Inspirasi dari Timur, Lumbung Harus Penuh

 Inspirasi dari Timur, Lumbung Harus Penuh

Presiden Joko Widodo bersama Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto

JAYAKARTA NEWS—Pandemi covid 19 yang bermula di Wuhan, Cina, merebak ke pelbagai negara sejak tahun ini, dan hingga sekarang belum sirna dari muka bumi.  Eksesnya seperti menghentikan laju peradaban. Semua sektor terdampak. Runyam,  ketika moda transportasi harus berhenti. Perdagangan mati suri. Ekspor-impor mandeg. Banyak negara menutup diri. Lockdown !

            Di saat genting seperti itu, setitik pemikiran terkuak. Di balik bencana selalu ada hikmah. Begitu pun yang terjadi atas sebaran virus corona yang telah membunuh ratusan ribu orang, dari jutaan  yang terpapar di seluruh jagat.

 Satu hal yang pasti dilakukan banyak negara adalahmenyelamatkan  warganya dari ancaman wabah, dan pemerintah pun pontang panting mencukupi kebutuhan pangan  rakyatnya. Itu berarti stok pangan harus aman. Di saat itu pula kesadaran kita dihentak, dan disegarkan kembali bahwakita harus memiliki ketahanan pangan yang kuat. Kemandirian pangan nan tangguh.

            Apalagi Indonesia temasuk wilayah rawan bencana.Andai lolos dari suatu bencana, petaka lain mungkin mengancam, seperti gempa bumi, sunami, gunung meletus, longsor, banjir, dan lainnya. Maka,  “Lumbung-lumbung desa harus selalu terisi,” kata Dr Muchtar A. Munawir, tenaga ahli Gubernur Sulawesi Selatan bidang pertanian.

            Sulsel tentu saja aman. Provinsi di Timur Indonesiaini termasuk 8 dari salah satu provinsi penghasil beras terbesar di Indonesia. Provinsilainnya Jawa Timur,Jawa Tengah, DI Yogyakarta,Jawa Barat,   Lampung, Nusa Tenggara Barat, dan Sumatera Selatan.

            Di tengah pandemi pula, awal Juli lalu Presiden mencanangkan lumbung pangan nasional di luar pulau Jawa. Lokasinya di Kabupaten Kapuas dan Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Daya upaya untuk memperbesar lumbung pangan nasional terus dikembangkan.         

            Dikutip dari laman Setkab.go.id, lahan yang disiapkan sebagai lumbung pangan baru nanti seluas 20.704 hektare di Kabupaten Kapuas.  Lahan potensialyang telah fungsional mencapai 5.840 hektare. Secara keseluruhan, terdapat kurang lebih 165.000 hektare lahan potensial di Kalimantan Tengah yang diperuntukkan bagi pengembangan kawasan lumbung pangan nasional tersebut.

Saat ini lahan seluas 85.500 hektare dari jumlah keseluruhan itu merupakan lahan fungsional yang sudah berproduksi tiap tahunnya. Korporasi petani  menjadi basis pengembangan kawasan lumbung pangan baru di Kalimantan Tengah ini yang akan dilakukan secara terintegrasi mencakup pertanian, perkebunan, bahkan peternakan di suatu kawasan.

            Kita senang melihat tekad pemerintah dalam upaya membangun ketahanan pangan.  Meski kadang heran juga, mengapa hanya beberapa  provinsi yang potensial menghasilkan pangan, khususnya beras.  Direktur Pengembangan Bisnis dan Industri Bulog, Imam Subowo  dalam suatu acara di Majalengka Maret tahun lalu pernah mengatakan, kebutuhan beras untuk   34 provinsi di-supply oleh 8 provinsi.

            Masih menurut Imam Subowo, sebuah daerah, disebut sebagai lumbung padi apabila produksi beras di daerah tersebut lebih besar dibandingkan dengan konsumsinya. Misal Sulawesi Selatan memproduksi 3,2 juta ton beras, dan konsumsinya  sekitar 900.000 ton.(detik.com)

            Kita longok provinsi di Timur Indonesia ini.  Visi dan Misi  Dinas Ketahanan Pangan Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Sulsel sbb. Visinya menjadikan “ Sulawesi Selatan sebagai Pilar Utama Penyedia Pangan Nasional Berkelanjutan dan Berdaya Saing “. Adapun Misinya meliputi:

1.Meningkatkan produksi dalam rangka swasembada berkelanjutan.

2.Meningkatkan produktivitas dan kualitas serta pengamanan produksi tanaman pangan dan hortikultura unggulan daerah.

3.Optimalisasi insfrastruktur dengan mendorong optimalisasi penggunaan lahan, air dan sarana produksi untuk berproduksi.

4.Mendorong berkembangnya sistem agribisnis dan agroindustri pangan pokok.

5.Meningkatkan ketahanan pangan masyarakat.

Visi Misi ini bukan keindahan narasi semata, melainkan yang lebih penting implementasinya.

            Kini, menurut Dr Muchtar program Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah mengembangkan benih jagung hibrida segera direalisasikan. Lokasi pertama di Kabupaten Wajo. Langkah awal seluas 15 hektar, selanjutnya pembenihan ditargetkan 200  hektare meliputi Kabupaten Maros dan Takalar. Benih jagung hibrida ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan benih jagung di Sulsel, melainkan akan di-supply ke wilayah lain di Indonesia.

            Benih hibrida yang hendak disebar itu merupakan hasil pengembangan penelitian di Balai Penelitian di Maros. Namanya  Nasa. Selama ini, kebutuhan akan benih jagung hibrida masih didatangkan dari luar Sulawesi. Ke depan Sulsel akan menjadi  “pengekspor” kedaerah lain di Indonesia.

            Mengapa fokus ke benih? 

            “Ini penting, mendasar. Pak gubernur mengintruksikan supaya kita meningkatkan produksi benih, “ tegas Muchtar

Setelah 17 Agustus sosialisasi dimulai. Pihaknya akan memberikan pembelajaran kepada para petani bagaimana metode penanaman jagung untuk benih hibrida jenis Nasa ini. “Kita harus bergerak cepat karena ini untuk masyarakat. Rencana 18 Agustus mulai, “ papar Muchtar yang dipercaya Dr Nurdin Abdullah masuk tim tenaga ahli sejak  Nurdin Abdullah masih menjadi Bupati  Bantaeng. Bahkan, di bidang perbenihan padi  Muchtar diminta Bupati Tanah Bumbu Mardani Maming  mengembangkan benih padi tertentu yang sesuai untuk  daerahnya.

Dr Muchtar samping kanan Presiden Jokowi

Setelah penangkaran benih, selanjutkan disiapkan pula mesin benih yang kapasitasnya 30 ton. Selain itu tentu saja benih-benih tersebut akan terbungkus dalam suatu kemasan. Untuk pembenihan ini, utuk  lahan 1 hektar dipekirakan menghasilkan 3 ton. Sedangkan lahan yang dipersiapkan untuk penanaman jenishibrida Nasa ini dalam satu hektar hanya memerlukan 25 kg benih. Karena itu benih ini akan diberikankepada petani di Sulawesi Selatan dengan cuma-cuma. Bahkan diharapkan benih ini bisa diserap untuk mmenuhi kebutuhan  petani di Indonesia Timur.

Menurut Dr Muchtar, hasil panen dari hibrida ini cukup bagus. Menstimulus peningkatan  daya beli para petani. Dalam satu hektar lahan dengan benih hibrida Nasa ini bisa menghasilkan panen antara 8-10 ton jagung.

“Harga jagung hibrida ini cukup bagus di sini,  minima Rp 70 ribu/ kg, “ tambahnya pula

Cukup menguntungkan petani? Muchtar mengiyakan. “ Ya, tapi cara penanamannya agak ribet juga, dengan cara mengawinkan  unsur jantan dan betinanya. Tapi para petani saya bimbing itu…, “ pungkasnya lagi.

Berbicara tentang produksi padi diSulawesi Selatan, diakui Dr Muchtar kawasan inimemang cukup memiliki lahan persawahan yang luas. Bahkan terluas, sekitar 654 ribu hektar lahan baku sawah setelah Jawa, lalu disusul Sumatera Selatan 470,6 ribu hektare, Lampung 361 ribu hektar, dan Sumatera Utara 308,6 ribu hektare.

Dikatakan pula, ke depan, sekitar 10 hari lagi,pihaknya akan melihat dan mengevaluasi penangkaran benih-benih padi. Benih harusbagus, unggul. Kalau benih jelek akan mempengaruhi produksinya.Kalau benih itu bagus akan dipertahankan, kalau tidak akan kita rombak. Sistem evaluasi terhadapbenih antarlembaga terkait itu sudah berjalan.  Dan katanya pula, “Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih pun jalan, “. 

Evaluasi di lapangan itu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan  kepada para petani, kata Dr Muchtar, termasuk dari mana benih didapat. Semua kita evaluasi. Petani biasanya dapat benih secara  cuma-cuma dengan anggaran negara,Benih Langsung namanya.

Penyaluran benih padi itu harus diawasi hingga bisa ditanam oleh petani. Kalau sudah ditanam ya ga perlu lagi (diawasi). “Karena benih ini kunci. Ya, ibaratnya ibu-ibu hamil, kan harus dapat kecukupan gizi. Seperti itulah benih (urgensi) ini,’ Kemudian kita lanjutkan dengan, cara-cara bagaimanacara bercococok tanam yang bagus.

Cukup komprehensif upaya yang dilakukan pemerintah dan pihak-pihak terkait dalam pengembangan petanian,dalam hal ini tanaman pangan khususnya padi.  Di Sulawesi Selatan,  upaya pengembangan pertanian juga didukung budayatudang sipulang, (permufakatan dalam mengambil keputusan). Ditunjang pula minat generasi muda menekuni bidang ini.

Seiring perkembangan teknologi, petani tidak harus main cangkul lagi. “Ada mesin pengolahan tanah, ada mesin tanam, ada mesin panen, “ kata Muchtar. Hal ini pula menurutnya pertanian itu sangat menarik minat kalangan muda.

            Tanah Surga

Anak muda yang memilih bertani salah satunya  Fahrulroji (27 tahun). Sarjana Ekonomi lulusan Universitas PGRI Wiranegara Pasuruan ini merasa bangga jadi petani meski lahan yang dikelolanya dari warisan rangtua hanya 1,5 hektare.

Mengapa bangga sebagai petani? Menurut Oji, demikian sapaannya, jadi  petani itu mendorongnya selalu berfikir,  berkreasi dan berinovasi. ” Maksudnya kreatif dalam menjaga dan merawat sesuatu yang kita tanam. Apalagi tanah kita ini tanah surga . Jangan sampai lahan luas  hanya dijadikan bangunan2 kokoh dan megah.  Maka  muda mudi  wajib bertani karena petani adalah pahlawan dalam menjaga ketahanan pangan di bumi pertiwi, “ lontar Oji yang juga aktif di PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia).

Menyinggung inovasi  pertanian, Oji beharap pertanian kita harus dimotori pula kalangan muda untuk melakukan lompatan lompatan spektakuler guna menjaga keberlanjutan ketahanan pangan ke depan. Meningkatkan produksi,  mengingat  pertumbuhan penduduk  terus bertambah dan kian padat.

“Negara kita negara agraris. Konsekuensinya perlu perhatian serius dari pemerintah  terhadap sektor pertanian agar pertanian kita jadi kuat dan tangguh.  Saya kira, pertanian memegang peranan strategis  dalam  perekonomian nasional, “

Jika pemerintah memberi perhatian lebih atas riset-riset bidang pertanian, katanya,  pasti  para petani  khususnya anak muda menjadi petani yang mandiri dan bisa bersaing guna mewujudkan bangsa yang maju. Khususnya menjadi terdepan di bidang pertanian.

Realitas anak muda suka pertanian,  dibenarkan Martin Hutabarat, Wakil Ketua Komisi Kajian Ketatanegaraan Majelis Permusyawaratan Rakyat(MPR RI). Martin yang belakangan menekuni pertanian khususnya tanaman hortikultura di  Sukabumi mulai menikmati senangnya bertani,  dan tentu permasalahan yang juga  dihadapi petani.

Martin Hutabarat, Wakil Ketua Komisi Kajian Ketatanegaraan Majelis Permusyawaratan Rakyat(MPR RI)

Namun, pandemi covid 19 yang masih mengancam ini menurut mantan wakil ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), kian menyadarkan posisi kita sebagai negara agraris. Bayangkan, perdagangan stag, sektor lain juga terhenti, tapi pertanian harus terus jalan, katanya..

“Ketahanan pangan kita haus kuat. Jika lemah, bisa menimbulkan gejolak sosial. Kalaukita tidak bsa menjaga supply pangan akanmudah menimbulkan konflik sosial, “ ujar mantan anggota DPR RI dari Gerindra ini.

Dalam situasi dimana perdagangan tertutup karenapandemi, kita tak bisa berharap suppy dari negara lain. Mereka akan memanfaatkannya untuk kepeningan dalam negerinya.

Kalaupun mereka jual, tentu akan diberikan kepadanegara yang mampu membelinya dengan harga tinggi. Kita pun jika surplus, mengingat lahannya yang memungkinkan,bisa saja kita ekspor. Namun memenuhi270 juta rakyat sendiriitulah yang harus kita jaga.

“Jangan sampai  kebutuhan pangan ini menimbulkan masalah sosial, “ tandasnya

Mantan Pemimpun Umum Harian Jayakarta ini mengingatkan, agar kita tidak melulu mengkonsumsi beras sebagai pangan utama. Makanan pokok di daerah tertentu yang berbeda-beda bisa “dibudayakan” lagi, seperti jagung, sagu, dan singkong.

Misal, di Inonesia Timur dulu dikenal dengan makanan sagu. “Jadi masyarakat setempat  dapat memanfaatkan tanaman yang mudah tumbuh di daerahnya, tambah Martin.

Kecukupan pangan tidak  hanya bisa diharapkan dari ketersediaan lahan pertanian, melainkan juga tatakelolanya,  mulai dari pilihan  benih hingga produk akhir pasca panen. 

Pandemi ini tidak hanya jadi pelajaran dan meng-update kesadaran lama akan pentingnya ketahanan pangan. Rencana Sulawesi Selatan terus menggenjot produk pangan, selain beras,  kini akan dikembangkan jagung besar-besaran,  tentu tidak hanya untuk men-supply lebih banyak kebutuhan nasional selain dari daerah lainnya. Sulawesi Selatan menurut Muchtar, ingin mengisi lumbung-lumbung di desa itu terisi.

“Rencananya itu ke depan. Lumbung-lumbung desa, atau apalah…. namanya. Tanah petani kan luas.  Rencana ini sebagai realisasi bahwa kita mampu mewujudkan kemandirian pangan yang kuat, “  kata Dr Muchtar A. Nawir.  iswati

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *