Kolom
Ini Penjelasan tentang Paku yang Sering Digunakan untuk Santet
Oleh Gde Mahesa
Percaya tidak, di kehidupan modern ini masih ada orang-yang menggunakan ilmu gaib, ilmu klenik, atau sejenisnya, untuk melancarkan kehidupan mereka.
Seperti ilmu santet yg menjadi favorit pilihan bagi yang ingin mencelakakan hidup orang lain dari jarak jauh. Salah satu jenis yang biasa adalah santet paku jiwo.
Santet paku jiwo, yang bisa membuat korban mengalami kebuntuan dalam usaha, tidak akan pernah sukses dalam usaha dan karirnya. Sang korban biasanya merasakan bingung, takut, linglung, bahkan sampai hilang ingatan.
Ada juga satu santet yang paling populer di kalangan para dukun yakni Santet Paku Teyeng (karatan).
Santet Paku Teyeng menjadi santet yang familiar di perdukunan lantaran karena ilmu hitam ini terkenal ampuh dan sangat simpel. Para dukun biasanya hanya memerlukan benda yang hendak dikirim terutama bahan utamanya paku, lalu benda itu diusap dan menghilang langsung kesasaran.
Namun sebaliknya ada mitos tentang Paku Emas, yang khusus untuk rumah dan dikaitkan dengan kekuatan serta keberkahan.
Paku emas dianggap sebagai simbol kekuatan dan kekayaan, sehingga digunakan untuk memperkuat fondasi rumah atau bagian-bagian penting lainnya, serta dianggap membawa keberuntungan bagi penghuninya.

Dalam beberapa kepercayaan Asia, emas melambangkan kekayaan, kemakmuran, dan energi matahari yang positif.
Menanam atau meletakkan benda emas di fondasi rumah dipercaya dapat menarik energi baik dan melindungi penghuninya dari kemiskinan serta nasib buruk.
Dalam supranatural, “paku” dapat merujuk pada benda fisik yang dipercaya memiliki kekuatan spiritual, seperti paku emas untuk keberkahan rumah, paku kuningan sebagai penangkal santet, atau Gunung Tidar yang disebut “Paku Tanah Jawa” karena posisinya yang sentral dan menjaga keseimbangan spiritual.
Gunung ini dipandang sebagai pusat spiritual dan keseimbangan alam di Jawa, menyatukan berbagai penjuru pulau dan menjadi saksi harmoni budaya.
Kembali tentang paku memaku Beberapa kalangan percaya bahwa paku bisa dimasukkan ke dalam tubuh korban santet. Tetapi hal tsb tidak ada bukti ilmiah, dan kasus seperti tersebut cenderung memiliki penjelasan medis, psikologis, atau manipulasi yang lebih masuk akal, bukan praktik sihir.
Saya jadi ingat sebuah kasus pada tahun 2024 dihebohkan dengan penemuan 70 batang paku di dalam tubuh seorang pria di Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat (Jabar). Isu terkena santet sontak ramai diperbincangkan. Akhirnya diketahui, bahwa pria tersebuut merupakan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang kerap menelan paku dan benda lainnya.
Nah, sekarang semua boleh berpendapat, namun bagi saya, tidak ada fenomena gaib/santet yang sampai berbentuk fisik.
“Pada dasarnya segala hal yang berkait gaib, bersifat gaib pula. Tak berbentuk dan tidak mewujud. Santet, adapun pada praktik nyatanya, lebih banyak ‘menyerang’ secara rasa batin dan psikis.
Untuk itu diharapkan agar masyarakat tidak cepat mudah percaya pada fenomena-fenomena tersebut.
“Spiritual itu cakupannya luas, tak melulu soal mistis. Lebih ke dalam diri sendiri, pengenalan dan pengembangan. Sayangnya ini menjadi celah untuk sebagian orang memanipulasi guna kepentingan tertentu.
Tapi, tidak usah terlalu serius dipikirkan, sruputtt kopi pahitnya…. bullll bullll klepussss…..
