Panggung Bayu Wardhana, Pelukis On the Spot

 Panggung Bayu Wardhana, Pelukis On the Spot

BAGI pelukis, pameran adalah panggung, di mana dia bisa berkomunikasi dengan masyarakat melalui lukisan yang dipamerkan. Namun bagi Bayu Wardhana (52), pameran bukanlah satu-satunya panggung. Bahkan sejak kanvasnya masih putih ditenteng menuju suatu tempat yang akan dijadikan obyek melukisnya, Bayu sudah mendapatkan panggung. Ketika ia mulai menggelar tikar, mengeluarkan cat dan menatanya di samping tikar, orang-orang berdatangan menonton Bayu melukis.

Penampilannya yang khas seniman, rambut gondrong diikat ke belakang, berjenggot panjang pula, kumisnya tebal, selalu menarik perhatian orang-orang yang berada di sekelilingnya. Belum lagi ulahnya yang senang menarik perhatian orang. Atau ucapannya yang keras mengomentari sesuatu secara spontan, mau tak mau membuat orang menoleh kepadanya. Tak jarang orang dibuat tertawa mendengar ocehannya.

Bayu memang orang panggung. Tak hanya soal lukisan, karena dia juga amat suka bermusik, bermain musik atau bernyanyi, terutama lagu-lagu Queen. Tak terhitung berapa kali dia manggung dalam musik. Dia amat senang melihat respons orang terhadap apa pun ulahnya. Bahkan, dia sangat menikmati decak kagum orang-orang di sekelilingnya.

Adalah Ong Hari Wahyu yang kemudian mengolah konsep untuk Bayu dalam berseni-rupa. Ong menamai orang panggung satu ini dalam label ‘pelukis on the spot’. Konsep ini sangat cerdas karena pelukis on the spot yang menonjol boleh dikata lowong di Indonesia dan cocok disandang seorang Bayu Wardhana karena Ong sangat mengenal karakter ayah delapan anak ini.

Dukungan pun lantas mengalir dari teman-teman lainnya. Seniman kondang sekelas Butet Kartaredjasa pun ikut urun rembug untuk memberi support Bayu. Juga Romo Sindhunata, Oei Hong Djien, kolektor Telly Liando, kurator Suwarno Wisetrotomo, dan lainnya. Bahkan, bulan Agustus tahun lalu (2016), kolektor Agung Tobing membuatkan buku setebal 308 halaman yang diberi judul “Bayu Wardhana On The Spot”. Buku itu diluncurkan bersamaan dengan pameran tunggal Bayu yang keempat di Taman Budaya Yogyakarta, 14-24 Agustus 2016.

Tak berhenti sampai di situ. Bayu terus berkarya dengan melukis tempat-tempat indah di berbagai kota. Berbagai land mark, bangunan heritage di Jogja, Bali, Jakarta, Samarinda, Shanghai (China) hingga Yangon (Myanmar) menjadi obyek lukisannya. Di antaranya, Candi Borobudur dan tujuh gunung, Candi Sambisari Jogja, Malioboro Jogja, Joglo Burza Samarinda, Kota Tua Jakarta, Taman Surapati Jakarta, Gereja Blenduk Semarang, Ruko Pasar Johar Semarang, Pondok Tingal Magelang, Kota Gede Jogja, Rumah Kampung di Blora, Taman Sriwedari Solo, Tanah Lot Bali, Pura Besakih Bali, Great Wall China, Pasar Antik di Shanghai, Kampung Zuchou China, Klenteng Fu Yei China.

“Cara melukisnya sangat mengandalkan kekuatan insting. Cara dia melukis on the spot yang bermodal ketajaman pandangan mata dan membiarkan kwas menari-nari di atas kanvas, terasa betul digerakkan oleh insting artistik. Pikiran seakan-akan hanya berfungsi menyeleksi obyek-obyek yang dilukisnya. Kemampuan mempertimbangkan citra artistik, memilih warna dan keputusan mengeksekusi sabetan kwas, seolah-olah telah inheren menjadi laku tindakan yang menyatu,” tulis Butet Kartaredjasa dalam buku ‘Bayu Wardhana on The Spot’. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *