Kolom
Kelelawar dari Batman sampai Kalong Wewe
Gde Mahesa
Kelelawar juga bisa disebut kalong, atau juga codot merupakan binatang malam penebar benih, dikarenakan memakan buah-buahan. Tampang binatang ini jauh dari kata cakep, karena cenderung mengerikan.
Kelelawar paling terkenal bernama Batman, penjaga kota Gotham, jenis satu ini dikenal sebagai super-hero, namun saingan terberat adalah kelelawar dari Indonesia, tepatnya di Soppeng, Sulawesi Selatan, di mana konon kelelawar atau kalong ini dianggap sebagai penjaga kota dan pembawa pertanda bencana (jika pergi), serta jodoh (jika kotorannya jatuh) mengeani tubuh seseorang.
Sementara di beberapa daerah lain ada kepercayaan kalong sebagai jelmaan makhluk halus pembawa rezeki atau kesialan. Misalkan di Pasuruan, ada kepercayaan tentang “keblek” atau kelelawar jadi-jadian yang bisa masuk rumah untuk mencuri beras dan uang, sering dikaitkan dengan pesugihan.
Sedangkan dibeberapa budaya di Papua Nugini dan Suku Iban menganggap kelelawar sebagai pembawa pesan spiritual atau perantara dukun. Berbeda dengan di Tiongkok kelelawar (fu) melambangkan keberuntungan, umur panjang, dan kebahagiaan.
Kelelawar adalah jenis hewan mamalia yang lebih aktif pada malam hari atau disebut sebagai hewan nokturnal, yang mempunyai kemampuan unik, yakni mengetahui benda yang ada di depannya menggunakan pantulan gelombang suara. Karena kemampuan itu, kelelawar sering dianggap sebagai hewan buta.
Di beberapa budaya terdapat mitos yang berkembang bahwa apabila hewan ini masuk rumah memiliki makna tertentu, seperti akan ada tamu, mendapatkan keberuntungan atau kabar buruk. Namun secara ilmiah, fakta masuknya kelelawar ke rumah tidak selalu menjadi hal yang bermakna mistis, melainkan lebih condong kepada kebiasaan hewan ini yang mencari makanan atau tempat berlindung.
Ada lagi mitos bahwa daging kelelawar dipercaya bisa menjadi obat asma, benarkah ?
Klaim bahwa daging kelelawar bisa menyembuhkan asma tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. Penelitian medis yang valid tidak pernah menunjukkan hubungan langsung antara konsumsi daging kelelawar dan perbaikan kondisi asma.
Dalam budaya tradisional memang daging kelelawar dikenal sebagai bahan dalam pengobatan tradisional dalam ramuan yang dipercaya dapat meningkatkan kesehatan atau menyembuhkan penyakit. Namun, pengobatan tradisional ini sering kali belum diuji dengan metode ilmiah yang dapat membuktikan efektivitasnya secara objektif. Sebab beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi daging kelelawar justru berisiko karena dapat menjadi pembawa penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang bisa ditularkan dari hewan ke manusia.

Dalam dunia supranatural, kalong (kelelawar besar) sering kali dikaitkan dengan hal-hal yang misterius dan gaib, diperkuat dengan kepercayaan umum yang sering mengaitkan hewan ini dengan praktik-praktik mistis karena sifatnya yang aktif di malam hari. Tentunya dalam
penafsiran bisa berbeda-beda tergantung pada budaya dan kearifan lokal. Beberapa interpretasi diantaranya :
Dalam cerita rakyat Indonesia, terdapat sosok yang dikenal sebagai “Kalong Wewe”. Makhluk supranatural ini digambarkan sebagai kelelawar raksasa atau sosok mistis menakutkan yang dipercaya suka menculik anak-anak yang masih bermain di luar rumah saat senja menjelang malam.
Sebenarnya kelelawar adalah hewan yang menarik dan telah menjadi bagian dari budaya manusia sejak lama. Sehingga tidaklah berlebihan jika filosofi “kalong atau kelelawar” ini mencakup berbagai makna, mulai dari simbol kesetiaan representasi solidaritas dan gotong royong dalam komunitas adat hingga makna sosial seperti semangat persaudaraan dan kegigihan beraktivitas malam hari.
Mereka memang makhluk yang aneh, tampak seperti setengah burung dan setengah hewan pengerat seperti tikus, seolah-olah berasal dari alam mimpi buruk, hingga dapat menjadikan
“Chiroptophobia”, atau ketakutan terhadap kelelawar, yang mencakup persepsi negatif tentang kelelawar sebagai pembawa penyakit, hama, atau makhluk berbahaya yang dikaitkan dengan roh jahat.
Bullll….. bullll…. klepussss…..
