Seperti “Ditampar” Aqua Dwipayana

 Seperti “Ditampar” Aqua Dwipayana
Foto tengah malam di Wisma Ainard. Dari kiri: Diana, Melva, “Abah” Fachrudin, Aqua Dwipayana, Roso Daras, Agus S. (foto: dok jayakartanews)

JAYAKARTA NEWS – Aqua Dwipayana. Laki-laki kelahiran Pemantang Siantar tahun 1970 ini, mendadak ‘viral’ di lingkungan Jayakarta News. Persis di ulang tahun ke-2 Jayakarta News, Sabtu (2/2/19), dari pagi, siang, dan malam, kami ‘rayakan’ bersama Aqua Dwipayana di Yogyakarta. Untunglah, beliau hadir bukan sebagai motivator “profesional”, sehingga kami mendapat pencerahan dengan cuma-cuma alias gratis..tis…tis…tisss…

Pada gathering HUT Jayakarta News ke-2 di Yogya itu, kami kelimpahan berkah dengan hadirnya Aqua Dwipayana. Mantan jurnalis Jawa Pos, Bisnis Indonesia dan sejumlah media lain ini, sekarang dikenal sebagai motivator kondang. Untuk mengundang laki-laki yang murah senyum ini, kita harus merogoh kocek dan ‘membayarnya’ hingga Rp 30 juta rupiah per jam, dengan durasi minimal dua jam.

“Tapi saya juga menolak pembayaran jika berbicara di lingkungan TNI – Polri, dan di lingkungan-lingkungan tertentu seperti ajang silaturahim Jayakarta News ini,” ujar Aqua seraya menambahkan, “Bayaran itu kan soal duniawi. Hidup harus seimbang. Berbicara tanpa bayaran dengan niat tulus dan ikhlas untuk berbagi, insya Allah, Tuhan yang akan membayar…,” disusul tawa renyahnya.

Penulis (Melva) saat berkenalan dengan Dr Aqua Dwipayana di Wisma Ainard, Yogyakarta. (foto: dok. jayakartanews)

 

Obrolan Hingga Subuh

Diawali dari kedatangannya, menjelang tengah malam, pada hari Jumat (1/2/19) ke tempat rombongan Jayakarta News menginap di Wisma Ainard Jl Miliran, Yogyakarta. Kami berbincang hingga jelang Sabtu subuh, sekitar pukul 03.00 (2/2/19). Kedatangan yang larut malam itu diakibatkan, delay-nya pesawat yang menerbangkannya dari Jambi ke Yogya. Bahkan ia harus bertukar pesawat untuk bisa sampai Yogya. Kalau saja penerbangannya lancar, ia dijadwalkan tiba di Yogyakarta pukul 19.30. “Ya, manusia berencana, Tuhan juga yang menentukan,” ujarnya arif.

Patut menjadi contoh, seharusnya, dia bisa mengundur pertemuan itu. Bisa saja Aqua menghubungi Roso Daras, sahabatnya yang juga Ketua Perkumpulan Jayakarta 98 sekaligus Pemred Jayakarta News, untuk menjadwal ulang pertemuan. Tetapi Aqua tidak melakukannya. Kenapa? Menurutnya, ini adalah bagian dari komitmen yang harus dijaganya.

“Bagi saya, kalau sudah janji, ya harus ditepati, apa pun yang menjadi halangan, saya akan berusaha untuk menepatinya.”  Itu dikatakan Aqua ketika dia mulai menjelaskan kedatangannya yang terlambat. “Sebetulnya, saya bisa menelepon Mas Roso dan membuat janji lagi, tapi saya tidak mau. Saya harus menepati janji saya,” ujarnya sambil tersenyum.

Tentu saja, saya sebagai emak-emak jaman milenial begini, terkagum-kagum dengan sikap pria yang baru pertama kali itu ketemu. Bukankah hari gini, banyak orang obral janji? Sejenak saya sempat membayangkan, betapa beruntungnya Nyonya Aqua, yang tentu sangat nyaman bersama pria yang tak mau ingkar janji, dan murah senyum pula. Hmmm…

Komitmen, menurut Aqua, adalah bagian dari 3 K, yaitu resepnya untuk sukses. Ke-3K itu adalah, Kredibilitas, Komitmen, dan Konsisten. Aqua mengakui, bahwa keadaannya saat ini adalah karena dia menjaga 3-K itu.

Sebagai mantan wartawan, dia merasakan bahwa kelemahan wartawan adalah “maunya instan”. “Saya pernah menjadi wartawan. Kelemahan sebagian dari kita para wartawan itu adalah, maunya instan, dia maunya hit and run. Sementara masalahnya adalah bagaimana kita bisa menjaga hubungan baik untuk jangka panjang. Saya bisa seperti ini karena sejak awal saya lebih mementingkan hubungan jangka panjang dibanding hubungan sesaat. Sehingga sampai hari ini, orang yang menjadi nara sumber saya sekian puluh tahun lalu, masih tetap bersaudara dan  berteman. Dan mereka masih tetap berharap seperti dulu. Dan menariknya, dengan begitu tiap saya ada kesulitan, mereka bantu, baik diminta atau tidak. Dan lebih menarik lagi, mereka tanpa ragu-ragu menceritakan atau mempromosikan saya kepada teman-teman. Ini yang mahal sekali. Kalau sudah bicara marketing mulut ke mulut, itu mengalahkan teori marketing apa pun,“ papar Aqua.

Setelah kredibilitas, komitmen, maka yang paling penting juga adala konsisten. “Bagaimanapun kita harus konsisten. Sering teman-teman kita tidak konsisten karena faktor duniawi. Kita sering dihinggapi ketakutan-ketakutan yang tidak beralasan,” papar Aqua.

Obrolan hingga subuh dengan penulis buku The Power of Silaturahim itu, tentu sangat berharga bagi saya yang pernah malang-melintang sebagai ‘pemburu’ berita,  yang kadang memang maunya instan. Tak pelak, malam dinihari itu saya seperti mendapat “tamparan” bertubi-tubi dari Aqua. Sungguh, tamparan yang seketika membuka tabir kesadaran ihwal kesalahan saya selama ini.

Cara doktor komunikasi itu berbagi “ilmu silaturahim” sungguh bukan cara yang menggurui. Saya mencatat, sebagian besar uraiannya justru disampaikan dengan contoh-contoh di kehidupan sehari-hari. Baik contoh-contoh menghadapi sikap orang-orang terhadapnya, baik yang positif maupun negatif, sampai ke contoh-contoh kehidupan rumah tangganya.

Tak segan-segan ia mengisahkan ihwal kedua putranya. Ihwal istrinya. Ihwal teman-temannya. Ihwal dirinya sendiri. Di antara semua kisah yang ia bagikan, dengan diksi dan dan intonasi yang khas, membuat kami para pendengarnya mampu dengan sendirinya menangkap pesan-pesan moral: “Ambil yang baik, tinggalkan yang tidak baik.”

Aqua Dwipayana saat menjamu makan siang “Jayakarta News” di Resto Jejamuran, Yogyakarta. (foto: dok jayakartanews)

Jamuan Makan

Bukan hanya saya yang merasakan bahwa bincang-bincang hingga subuh itu sangat berharga. Terbukti dari kami, tidak sungkan untuk bertukar pikiran akan masalah yang menjadi beban hidup saat ini. Perbincangan ini merupakan berkah subuh. Sekalipun kurang tidur, rasanya tetap semangat. Apalagi sebelum Aqua pamit pulang, dia mengajak Jayakarta News untuk makan siang bersama di Jejamuran.  Benar, ia menawarkan makan siang.

Makan siang di Jejamuran pas sekali dengan kondisi perut keroncongan sehabis menikmati keindahan Candi Prambanan dan rekreasi di Kaliurang. Makanan pun berlimpah. Rasanya tentu enak-enak. Sekalipun badan lelah, rasanya hidup begitu sempurna hari itu…..

Di tempat ini pun, kami mendapat ‘pelajaran’ darinya. Dia menunjukkan kepada kami, menjaga silahturahim bukan hanya dengan sesama para awak Jayakarta News. Ia bahkan mencontohkan, dalam kesempatan jalan-jalan seperti itu, kita harus menjalin silaturahim dengan driver yang membawa rombongan. Kebetulan, saat itu, kedua driver memang kami ajak masuk di ruangan VIP Shitake Resto Jejamuran. Mereka memang sejak tiba di pelataran parkir Resto Jejamuran sudah kami ajak untuk turun dan ikut makan siang bersama kami. Mereka pun duduk di antara kami. Tak ada beda, tak ada batas. Tentu saja ini satu sesi mata pelajaran berharga bagi saya pribadi.

Banyak yang saya petik dari bapak dua anak ini. Ayah yang menurut saya berhasil mendidik anak-anaknya, Ara dan Ero. Sebagaimana yang dikisahkan Aqua mengenai kedua anaknya. Ara di Seoul, belajar mendapatkan beasiswa dan bekerja sebagai tour guide profesional. Sangat mandiri. Juga Ero yang kuliah di Bandung dengan rasa sosial yang tinggi terhadap teman-temannya.

Pada siang itu, dengan memakai kaos yang sama dengan awak Jayakarta News, rasanya kami dengan Aqua pun tidak ada jarak. Kami pun menjadi keluarga besar. Menjelang selesai makan siang, kembali Aqua menawarkan untuk ‘bertemu’, mengisi malam Minggu di Angkringan Gadjah, Jl Kaliurang.

Aqua Dwipayana menjamu makan malam santai di Angkringan Gadjah, Jl. Kaliurang, Yogyakarta. (foto: dok jayakartanews)
Ny Retno Aqua Dwipayana ikut menyambut rombongan Jayakarta News di Angkringan Gadjah. (foto: dok jayakartanews)

Kami memenuhi undangan itu, dengan pemberitahuan bahwa pukul 19.00 – 22.00 di Wisma Ainard kami mengadakan acara syukuran Ultah ke-2 Jayakarta News, dengan acara sederhana berupa pemotongan tumpeng, doa bersama, dan refreshing nyanyi-nyanyi dan bermain game yang dipandu Rina Ginting. Itu artinya, kami akan memenuhi undangan itu selepas rangkaian acara ultah selesai.

Sekira pukul 22.30 (mungkin lebih sedikit), kami tiba di Angkringan Gadjah, Jl Kaliurang. Aqua bersama istri dan salah satu putranya Ero dan beberapa teman, sudah ada di sana menanti kedatangan kami. Makan dan ngobrol bersama Aqua membuat saya tambah mengaguminya.

Setelah sesi “ngangkring” selesai kami pun berpamitan, bersalam-salaman, disertai doa kedua pihak semoga bisa berjumpa di lain kesempatan. Satu per satu pesanan taksi online datang menjemput. Sejauh itu, Aqua tetap menunggu di luar bersama kami. Satu per satu taksi online datang. Saya adalah yang mendapatkan taksi terakhir. Satu mobil dengan sahabat saya, Eddy Koko dan Achmad “Abah” Fachrudin.

Saya sempat mengatakan, “Kami tidak usah ditunggu Pak, silakan bapak duluan.” Namun, kembali dengan senyumnya, Aqua mengatakan, “Tidak apa-apa, saya tunggu sampai selesai semua.” Aku hanya bisa membatin, “ini manusia luar biasa.” Semua ilmu silaturahim, semua hakikat silaturahim, semua nilai dan prinsip hidup, prinsip berbuat baik, berkata baik, berpikir positif, dan semangat berbagi, tersaji di depan mataku bukan sebagai teori. God bless you Mr Aqua….. (melva tobing)

Tumpenggan Syukuran Ultah Jayakarta News ke-2, di Wisma Ainard, Yogyakarta, Sabtu (2/2/2019). (foto: dok jayakartanews)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *