Keraton Yogyakarta Gelar Diskusi Gerilya Jenderal Soedirman

 Keraton Yogyakarta Gelar Diskusi Gerilya Jenderal Soedirman
8 Juli 1949 – Suasana di rumah di Dusun Kerjo, Desa Genjahan, Ponjong, Gunungkidul – tempat bertemunya Jenderal Soedirman dengan rombongan utusan Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk menjemput Jenderal Soedirman kembali ke Yogyakarta. Utusan tersebut dipimpin oleh Letkol. Soeharto dengan didampingi jurnalis Rosihan Anwar dan fotografer IPPHOS, Frans Mendoer. (Foto: Frans Mendoer/IPPHOS, Coloring: Rudi Winarso)

Jayakarta News – Perang gerilya oleh tentara Indonesia adalah salah satu strategi perang tradisional yang ampuh pada zamannya. Mengenang perang gerilya, tidak bisa dilepas dari peran Jenderal Besar Soedirman, yang pada tanggal 24 Januari 2019 lalu, diperingati sebagai hari kelahirannya yang ke-103.

Adalah Keraton Yogyakarta yang berinisiatif menggelar diskusi sejarah interaktif, mengangkat tema “70 Tahun Gerilya Jenderal Soedirman”. Diskusi akan diselenggarakan Rabu, 10 Juli 2019 pukul 15.00 di Ndalem Mangkubumen, Keraton Yogyakarta.

Bagi bangsa Indonesia, Soedirman dikenal sebagai pahlawan nasional yang sederhana dan bersahaja. Ia ditakdirkan meninggal pada usia muda yakni 34 tahun, namun patriotisme dan perjuangannya akan tetap dikenal sepanjang masa.

Jenderal Besar Soedirman lahir di Bodas Karangjati, Rembang, Purbalingga, 24 Januari 1916. merupakan salah satu tokoh besar di antara sedikit orang lainnya yang pernah dilahirkan oleh suatu revolusi. Saat usianya masih 31 tahun Soedirman sudah menjadi seorang jenderal. Meski menderita sakit paru-paru parah, beliau tetap bergerilya melawan Belanda. Beliau berlatar belakang seorang guru HIS Muhammadiyah di Cilacap dan giat di kepanduan Hizbul Wathan.

Ketika pendudukan Jepang, Soedirman masuk tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor, setelah tamat pendidikan langsung menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TNI).

10 Juli 1949 – Rombongan pasukan Panglima Besar Jenderal Soedirman bergerak kembali menuju Ibukota Yogyakarta. Selama lebih tujuh bulan Pangsar memimpin Perang Gerilya Rakyat Semesta. Dari Dusun Kerjo, Desa Genjahan sampai Piyungan, Pangsar bergerak menggunakan tandu. Sesampainya di Yogyakarta, disambut Presiden dan Wakil Presiden, kemudian diadakan defile di Alun-Alun Utara. Pada sore hari Pangsar menemui keluarga di nDalem Mangkubumen (sejak 19 Desember 1948 ditinggalkan), tempat yang khusus disediakan Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk menampung keluarga pejabat dan pejuang yang sedang bergerilya, agar aman dari agitasi Belanda. Foto: Frans Mendoer/IPPHOS

Soedirman merupakan Pahlawan Pembela Kemerdekaan yang tidak peduli pada keadaan dirinya sendiri demi mempertahankan Republik Indonesia yang dicintainya. Ia tercatat sebagai Panglima sekaligus Jenderal pertama dan termuda Republik ini, dan terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia.

Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1945, pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden. Beliau memperoleh pangkat Jenderal tidak melalui Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya sebagaimana lazimnya, tapi karena prestasinya.

Soedirman merupakan salah satu pejuang dan pemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya.

Beliau selalu konsisten dan konsekuen membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara. Ketika Agresi Militer II Belanda pada 19 Desember 1948, Soedirman yang lemah karena sakit tetap bertekad terjun memimpin perang gerilya walaupun harus ditandu. Dalam keadaan sakit, ia memimpin dan memberi semangat para prajuritnya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Itulah sebabnya ia disebut sebagai salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh revolusi negeri ini.

Ketika pasukan sekutu datang ke Indonesia dengan alasan melucuti tentara Jepang, ternyata tentara Belanda ikut dibonceng. Karenanya, TKR akhirnya terlibat pertempuran dengan tentara sekutu. Demikianlah pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Soedirman terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa. Dan pada tanggal 12 Desember tahun yang sama, dilancarkanlah serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris. Pertempuran yang berkobar selama lima hari itu akhirnya memaksa pasukan Inggris mengundurkan diri ke Semarang.

Pada saat pasukan Belanda kembali melakukan agresinya atau yang lebih dikenal dengan Agresi Militer II Belanda, Ibukota Negara RI berada di Yogyakarta sebab Kota Jakarta sebelumnya sudah dikuasai. Jenderal Soedirman yang saat itu berada di Yogyakarta sedang sakit. Keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya yang hanya tinggal satu yang berfungsi.

Patung Presiden Sukarno dan Panglima Besar Jenderal Soedirman karya Yusman.

Dalam Agresi Militer II Belanda itu, Yogyakarta pun kemudian berhasil dikuasai Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa anggota kabinet juga sudah ditawan. Melihat keadaan itu, walaupun Presiden Sukarno sebelumnya telah menganjurkannya untuk tetap tinggal dalam kota untuk melakukan perawatan. Namun anjuran itu tidak bisa dipenuhinya karena dorongan hatinya untuk melakukan perlawanan pada Belanda serta mengingat akan tanggungjawabnya sebagai pemimpin tentara.

Maka dengan ditandu, ia berangkat memimpin pasukan untuk melakukan perang gerilya. Kurang lebih selama tujuh bulan ia berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lain, dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit dan lemah sekali sementara obat juga hampir-hampir tidak ada. Tapi kepada pasukannya beliau selalu memberi semangat dan petunjuk seakan dia sendiri tidak merasakan penyakitnya.

Pada tangal 29 Januari 1950, Panglima Besar Soedirman meninggal dunia di Magelang dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan.

Peta Gerilya Jenderal Soedirman 19 Desember 1948 – 10 Juli 1949 Berangkat dari Bintaran Wetan (Sasmitaloka) pada tanggal 19 Desember 1948, perjalanan menuju Kediri lewat jalur selatan melewati Yogyakarta, Bantul, Gunungkidul, Wonogiri, Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Kediri, Nganjuk, Madiun, Magetan, Ponorogo, Karanganyar, Sukoharjo, Surakarta, Klaten sejauh 1.009 kilometer yang ditempuh selama 7 bulan 28 hari. Dalam melakukan pergerakan pasukan, rombongan pasukan Soedirman kebanyakan berjalan kaki, dengan ditandu dan di beberapa medan yang sulit – beliau bahkan digendong. Pada awal keberangkatan menggunakan mobil sedan, jeep, dokar tanpa kuda (ditarik pengawal) dan dokar dengan kuda. Perjalanan gerilya berakhir pada tanggal 10 Juli 1949 di nDalem Mangkubumen, Kraton Yogyakarta. (Riset Peta & Grafis: Rudi Winarso)

Narasumber

Dengan dipandu moderator Adji P. Raharjo, diskusi bakal menghadirkan sedikitnya 20 narasumber. Mereka antara lain, Danrem Pamungkas, M. Teguh Bambang Cahyadi Sudirman (anak Panglima Besar Jenderal Soedirman), Prof Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. (Rektor Universitas Widya Mataram), dan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DIY.

Narasumber lain, KPH. Yudhahadiningrat, KPH. Wironegoro, Syahbenol Hasibuan, Kepala Museum Sasmitaloka, Ketua Barahmus DIY, dan Walikota Yogyakarta. Hadir pula, Sugiyanto Harjo Semangun (Ketua Keluarga Ikatan Alumni Lemhanas DIY), Dr. Haryadi Baskoro, Rony Arya (Ketua Masyarakat Cinta Sejarah DIY), dan seniman patung Yusman.

Nama-nama lain adalah Gatot Marsono (Veteran), Krisma Eka Putra (Legislator Termuda Kota Yogyakarta), Ketua Komunitas Djogjakarta 45, Aan Ratmanto (Sejarawan Muda), Sihono (Ketua PWI DIY), dan Ketua Wredatama DIY. (*/rr)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *