Rindu Lukisan, Rindu Teater Alam

 Rindu Lukisan, Rindu Teater Alam
Montserrat (Daning) dikawal masuk ruang. Tampak tokoh Padre (Bambang Wartoyo), dalam pementasan Montserrat oleh Teater Alam, di Concer Hall, Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu (8/12/2018). (Foto: Ronny AN)

Bilangan 47 tahun adalah sebuah perjalanan panjang yang pantas diapresiasi untuk sebuah grup kesenian khususnya teater. Dalam hajat ulang tahunnya, pentas Montserrat yang digelar Sabtu (8/12/2018) di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta, menjadi obat kangen para seniman teater generasi senior dan rasa penasaran generasi muda. Maka tumpleklah penonton lintas generasi memenuhi gedung pertunjukan. Hingga pertunjukan selesai penonton riuh menyalami para pemain dan anggota teater alam, suasana renyah penuh kerinduan pun nampak. Tak heran pendiri, guru besar Teater Alam yang pantas disebut Datuk Teater Indonesia, nampak sedikit kewalahan menerima sapaan dari berbagai pihak.

Sajian Teater Alam yang disutradarai Puntung CM Pudjadi mendapatkan apreasiasi dari berbagai pihak yang malam itu sukses menggelar pertunjukan. Semua yang ada di dalam gedung terasa mengalami euforie, meski kurang jelas, untuk apa? Jika mau obyektif kita mesti sedikit meninggalkan sejenak senyuman atas ucapan selamat. Tidak ada salahnya kita membahas “menu” yang ditonton, didengar serta ditelan ke dalam hati dan pikiran.

Kiranya sudah banyak catatan atas pementasan Montserrat malam itu. Sudut pandang pun beragam. Ini sangat baik, bagi proses evolusi teater yang tidak akan pernah mati, sampai kapan pun.

Saya pertama-tama menyimak karya Memet Ch, komposer Gangsadewa yang menjadi penata music. Dengan notasi aransemennya telah mengawali opening scene yang memikat. Sayang tidak didukung sentuhan tata lampu hingga terasa musik hanya menjadi pertanda dimulainya sebuah tontonan.  Hentakan dialog di awal terasa kurang menggigit. Adegan per adegan nyaris datar dan menjadikan kegelisahan sendiri bagi penulis, apa benar ini pertunjukan Teater Alam? Warna karakter sebagai cantrik yang pernah digembleng Azwar AN nyaris tak tampak. Hanya pada adegan Meritz Hindra, Udik, Giri, serta Anastasia meyakinkan penulis bahwa ini adalah Teater Alam.

Pementasan Montserrat, banyak catatan sekaligus banyak pujian. (Foto: Ronny AN)

Meritz sangat piawai memainkan tokoh Kolonel Isquierdo. Irama dialog berhasil dimainkan demikian elok diimbangi kenakalan akting serta manisnya berimprovisasi sehingga karakter yang dimainkan boleh dibilang hidup dan menggemaskan. Belum lagi ketika masuk adegan jelang dihukum tembaknya Udik yang memerankan aktor Salcedo. Nampak memikat, chit chat keduanya yang penuh improvisasi boleh diacungi jempol. Namun dari semua peran, tokoh Montserrat (Daning) tak bisa membuktikan apa-apa dalam lakonnya. Serasa seperti anggota Teater Alam yang baru berlatih. Respons terhadap lawan dialog sangatlah minim hingga hanya nampak seperti set yang bernafas. Tak nampak power sama sekali. Sementara, aktor gaek Gege Hang Andika, dalam usianya yang semakin tua lumayan menunjukkan siapa dirinya, walaupun tidak sekuat ketika melakonkan Oidipus.

Sedangkan para pemain muda, tidak cukup diperbandingkan dengan para seniornya. Mereka adalah calon-calon aktor yang sedang berproses menuju kematangan berakting.

Bagaimana halnya setting dan artistik pementasan? Set dan properti serta kostum diinterpretasikan dengan baik, dan serius. Hanya pada efek polesan nuansa sebuah bangunan terlalu hardcore, hingga terkesan kumuh, terlebih tata lampu yang dikomandani oleh Edo tidak mendukung, baik suasana ataupun mewakili adegan per adegan. Totalitas tata cahaya boleh dibilang flat, tanpa bisa mewakili emosi apa pun. Akibatnya, make up karakter pemain tak optimal tersaji.

Dalam closing memang tampak menawan. Penata musik Memet melakukan tugas sebagai ilustrator musik yang berhasil memungkasi pertunjukan dengan anggun.

Dari menikmati pergelaran Montserrat penulis akhirnya berpaling pada Puntung CM Pudjadi, sanga sutradara. Mencoba menganalisa dalam penyutradaraan. Mungkin saja ia mempercayakan begitu saja kepada pemainnya, perkewuh untuk mendikte atau karena terlalu serius dan kawatirnya pada para pemain hingga detail tak tergarap dengan baik. Padahal ia adalah sosok sutradara idealis. Akhirnya penulis hanya bisa menganalisa bahwa sutradara dalam keadaan perkewuh hingga mempengaruhi totalitasnya.

Galib dan jamak, bahwa tidak ada gading yang tak retak, pada akhirnya toh harus diapresiasi, bahwa Teater Alam dengan Montserrat tetaplah layak mendapatkan acungan jempol. Penulis mengapresiasi sedulur Teater Alam dan sangat memaklumi akan semua kendala yang ada. Semoga Teater Aalam selalu jaya berkiprah dalam budaya dan lebih bersaudara. Salam. (gde mahesa)

Dari kiri: Edo Nurcahyo (Pimpro), Tertib Soeratmo, Azwar AN, dan Puntung CM Pudjadi (sutradara). (foto: Ronny AN)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *