Ojek Sepeda, Kesepian di Malam Imlek

 Ojek Sepeda, Kesepian di Malam Imlek

MALAM Tahun Baru Cina, wilayah sekitar Kota Tua, Jakarta Barat, merah-meriah.  Kota Tua terlihat “bahagia” menyambut Sincia. Sorotan lampu  dari banyaknya kendaraan umum dan pribadi, tidak jarang menyilaukan warga yang duduk berderet dengan sepeda tua di ujung Jl. Kopi. Mereka terlihat “kesepian” di ujung jalan itu.

Ojek Sepeda, di wilayah itu, masih terus bertahan mencari rezeki. Seperti yang dialami pria tua yang berdiri sambil memegangi sepeda ontelnya, Mamad  (66). Ia sudah sejak tahun 1986 menarik ojek sepeda. “Tapi sekarang berat. Saya biasa narik malam, dari jam 9-an malam paling dapat 20 ribu sampai jam 4 pagi,” ujar Mamad perlahan.

Ia menambahkan kesahnya, “Sekali bawa orang ke Pasar Ikan atau Gedong Panjang, paling tujuh rebu, kadang malah cuma lima rebu,” kisah Mamad mengenai tarif kayuhan sepedanya. “Kalo sehari bisa dapat 50 rebu, udah syukur banget,” tandas Mamad kepada Jayakartanews.com, Jumat malam (27/1).

Begitu juga yang dialami Santo (46). Pria asal Kebumen ini, sudah sejak tahun 1996 jadi pengojek sepeda. Sehari-hari waktu mengojeknya tidak tentu, bisa pagi, siang atau malam. Menurutnya,  untuk satu minggu saja, belum tentu Santo dapat mengantongi uang 200 ribu rupiah.  “Kalo dari pagi sampai siang, tidak ada yang dibawa, saya terusin sampe malam, itu pun syukur kalo bisa dapat dua rit ke pasar ikan” kisahnya.

“Kadang dari pagi tidak dapat penumpang sampai malam,” ujarnya lagi. Karena itu, Santo tidak segan mengambil pekerjaan sambilan sebagai kuli bangunan. “Tapi jadi kuli bangunan paling cuma beberapa hari, terus balik lagi ngojek. Mau cari 200 ribu seminggu dari oojek sepeda sekarang ini, susah,” cerita Santo terdengar pelan karena suaranya ditelan kemeriahan kendaraan yang tak henti berseliweran di keramaian Kota. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *