Review Film: Hasrat yang Terlarang

 Review Film:  Hasrat yang Terlarang

JAYAKARTA NEWS - Sebuah  tema yang sangat langka untuk diangkat dalam sebuah film. Mungkin malah agak tabu. Tapi, itulah daya pikat yang coba diraih  sutradara Robby Ertanto Soediskam. 

Film yang tayang mulai  11 April 2019 ---lolos sensor untuk 17 tahun ke atas--- ini berkisah tentang perjalanan karir Suster Maryam, 40 tahun, yang diperankan oleh Maudy Koesnaedy. Suster  ini bertugas mengurus suster sepuh di Kesusteran Gedangan, Semarang. 

Suatu hari, Romo Martin (Joko Anwar) memperkenalkan suster Monik (Tutie Kirana) sebagai penghuni baru Kesusteran. Suster Monik juga ditemani Romo Yosef (Chicco Jerikho) yang tampan. Usianya baru 30 tahun. 
Romo Yosef adalah 'anak angkat' suster Monik. Cuma,  tidak begitu jelas kapan dan dari mana anak tersebut dipungut. 

Suster Mila (Olga Lydia) sebagai penanggungjawab Kesusteran, menyambut riang kedatangan dua penghuni baru tersebut. 

Terlebih lagi, Romo Martin menjanjikan kepadanya bahwa Romo Yosef akan mengajari orkestra bagi para  'pelayan Tuhan' itu.

Ternyata mereka  ternyata bukan hanya sebagai pelayan agama, tapi juga sebagai manusia. Ada deviasi dari akar pemahaman publik mengenai pelayan Tuhan yang selama ini dikenal 'suci'. Fakta itu apakah  pembenaran atau sebuah excuse, bahwa  'suster juga manusia'?

Singkat kata,  melihat kepiawaian  Romo  dalam bermain musik dan mengajak para suster sepuh berdansa, suster Maryam jatuh hati. 

Demi melihat adanya perkembangan yang tidak lumrah  di Susteran, Suster Monik yang rapuh namun berpengalaman itu, mencoba menasehati Romo Yosef.

Sedih. Dia tak sanggup mencegah apa yang seharusnya tidak terjadi di kesusteran, karena Suster Maryam dan Romo Yosef  dia-diam menjalin hubungan terlarang. 

Sebuah adegan bagus divisualisasikan di film ini. Didorong  hasrat yang meledak-ledak, mereka berhubungan pasir putih, pantai di Semarang. 
Penata kamera Ical Tanjung menggarap dengan  beberapa adegan artistik. Kedunya basah kuyup naik mobil yang dikemudikan Romo Yosef, mengantar Suster Maryam ke Susteran. 

Titik-titik air hujan lebat nan mengguyur bumi, berhasil dipindahkan ke layar lebar. Tengok adegan Romo Yosef yang kedinginan tengah mengisap rokoknya dalam-dalam di depan Kesusteran. Di sini, peran seorang penata rias Didin Syamsudin, menunjukkan kelasnya.  

Penyelesaian sengaja dibuat  open ending setelah pengakuan dosa suster Maryam yang menangis tersedu-sedu di ruang pengakuan dosa di gereja, dia siap 'dihukum' (dan uniknya, pastor yang dilapori curhat suster Maryam adalah romo Yosef. Sebuah satire yang elok), akhirnya suster Maryam dihadapkan oleh dua pilihan : bertahan pada 'kaul'-nya atau memilih Yosef. 
 Dengan memilih Yosef, berarti suster Maryam dan romo Yosef harus keluar dari Kesusteran dan suster Maryam tidak lagi menjadi 'pelayan Tuhan'.
 Jujur, 'Ave Maryam' adalah sebuah film tentang cinta, kejujuran, toleransi dan pengabdian pada kemanusiaan. 
  "Saya muslim. Tapi semua penganut agama apapun,  pasti ingin berbagi pengalaman mencintai diri Anda dan dunia," ungkiap Robby Ertanto Soediskam. 
  Seni peran Maudy Koesnaedy dan Tutie Kirana boleh diacungi jempol. Suster Maryam melayani Suster Monik dengan teliti, dari memandikan, memberinya lauk di meja makan, memberikan obat  hingga menyelimutinya menjelang tidur malam. Bahkan, tatkala suster Monik sakit dan badannya panas, suster Maryam tetao menjaganya. 
   Lain lagi suster Monik. Dia banyak terdiam dan ingatannya sering sedikit hilang. Justru dengan keterdiamannya itulah, Tutie Kirana unggul mengekplorasi perilakunya sebagai seorang biarawati sepuh nan renta dan dingin melalui bahasa tubuh. Sangat tidak mudah berakting seperti itu, tapi Tutie Kirana berhasil memerankannya dengan baik,
   Tak boleh dilupakan juga kerja penata musik RooftopSound yang menampilkan musik melankolis saat adegan 'perpisahan' suster Maryam dan romo Yosef di Kesusteran dan musik nan riang saat romo Yosef mengajarkan orkestra yang mengiringi 'anak-anak Tuhan' berlatih lagu-lagu Natal karena perayaan hari kelahiran Yesus Kristus sebentar lagi tiba. Saat adegan memandikan suster sepuh dan beberapa adegan sendu yang lain, musik dibiarkan kosong. 

    Sebuah film bagus dan bermutu yang sudah jarang kita jumpai di masyarakat. Meski dipotong 2 menit oleh sutradaranya (adegan di pantai antara dua insan Tuhan), toh inti cerita film 'Ave Maryam' secara keseluruhan tetap bisa dinikmati dan direnungkan.
    Tabik buat Robby Ertanto Soediskam, sutradara dan penulis skenario. (Ipik Tanoyo)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *