Pentas Montserrat Teater Alam, “Asu Tenan”

 Pentas Montserrat Teater Alam, “Asu Tenan”
Pementasan Montserrat olehTeater Alam, di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu (8/12). (foto: rakhmat supriyono)

Sebelum tergelincir pada miss-persepsi, baiknya kita sepakati dulu. Diksi “Asu Tenan” dalam konteks judul di atas adalah sebuah komplimen. Pujian habis-habisan. Orang Yogya acap misuh (memaki) “Asu Tenan” untuk sesuatu yang dianggapnya luar biasa.

Setelah lurus, mari kita lihat, betapa pemberitaan media massa Yogyakarta pagi hari ini (9/12) bertabur apresiasi dan puja-puji atas pementasan Montserrat oleh Teater Alam, memperingati ultah ke-47, sanggar besutan Azwar AN itu. Pentas di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta benar-benar “banjir”. Hall berkapasitas 900 seat, semalam tak kuasa menampung animo penonton yang datang tidak saja dari Yogyakarta, tetapi juga dari kota-kota lain seperti Purworejo, Solo, bahkan Jakarta. Sebagian dari mereka digiring panitia untuk duduk di area kosong depan stage.

Yang membanggakan, lebih separuh penonton adalah siswa SLTA dan mahasiswa. Ini sebuah gairah teater Yogyakarta, yang untuk sekian lama menjadi barometer teater Tanah Air. Rakhmat Supriyono, mantan Kepala Sekolah SMKI Bugisan berkomentar, “Masyarakat Yogya rindu teaer. Masyarakat juga rindu Teater Alam,” ujarnya.

Tampak pula para budayawan senior kota Yogya. Selain Azwar AN, tampak duduk di barisan depan Tertib Soeratmo. Di bagian yang lain, tampak Yani Sapto Hudoyo, Ashady PAKYO, Untung Basuki, dan masih banyak lagi. Jika kemudian banyak media menyorot positif, salah satunya pasti karena nyaris tidak satu pun beranjak dari tempat duduk, sejak awal hingga pertunjukan usai dengan durasi hampir dua jam.

Kolonel Isquierdo (Meritz Hindra) akhirnya menembak Montserrat (Daning Hudoyo). (Foto: rakhmat supriyono)

Jalannya Pertunjukan

Lakon Montserrat, menceritakan tentang Kapten Montserrat, seorang tentara Kerajaan Spanyol yang nota bene penjajah Venezuela. Diam-diam, kapten ini bersimpati kepada tokoh pejuang kemerdekaan pribumi bernama Simon Bolivar. Dalam satu peristiwa krusial, Montserrat justru melindungi dan meloloskan Simon Bolivar dari buruan tentara kerajaan Spanyol, yang tak lain adalah kawan-kawan sepasukan.

Sepanjang lakon dipentaskan, kisahnya berkutat pada strategi kejam Kolonel Isquierdo (Meritz Hindra) menginterogrsi Montserrat, agar mau menunjukkan di mana persembunyian Simon Bolivar. Cara intimidasi tidak mempan, maka digelandanglah enam rakyat tak berdosa. Ada tukang poci yang imigran, ada seorang ibu yang ditangkap ketika sedang beli roti di jalan, ada saudagar kaya, ada seniman drama, ada Elena gadis Indian berusia 19 tahun, dan seorang pemuda yang sedikit revolusioner.

Keenam orang tak berdosa itu ditugaskan mengorek keterangan Montserrat, tentang di mana Simon Bolivar disembunyikan. Mereka diberi waktu satu jam. Jika gagal, maka satu per satu akan ditembak mati. Karuan saja, keenam orang itu membujuk dan merayu Montserrat agar mau mengaku,  dengan berbagai alasan alasan. Tapi Montserrat bergeming. Alih-alih membuka rahasia, Montserrat justru beralibi, apa yang ia lakukan jauh lebih berguna bagi jutaan raykat Venezuela ke depan. Sebab, Simon Bolivar-lah harapan membebaskan Venezuela dari penjajahan Spanyol. Itu artinya, apalah arti nyawa Montserrat. Apalah arti nyawa keenam orang tak berdosa itu, dibanding sebuah kemerdekaan.

Adalah tukang poci yang sangat emosional. Ia hendak mencekik Montserrat, karena tak juga mau mengaku, sementara nyawanya menjadi terancam. Di tengah keributan dan kebutuan itulah, Kolonel Isquierdo masuk. Ia tidak lagi memperpanjang waktu. Ia langsung mengeksekusi satu per satu, melalui serentetan drama yang menyertai pembunuhan satu demi satu orang dengan beragam profesi itu.

Tepat pada korban keenam, anak buahnya tergopoh masuk dan mengabarkan ratusan gerilyawan pimpinan Simon Bolivar masuk menyerbu markas. Kolonel Montserrat spontan membidikkan pisitol dan menembakkannya ke tubuh Montserrat yang mati seketika. Saat Isquierdo hendak lari, serentetan tembakan gerilyawan menghentikan langkahnya. Ia pun mati terkapar di atas mejanya sendiri.

Meritz Hindra, tampil prima sebagai Kolonel Isquierdo. (foto: rakhmat supriyono)

Meritz “Asu Tenan”

Jika ada pemain yang harus dipuji dengan “asu tenan”, adalah Meritz Hindra. Aktor gaek, angkatan pertama Teater Alam (1972) dan sudah malang melintang di panggung teater Jakarta itu, bermain stabil. Stamina prima. Hafalan teks luar kepala. Ia menyajikan seni akting yang sangat berkelas.

Montserrat yang diperankan aktor senior lain, Daning Hudoyo, tampil kurang maksimal. Setidaknya jika kita sandingkan dengan kebesaran namanya, hingga dijadikan judul naskah (Montserrat) oleh penulis Emmanuel Robles. Jeda dialog yang lama, memang menjadi ancaman serius bagi seorang aktor untuk bisa tetap fokus dan responsif atas dialog lawan main.

Di sini, Daning gagal mengeksplor akting dalam diam. Akting merespons dialog-dialog lawan main yang bisa mempertebal bangunan irama cerita yang sedang dibangun. Akting dalam posisi duduk dengan tangan dan kaki terborgol hampir sepanjang durasi. Memang bukan pekerjaan yang mudah. Bahkan, kurang berhasil memberi bobot artikulasi dan makna setiap kata yang ia ucapkan. Padahal, musik garapan Memet, begitu bagus mengiringi beberapa dialognya.

Tiga aktor yang membuka pementasan: Dinar Setiyawan (Kapten Morales), Eddy Jebeh (Kapten Zuazola), Daru Maheldaswara (Kapten Antonanzas), nyaris gagal membangun jalannya cerita. Pemeran Ricardo (MN Wibowo) masuk ke panggung sebagai rakyat tak berdosa yang pincang kaki karena sakit. Tp di tengah permainan, tinggal sedikit saja pincangnya. Di akhir jelang eksekusi, malah sudah tidak pincang lagi. Sebuah detail yang ia lupakan.

Pemain senior lain yang patut dipuji adalah Gege Hang Andhika serta Anastasia yang memerankan ibu. Udik Supriyanta (aktor Juan Salcedo Alvares) bermain prima. Wahyana Giri MC (pembuat poci) cukup total menghayati perannya. Dina Mega? Artis muda pemeran Elena sungguh menjadi bunga segar di antara penampilan aktor-aktris gaek lain.

Sutradara Puntung CM Pudjadi, betapa pun telah bekerja keras menjadikan pentas ulang tahun Teater Alam ke-47 ini sukses. Dan memang sukses besar. Dukungan Palgunadi Puspowijoyo yang menyiapkan setting dan properti, menjadikan persembahan Puntung dipuji khalayak. Ia hanya perlu sedikit memoles detail, jika lakon “Montserrat” ini hendak di-“road-show”-kan ke sejumlah kota. Dan memang layak. (roso daras)

Anastasia (pemeran Ibu) bermain total. (foto: rakhmat supriyono)
Keseluruhan pendukung pementasan Montserrat oleh Teater Alam. Pemain, sutradara, penata lampu, penata set, musik, make-up, dan lain-lain (foto: nana azmita)
Sebagian keluarga besar Teater Alam, foto bersama Azwar AN (tengah bertopi). (Foto: nana azmita)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *