Menebar Ikan Menggugah Peduli Bumi

 Menebar Ikan Menggugah Peduli Bumi

KOLAM SUSU yang menjadi tajuk lagu Koes Ploes, memberi gambaran betapa Indonesia memang kaya raya. Abai melestarikannya pun masyarakat sudah banyak yang memahaminya. Masalahnya, orang masih banyak yang enggan atau malah memberi kontribusi pada penyelamatan lingkungan. Tidak peduli pada masa depan bumi.

Hari ini, 22 April, bertepatan dengan Hari Bumi, adalah momen yang tepat untuk mengingatkan penduduk bumi, untuk merawatnya melalui aksi-aksi penyelamatan lingkungan, kecil atau besar. Inilah waktu yang tepat untuk menggugah kesadaran  akan pentingnya menjaga kelestarian alam, antara lain dengan menjaga kebersihan dan memperbaiki ekosistem.

Ancaman banjir yang belum sepenuhnya dapat diatasi dari Ibukota Jakarta, dan banyak wilayah di tanah air, adalah gambaran bagaimana manusia menebar kerusakan lingkungan akan menuai banjir. Alam memperlihatkan, bagaimana manusia harus membayar tunai atas kerusakan lingkungan yang diperbuatnya.

Penyadaran akan pentingnya perhatian terhadap lingkungan hidup ini, Jumat (21/4/2017) dilaksanakan oleh  Pemerintah Provinsi (Pemptov) DKI Jakarta yang bekerjasama dengan  perusahaan penyedia air konsumsi di Jakarta, PT PALYJA.

Aksi yang dilakukan di antaranya  dengan menebar sebanyak 1.000 ekor ikan mujair dan menanam 150 pohon produktif  di bantaran Kali Ciliwung, RW 06 Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kegiatan itu digelar dalam rangka menyambut Hari Bumi tahun ini.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta, Isnawa Adji mengatakan, perayaan Hari Bumi dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam dengan menjaga kebersihan dan memperbaiki ekosistem. “Kita mengapresiasi kepedulian komunitas, perusahaan dan masyarakat terhadap pelestarian bumi, khususnya terhadap Ciliwung,” katanya.

Corporate Communications & Social Responsibilities Division Head PALYJA, Meyritha Maryanie menambahkan, jenis pohon yang ditanam terdiri dari nangka, matoa, cannonball, kayu manis, asam jawa dan kenari. “Kegiatan yang berbarengan dengan perayaan Hari Kartini, kita mengajak generasi muda pentingnya menjaga lingkungan,” tandasnya.

Kegiatan ini tentu saja perlu keberlanjutan dukungannya dari masyarakat. Masyatakat sekarang mungkin perlu mencontoh nenek moyang kita dahulu, yang tidak selalu mengaitkan aksi tanam pohon yang dilakukan dengan apa yang bisa dipetiknya kelak. Kesadaran semacam itu,  memberi kontribusi pada penyelamatan bumi.***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *