Connect with us

Ekonomi & Bisnis

Industri Hilir Sawit Diproyeksikan Akhir 2024 Tembuh Rp 775 Triliun

Published

on

Industri Hilir Sawit Diproyeksikan Akhin 2024 Tembuh Rp 775 Triliun
Dirjen Industri Agro, Kemenperin, Putu Juli Ardika (Dok Kemenperin)

JAYAKARTA NEWS – Industri hilir sawit diproyeksi nilainya akan menembus Rp775 triliun hingga akhir tahun ini. Pada triwulan II nilai ekonomi industri sawit pada triwulan II tahun 2024 mencapai Rp193 triliun.

Demikian diungkapkan Direktur Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika di Jakarta, Rabu (20/11/2024). Menurutnya, kontribusi komoditas kelapa sawit mendominasi kinerja perekonomian Indonesia selama dua dekade terakhir.

“Pencapaian program hilirisasi industri sawit ini terlihat dari dua indikator, yaitu ragam produk hilir, dan rasio ekspor bahan baku dengan produk hilirnya,” ujar Putu.

Putu mengatakan, ragam jenis produk hilir sawit semakin meningkat signfikan. Pada tahun 2010 hanya terdapat 54 jenis, meningkat menjadi 193 jenis pada 2023.

Sementara itu rasio ekspor bahan baku dan produk hilir sawit juga kian melonjak. Tahun 2010, rasionya 40 persen dan 60 persen (bahan baku dan produk hilir sawit), dan naik drastis menjadi 7 persen dan 93 persenpada 2023. “Ini menandakan bahwa kebijakan hilirisasi berjalan dengan baik,” ujar Putu Juli.

Putu mengungkapkan, dampak luas yang diberikan industri pengolahan sawit di Indonesia, antara lain terlihat dari jumlah penyerapan tenaga kerja langsung dan tidak langsung sebanyak 17 juta orang. Sektor ini juga memberikan kontribusi terhadap PDB nasional sebesar 3,5 persen. Total ekspor non migas, industri memberikan andil sebesar 11,6 persen atau senilai Rp450 triliun sepanjang tahun 2023.

“Sedangkan, nilai ekonomi industri ini mencapai Rp193 triliun pada triwulan II tahun 2024, dan diproyeksi akan menembus Rp775 triliun hingga akhir tahun ini,” ungkap Putu.

Menurut Putu, industri pengolahan sawit telah menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru khususnya di luar Pulau Jawa seperti Sumatera, Kalimantan, dan wilayah lainnya di timur Indonesia.

Penumbuhan pusat baru industri berbasis sawit di luar Jawa, yang sudah ada saat ini antara lain di Dumai-Riau, Sei Mangkei-Sumut, Tarjun-Kalsel, Kotawaringin Barat-Kalteng, Bitung-Sulut, dan Balikpapan-Kaltim. “Ini juga artinya menumbuhkan aglomerasi atau kawasan industri baru berbasis sawit,” tutur Putu.

Dirjen Industri Agro menambahkan, penumbuhan industri pengolahan sawit telah mampu menggerakkan aktivitas produktif kegiatan usaha, khususnya di daerah terluar, tertinggal, dan terpencil (3T). “Jadi, turut menjaga kedaulatan ekonomi khususnya terkait substitusi impor dan teritorial di perbatasan negara,” ujar Putu. (yr)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement