Di Tanoker, Tambah Pinter dan Banyak Order

 Di Tanoker, Tambah Pinter dan Banyak Order

UMUL Karimah tidak lagi meratapi nasibnya. Pengalaman pahit menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di negeri jiran sudah ditinggalkannya setahun lalu. Ibu dua anak itu memutuskan pulang kampung di Kecamatan Ledokombo, Jember, Jawa Timur. Di Kampung halamannya yang asri itulah Umul Karimah memulai kehidupan barunya bersama suami dan kedua anaknya.

Di sela rutinitas mengurus rumah tangga, Umul membuat berbagai kerajinan tangan seperti tas, dompet, tempat pensil, dan tas laptop. Ia juga membuat aneka bros dan kalung dari manik-manik. “Setiap minggunya selalu ada  pesanan untuk membuat tas dan dompet,” katanya.

Dengan aktivitas barunya, Umul mengaku memiliki penghasilan tambahan. Ia juga tidak lagi mengandalkan penghasilan suaminya yang pas-pasan. Bayangkan bila sedang banyak pesanan, Umul mengaku bisa memperoleh penghasilan Rp 1 juta per hari.

Umul menceritakan, ia memperoleh pengetahuan keterampilan membuat kerajinan sejak bergabung di komunitas Tanoker, di Kecamatan Ledokombo, tak jauh dari desanya. “Di sana saya dilatih membuat kerajinan tangan,” tuturnya.

Tak cuma terampil. Selama bergabung di Tanoker, Umul juga makin terdidik. Ia sekarang sudah tahu cara benar mendidik anak. “Di Tanoker saya senang. Tambah pinter, dapat uang juga,” kata Umul tersenyum.

Rupanya tak cuma Umul. Nurul Maisaroh, warga Ledokombo juga punya pengalaman sama. Sejak bergabung di komunitas Tanoker, bisa memiliki keterampilan. Mulai dari membuat kerajinan hingga membuat aneka makanan. “Di sini kami tidak hanya belajar, tapi juga mendapat penghasilan,” kata Nurul.

Awalnya Nurul tak begitu tertarik bergabung dengan Tanoker. Ceritanya, saat itu anaknya yang kelas 3 Sekolah Dasar (SD) bergabung di Tanoker. Ia melihat anaknya banyak mengalami perkembangan. “Lebih mandiri dan dewasa,” kata Nurul.

Berangkat dari sanalah, Nurul tertarik bergabung. Di sana warga Ledokombo, saling bagi ilmu pengetahuan. Mulai dari mengasuh anak hingga belajar membuat berbagai jenis kerajinan. Kini kesibukan Nurul lebih banyak dihabiskan di Tanoker. Nurul tak pernah absen mengikuti kegiatan komunitas. Termasuk kegiatan pemberdayaan ekonomi seperti pelatihan membuat  kerajinan tangan.

Berkat Tanoker pula, Nurul kini pandai membuat aneka dompet dan tas. Bahkan ia pernah mengerjakan pesanan 750 dompet. Dari pekerjaan itu Nurul mengaku mendapat penghasilan lebih dari Rp 2 juta.

Selama ini  kata Nurul, ia hanya mengerjakan pesanan. Semua kebutuhan, mulai dari bahan  baku  tas dan dompet disediakan Tanoker. Saat ini ada sekitar 30 orang  yang mengerjakan tas dan dompet.

Menurut Farha Ciciek, aktivis pendiri komunitas Tanoker, meskipun baru berjalan beberapa tahun, pesanan terus mengalir. Ribuan dompet sudah mereka produksi. “Pesanan datang dari sejumlah perusahaan dan lembaga pendidikan,” kata Ciciek.

Bahkan kata Ciciek, perusahaan Lois Jeans Indonesia pernah memesan dompet berbahan jeans. Saat itu Lois memesan 500 dompet. Produknya dijual di gerai mereka di supermarket, seperti Matahari dan Ramayana. Tanoker pernah juga mendapatkan pesanan 50 tas seminar dari sebuah instansi di Bandung.

Menurut Ciciek, selain memenuhi pesanan, aneka kerajinan juga dijual di gerai Tanoker. Di sana terpampang aneka kerajinan berbahan tekstil, seperti dompet, tempat pensil, dompet koin, tas laptop, dan tas seminar. Selain itu juga ada kerajinan berbahan kayu seperti peralatan dapur dari batok kelapa dan miniatur orang bermain egrang. Tidak ketinggalan aneka bros dan kalung dari manik-manik dan bebatuan. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *