• Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
Thursday, October 1, 2026
  • Login
Jayakarta News
Advertisement
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result

Jalur Kereta Kedungjati – Tuntang akan Diaktifkan

Jalur Kereta Kedungjati – Tuntang akan Diaktifkan

admin by admin
April 24, 2026
in Kolom
1
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Djoko Setijowarno

PT Kereta Api Indonesia tengah menyiapkan langkah strategis untuk mereaktivasi jalur KA Kedungjati – Tuntang sepanjang 30 km. Langkah ini diyakini akan membuka keran potensi ekonomi baru bagi masyarakat di Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga .

Jalur kereta api Kedungjati–Tuntang menyimpan kisah legendaris sekaligus tragis dalam sejarah perkeretaapian Indonesia. Sebagai bagian dari rute penghubung Semarang ke Ambarawa, kini nafas sejarahnya masih bisa dirasakan melalui kereta wisata yang aktif melayani rute Tuntang hingga Bedono.

Jalur rel menuju Ambarawa merupakan percabangan dari pelintasan utama stasiun kereta api pertama Stasiun Semarang di Semarang menuju Vorstenlanden atau daerah yang dikuasai raja-raja pribumi di Surakarta dan Yogyakarta. Titik percabangannya ada di Stasiun Kedungjati setelah Stasiun Tanggung, Grobogan.

Mengutip dari Kompas (1 Maret 2014), bangunan Stasiun Ambarawa ditetapkan menjadi Museum Kereta Api Ambarawa sejak 6 Oktober 1976. Pada era Hindia Belanda, stasiun itu bagian penting jalur kereta api pada masa-masa awal.

Stasiun Willem I selesai dibangun dan mulai dioperasikan untuk lintas kereta api cabang Semarang-Kedungjati-Ambarawa pada 21 Mei 1873. Nama Willem I disematkan sesuai nama benteng logistik dan barak militer Hindia Belanda—Benteng Willem I—yang tak jauh lokasinya dari stasiun. Adapun Benteng Willem I dibangun pada 1834-1845. Masyarakat setempat hingga kini menyebutnya sebagai Benteng Pendem (terpendam).

Jalur ini dibangun oleh perusahaan swasta Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Dibuka 21 Mei 1873 menghubungkan pelabuhan di Semarang dengan benteng militer di Ambarawa (Willem I) serta mempermudah pengangkutan komoditas hutan dan perkebunan seperti kayu jati, kopi dan gula dari pedalaman Jawa Tengah. Nama Willem I itu diambil dari nama raja pertama Kerajaan Belanda, Willem Frederik Prins van Oranje-Nassau (1772-1843).

Jalur rel ini dibangun perusahaan swasta NS. Percabangan jalur rel Kedungjati menuju Ambarawa sepanjang 37 kilometer memiliki keistimewaan. Saat pembangunan jalur Semarang-Vorstenlanden, NIS didera kesulitan modal. Namun, Pemerintah Hindia Belanda bersedia memberikan pinjaman modal dengan bunga 4,5 persen.

Pasca-Perang Diponegoro (1825-1830), Ambarawa ditetapkan sebagai titik pertahanan militer yang sangat strategis karena lokasinya yang menghubungkan Semarang, Yogyakarta, dan Surakarta. Urgensi pengerahan pasukan inilah yang mendorong pembangunan rel kereta api secara masif di sana.

Begitu vitalnya Jawa Tengah bagi Hindia Belanda, hingga hampir seluruh wilayahnya terhubung oleh rel, kecuali Salatiga. Kota Salatiga menjadi satu-satunya wilayah yang terisolasi dari jalur kereta api, salah satunya karena tantangan kondisi geografisnya yang sulit.

Rute ini menawarkan pemandangan memukau, meski pembangunannya menuntut ketangkasan teknis yang luar biasa. Jalurnya membelah perbukitan dan hutan jati yang rimbun, dengan jembatan-jembatan tinggi yang menjulang gagah di atas sungai serta lembah sebagai ciri khas utamanya.

Layanan reguler di jalur ini akhirnya terhenti pada tahun 1976. Keputusan sulit tersebut diambil karena kereta api mulai kalah bersaing dengan bus dan truk, ditambah kondisi prasarana yang kian menua serta biaya perawatan yang membengkak. Di saat minat penumpang menurun drastis, kebijakan pemerintah kala itu pun mulai berpaling dari angkutan umum seiring masuknya pengaruh industri otomotif.

Rencana Reaktivasi

Antara tahun 2013 dan 2015, harapan untuk melihat kereta api kembali melintas di jalur ini muncul lewat proyek reaktivasi oleh Kemenhub. Jalur sepanjang 30 km yang menghubungkan Kedungjati dan Tuntang ini direncanakan bisa aktif kembali. Sayangnya, progres fisik yang sempat berjalan baru mencapai pemasangan rel sepanjang 1,2 km dari Stasiun Kedungjati.

Reaktivasi ini bertujuan menghidupkan pariwisata menuju Museum Kereta Api Ambarawa dan Benteng Pendem (Fort Willem I). Keberadaan jalur ini juga mempermudah akses wisatawan ke destinasi ikonik sekitarnya, mulai dari Candi Gedong Songo, Rawa Pening, pendakian Gunung Ungaran, hingga kesejukan Umbul Sidomukti, Kopeng, dan Bandungan.

Meski pengerjaan fisik berupa pemasangan rel dan bantalan beton sempat berjalan, proyek ini akhirnya terhenti akibat kendala dana dan teknis. Kini, kondisi infrastruktur di lapangan terbengkalai; banyak bagian rel yang telah terpasang  kembali tertutup rapat oleh semak belukar.

Jalur ini menghubungkan titik-titik bersejarah seperti Kedungjati hingga Tuntang, melintas unik di bawah jalan Tol Semarang–Solo. Jika aktif kembali, rute ini akan mengubah fungsi Stasiun Tuntang dari sekadar tempat wisata menjadi titik keberangkatan kereta api jarak jauh menuju Jakarta dan Surabaya.

Dulu, Stasiun Tuntang merupakan pusat logistik ternak yang vital. Stasiun ini memiliki infrastruktur khusus untuk memindahkan sapi ke dalam gerbong kereta, yang kemudian dikirim langsung menuju Stasiun Cipinang di Jakarta.

Kemanfaatan

Kembalinya denyut jalur Kedungjati–Tuntang bukan sekadar menghidupkan rel tua, melainkan memicu efek domino bagi ekonomi dan pariwisata Jawa Tengah, khususnya di Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga.

Reaktivasi ini akan menyempurnakan jalur melingkar (loop line) Jawa Tengah yang menghubungkan Semarang, Yogyakarta, hingga Solo. Wisatawan dari Jakarta atau Surabaya pun bisa langsung menuju Ambarawa tanpa terjebak macet di ruas Ungaran–Bawen. Selain itu, jalur ini akan memperlancar mobilitas warga antar-kota satelit di sekitar Semarang melalui integrasi transportasi yang lebih efisien.

Jalur ini menyuguhkan pengalaman unik naik kereta uap melewati hutan jati dan jembatan bersejarah. Jika terhubung, wisatawan dapat menikmati perjalanan terpadu yang menghubungkan Stasiun Kedungjati, Rawa Pening, hingga Museum Ambarawa secara langsung.

Menghadapi risiko kecelakaan di ‘jalur tengkorak’ Bawen, kehadiran kereta komuter menjadi alternatif vital untuk mengurangi volume kendaraan di jalan raya nasional. Selain mempermudah mobilitas penumpang, jalur ini memiliki potensi strategis untuk angkutan logistik dari wilayah Tuntang, Bringin, hingga Kedungjati guna menggerakkan ekonomi pedalaman.

Reaktivasi ini akan menghidupkan kembali stasiun-stasiun yang lama mati, seperti Bringin dan Gogodalem, sekaligus memicu titik-titik ekonomi baru mulai dari penginapan hingga jasa transportasi lokal. Bagi warga di daerah terpencil seperti Gogodalem yang sulit dijangkau, jalur kereta api akan menjadi urat nadi transportasi yang lebih cepat dan mudah menuju pusat kota.

Reaktivasi adalah kunci untuk menyelamatkan aset negara dari kerusakan dan penyerobotan lahan. Dengan perawatan rutin melalui operasional jalur, bangunan stasiun dan jembatan bersejarah dapat terjaga fungsinya. Ini adalah upaya nyata melestarikan warisan jalur kereta api tertua di Indonesia agar tidak sekadar menjadi kenangan yang hilang. ***

Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI)

Tags: aktivasi jalur kereta kedungjati tuntangjalur kereta kedungjati tuntangkereta api
Previous Post

OpenAI Rilis GPT-5.5 Membawa Perusahaan Selangkah Lebih Dekat Menuju ‘Aplikasi Super’ AI

Next Post

Biro Hukum KP2MI Perkuat Kompetensi ASN dalam Penyusunan Produk Hukum

admin

admin

Next Post
Biro Hukum KP2MI Perkuat Kompetensi ASN dalam Penyusunan Produk Hukum

Biro Hukum KP2MI Perkuat Kompetensi ASN dalam Penyusunan Produk Hukum

Comments 1

  1. Muhamad Rofi'i says:
    5 months ago

    Semoga segera terwujud. Insya’Allah akan menjadi jalan penggerak ekonomi, melestarikan , menjaga aset negara dan sangat membantu masarakat pengguna kereta api daerah salatiga yang kesulitan jarak antara stasiun semarang / solo

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Activity
  • Blog
  • Feature Terbaru Hari Ini
  • Home
  • INDEKS
  • KODE PERILAKU PERUSAHAAN PERS
  • Konfirmasi Pembayaran
  • Kontak
  • Members
  • Pasang Iklan
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PENGELOLA JAYAKARTA NEWS

© 2018 JayakartaNews

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah

© 2018 JayakartaNews

Go to mobile version