempat muncul rasa penasaran tentang cara mengoperasikan kendaraan besar tersebut.
Saat ditanya kenapa tidak menjadi seorang penerjemah seperti yang dilakukan lulusan Sastra Jepang pada umumnya, Ami pun membeberkan alasannya. Ia menyebut menjadi seorang penerjemah dengan hanya berbekal ijazah sarjana tidak mudah.
“Sejujurnya saya memang suka menyetir. Bagi saya, menyetir di jalan itu seperti refreshing. Makanya ketika melihat lowongan kerja sebagai sopir bus, saya merasa ini pekerjaan yang cocok,” ucap Ami.

Mahatmi Rismartanti sedang mengemudikan bus (Foto: tangkap layar NHK World)
LinkedIn Pembuka Pintu Rezeki
Saat ditanya soal informasi lowongan kerja menjadi pengemudi bus di Jepang, Ami secara terang-terangan mengaku dirinya mendapat info pekerjaan ini dari laman LinkedIn. Rutinitas menggulir laman LinkedIn di saat dirinya menjadi job seeker pun membuahkan hasil.
Ia menemukan secercah harapan untuk mengembangkan karier di negara impiannya, Jepang, saat melihat lowongan kerja dari Tokyu Bus, perusahaan operator bus terbesar di Jepang. Berbekal gelar akademis Sastra Jepang dan kemampuan Bahasa Jepang yang dimiliki, Ami pun bertekad untuk mendapatkan pekerjaan sebagai pengemudi bus di Tokyo.
“Dari dulu sebenarnya pengin kerja di Jepang, tapi enggak tahu kerja apa. Ketika melihat info lowongan pekerjaan itu, saya berpikir ‘ini untuk saya’,” ucap Ami meyakinkan diri.
Hijrah ke Jepang
Upaya Ami untuk bisa bekerja di Jepang ini dibantu oleh Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Shankara di Bekasi. Ami berangkat ke Jepang dengan berbekal visa kerja SSW. Ami dinyatakan lulus seleksi pada Oktober 2024, namun baru berangkat ke Jepang pada 15 September 2025 lalu.
Begitu menginjakkan kaki di Jepang, Ami langsung mengambil ujian SIM di Jepang demi melancarkan kariernya sebagai calon pengemudi bus di Tokyo. Setelah dinyatakan lulus mengemudi, Ami kemudian melanjutkan sekolah khusus mengemudi di Jepang.
“Sebelumnya selama di Indonesia tidak pernah punya pengalaman menyetir bus atau kendaraan besar lainnya, paling hanya ikut kursus mengemudi saja. Jadi benar-benar baru dapat SIM untuk mengemudi bus di Jepang ini,” terang Ami.
Tidak langsung beroperasi sebagai sopir bus, Ami setidaknya membutuhkan waktu sekitar 6 bulan untuk menjalani pelatihan, termasuk untuk mempelajari Bahasa Jepang yang akan ia pakai untuk melayani penumpang bus.
Proses Rekrutmen
Melalui ceritanya, Ami mengatakan bahwa proses rekrutmen bekerja sebagai sopir bus di Jepang ini begitu cepat. Selang 2 hari setelah melamar profesi tersebut, ia langsung melakukan wawancara kerja dengan LPK Shankara, yang menjadi perantaranya bekerja di Jepang.
Disusul dengan wawancara secara langsung dengan pihak Perusahaan Tokyo Bus yang merekrutnya. Ami mengaku setidaknya selama 3-4 minggu menunggu hasil pengumuman hasil seleksi sampai ia benar-benar dinyatakan lolos.
Ami juga membutuhkan waktu selama 6 bulan untuk mempersiapkan keberangkatannya ke Jepang. Selama 6 bulan terakhir di Indonesia, ia yang sudah memutuskan melepas pekerjaan sebelumnya memilih untuk meningkatkan keterampilan bahasa dan skill mengemudinya.
Ami setidaknya menjalani kursus Bahasa Jepang selama 6 bulan dan pelatihan mengemudi bus di Solo selama 3 bulan.
Skill dan Biaya yang Dibutuhkan
Bekerja sebagai sopir bus di Jepang, menurut Ami, tidak mematok persyaratan yang muluk-muluk. Kemampuan utama yang dibutuhkan Pekerja Migran Indonesia yakni keterampilan mengemudi dan komunikasi.
Berkaca dari pengalamannya, Ami membeberkan sejumlah syarat yang harus dipenuhi hingga akhirnya berhasil meraih pekerjaan ini. Di antaranya, ujian SSW, keterampilan mengemudi dibuktikan dengan memiliki SIM A minimal 3 tahun, serta kemampuan Bahasa Jepang tingkat menengah Japanese-Language Proficiency Test (JLPT) N3.
Kemampuan lainnya terkait pemahaman sistem transportasi dan rambu lalu lintas didapat Ami ketika mengikuti pelatihan lanjutan di Jepang.
Terkait biaya persiapan ke Jepang termasuk pengurusan dokumen keberangkatan, Ami mengaku tidak mengeluarkan biaya sepeser pun.
Menurutnya biaya pra-keberangkatan ini tergantung dari masing-masing LPK yang menjembatani antara pekerja dengan perusahaan. Beruntungnya, Ami mendapat fasilitas penuh dari perusahaannya, Tokyu Bus, dari sejak sebelum keberangkatan hingga setelah ia tiba di Jepang. Mulai dari biaya hidup sebelum berangkat ke Jepang hingga fasilitas seperti apartemen yang ia tinggali.
Restu Keluarga
Perjuangan Ami untuk bisa bekerja sebagai sopir bus di Jepang pun mulanya sempat menjadi pertanyaan besar bagi keluarganya di Malang. Pihak keluarga sempat mempertanyakan alasan Ami memilih pekerjaan tersebut. Terlebih adanya stigma bekerja di jalan yang memiliki risiko tinggi tingkat kecelakaan kerjanya.
Tak patah semangat, Ami pun memberi pemahaman ke keluarganya terkait sistem kerja sebagai sopir bus di Jepang. Tak melulu soal gaji yang akan didapat, Ami lebih meyakinkan pihak keluarga terkait sistem transportasi dan keamanan lalu lintas di Jepang sebagai jaminan rasa aman bekerja di Negeri Sakura tersebut.
“Saya belum cerita ke keluarga sampai ada offering, jadi ketika sudah ada penawaran pekerjaan untuk posisi itu, saya baru menjelaskan ke keluarga soal pekerjaan sebagai sopir bus di Jepang, kondisi lalu lintas, bahkan berbagai pelatihan yang akan saya dapat sebelum terjun sebagai sopir bus di Jepang,” ujar Ami.
Profesi Sopir Bus di Jepang
Hampir setahun di Jepang, Ami turut menceritakan kehidupan dan pengalaman menariknya selama bekerja sebagai sopir bus di Jepang. Meski baru beberapa bulan mengoperasikan armada di jalanan Jepang, Ami mengaku menikmati pekerjaannya tersebut.
Setiap harinya, Ami bekerja selama tujuh jam per hari. Rute perjalanan yang ditempuh pun terbilang cukup pendek, jika dibandingkan rute transportasi umum di Indonesia.
“Jalur yang ditempuh cukup pendek, anggap saja untuk rute Tokyo-Shibuya PP yang bisa ditempuh selama dua jam,” tuturnya.
Gaji Menjanjikan
Meski tak secara gamblang menyebutkan nominal gaji yang diterima sebagai sopir bus di Jepang, Ami mengaku penghasilan yang didapat cukup untuk memenuhi biaya hidupnya selama di Jepang.
Ami menyebut gaji sebagai sopir bus di Jepang ini dinilai cukup menjanjikan, karena ia bekerja di Tokyo, prefektur dengan tingkat pendapatan tertinggi di Jepang. Terlebih pekerjaannya di sektor transportasi ini merupakan kategori tenaga kerja ahli yang membutuhkan lisensi khusus, bukan pekerja biasa.
Mengutip dari mhlw.go.jp, upah minimum regional di Jepang, khususnya Tokyo, pada 2025 sebesar 1.226 Yen atau setara Rp135 ribu per jam. Jika jam kerja sebanyak 7 jam per hari dengan total 22 hari kerja, maka pekerja bisa meraup pendapatan sebesar Rp21 juta per bulannya.
Peluang Besar untuk Calon Pekerja Migran Indonesia
Profesi sopir bus di Jepang ini tentu menarik minat para pencari kerja, khususnya para calon Pekerja Migran Indonesia. Selain karena gaji yang menjanjikan, profesi ini masih menjadi peluang besar bagi calon Pekerja Migran Indonesia yang tertarik bekerja di sektor transportasi.
Bekerja di sektor transportasi di Jepang dinilai menjanjikan karena perusahaan operator bus setempat masih membutuhkan tenaga kerja, baik lokal maupun asing.
Mengutip dari NHK World Japan, Tokyu Bus, perusahaan di mana Mahatmi bekerja, diisi oleh tenaga kerja dengan usia 50 tahun ke atas atau usia yang sudah mendekati masa pensiun. Sementara itu, disebutkan banyak pekerja muda di Jepang yang masih enggan memilih pekerjaan sopir bus sebagai profesi utama mereka. Oleh karenanya, perusahaan pun membuka kesempatan kerja yang luas bagi pekerja yang berminat mengisi kekosongan tersebut. (di/Sumber: KP2MI)
