Kesaksian Langit Biru tentang Setangkup Rindu

 Kesaksian Langit Biru tentang Setangkup Rindu
Mahmud (paling kanan) saat dijamu makan siang oleh Dr Aqua Dwipayana di Resto Jejamuran, Yogyakarta. Semeja dengan Mahmud tampak, Jumadi, Abah Fachrudin, Eddy Koko, Leo Patty, dan Rina Ginting. (foto: dokpri)

JAYAKARTA NEWS – Entah bagaimana caranya, mas Eddy Koko berhasil menemukan alamat saudara saya di Condet, Jakarta Timur. Dari situlah akhirnya dia bisa melacak keberadaan saya, yang sudah sekian lama pulang kampung ke Desa Kaleng, Kecamatan Puring,, Kabupaten Kebumen – Jawa Tengah. Sudah sekian lama saya meninggalkan ingar-bingar dunia reportase, wabil khusus dunia fotografi jurnalistik.

“Mas Mahmud, Jayakarta akan mengadakan acara di Yogya tanggal 1 – 4 Februari 2019. Jika luang waktu, hadir yaaa, ketemu teman-teman lama,” begitu kurang lebih kalimat pesan Whatsapp yang saya terima beberapa bulan lalu, jauh sebelum acara itu berlangsung. Tanpa pikir panjang, saya menjawab, “Insya Allah,” disertai doa semoga Tuhan mengabulkan keinginanku bersilaturahmi dengan sahabat-sahabat lama, saat saya masih aktif jadi jurnalis-foto di Harian Umum Jayakarta.

Mahmud

Besar atau kecil, berarti atau tidak berarti, saya adalah bagian dari Jayakarta. Lepas dari seberapa besar kontribusi saya buat suratkabar itu, yang pasti, Jayakarta sudah menjadi bagian dari hidupku. Bahkan bagian yang sangat berarti dalam keseluruhan hidupku. Kehidupan menjadi jurnalis-foto atau fotografer di Harian Jayakarta, dalam banyak hal mengubah jalan hidupku.

Adalah Roso Daras, teman sekolahku di SD yang suatu hari mengajakku bekerja menjadi fotografer di Harian Jayakarta yang saat itu masih berkantor di Jl. Otista III, Jakarta Timur. Dia tahu, profesiku saat itu adalah tukang foto keliling. Setiap hari saya menapaki jalan-jalan Ibu Kota, masuk-keluar komplek-komplek perumahan, dan menawarkan jasa foto kepada –umumnya—para pembantu rumah tangga.

Syahdan, ketika diajak bekerja menjadi fotografer suratkabar, sempat ragu dan bimbang. Bahkan, sama sekali belum punya bayangan pekerjaan sejenis apakah “wartawan foto” itu? Modal saya hanya satu buah kamera yang tak lagi muda usia. Apakah ini memenuhi syarat untuk dijadikan alat fotografi jurnalistik?

Singkat kata, saya menerima tawaran itu. Haqul yakin, ajakan Roso Daras (dalam komunikasi langsung, saya tidak pernah lagi menulis atau memanggil namanya tanpa menambahkan embel-embel mas… bahkan pak, di depan namanya, sebagai bentuk respek saya ke beliau)…. teman kecil, sahabat dalam suka-dukanya bocah SD, tidak akan mencelakakanku.

Akhirnya saya mengerti, sahabat masa kecilku menjabat Asisten Redaktur Pelaksana. Belakangan saya tahu juga, ia adalah tangan kanan dan kepercayaan Pak Acin Yasin Maghafier, Pemimpin Redaksi Jayakarta Jl. Otista III. Rupanya, selain saya, ia juga mengajak mas EH Kartanegara. Mantan jurnalis Majalah Berita Mingguan Tempo, yang dipercaya mas Roso memegang desk foto Harian Jayakarta. Jadilah saya diserahkan ke mas Karta.

Mas Karta asli Pekalongan. Orangnya lucu, ulet, tegas, dan profesional. Di dunia kewartananan, saya akhirnya tahu, majalah Tempo adalah majalah berita terbaik di negeri ini. Jalinan kerja dengan dia, mengakibatkan saya pun tahu, mas Karta juga seorang seniman. Dialah satu di antara seniman Yogya yang menamakan diri “3-E”, Emha Ainun Nadjib, Ebiet G. Ade, EH Kartanegara. Sungguh orang yang luar biasa, dan bersyukur sekali bisa mendapat ilmu darinya.

Hubungan kerja selanjutnya lebih intens dengan mas Karta. Setiap hari saya mendapat gemblengan, arahan, bahkan pengetahuan praktis fotografi. Diperkenalkan apa yang disebut foto-jurnalistik. Dilatih cara memilih angle atau sudut pandang. Semua harus saya rekam baik-baik di benak kepala. Betapa tidak, eranya belum lagi era digital. Kami menggunakan rol film (negative film), sehingga harus meminimalisir kesalahan. Pemotretan objek yang keliru, sama artinya dengan kesia-siaan. Bahasa mas Karta, “Buang-buang film saja!”

Alhamdulillah, dalam satu periode, entah tahun berapa, salah satu karya foto saya berhasil memenangi hadiah Adinegoro kategori foto jurnalistik.

Waktu terus berputar, hingga akhirnya Harian Jayakarta berpindah kepemilikan menjadi di bawah manajemen Suara Pembaruan. Kami semua harus menjalani seleksi ulang. Kebetulan, saya, mas Roso Daras, Eko Guruh, mbak Iswati, Swartato, Heri Mulyono, pak Hasan, dan ada sejumlah nama lain lolos seleksi.

Di Jayakarta era Suara Pembaruan kami pindah kantor. Awalnya di Jalan Dewi Sartika, lalu pindah ke Gang Arus, dekat dengan komplek Suara Pembaruan. Di situlah bertambah fotografer lain, di antaranya mas Eddy Koko, mas Juli Sofyan, Heddy Sutrisno…

Karena terjangan krisis ekonomi, krisis moneter, Harian Jayakarta limbung. Tak lama kemudian, tahun 1998, tutup. Kami semua terkena PHK massal. Saya pulang kampung. Bekerja apa saja. Serabutan, yang penting bisa survive.

Dari kiri: Gatot, Martua Silalahi, Ernaningtyas Nina, Resti Handini, Sri Iswati, Katmin, Elty, Ridwan Maga, Herdy, dan Mahmud. (foto: dok jayakartanews)

Alhasil, undangan menghadiri acara syukuran Ulang Tahun Jayakarta News ke-2 di Yogyakarta, adalah momentum pertemuan kembali saya dengan teman-teman Jayakarta, setelah tidak lagi bersua lebih dari 20 tahun lamanya. Selama itu pula, kami tak bertegur sapa. Maklumlah, tahun 1998, baru satu-dua teman saja yang menggenggam telepon seluler. Tidak heran, jika aku tidak tahu teman-temanku sekarang di mana, sama tidak-tahunya mereka tentang keberadaanku.

Ada setangkup perasaan haru disaksikan langit biru Kota Yogya, ketika saya bisa berjumpa kembali dengan sahabat-sahabat lama. Semua kenangan lama berkelindan di benakku, berbaur dengan rasa gembira dan syukur tiada tara. Mulut serasa tersekat, tak mampu berkata apa pun, kecuali menyalami mereka, memeluk mereka, dalam linangan air mata. (mahmud)

Agus “Ariel” Sundayana, Laksmi Wuryaningtyas, Mahmud. (foto: dok jayakartanews)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *