Guntur Tampil di Surabaya setelah 40 Tahun

 Guntur Tampil di Surabaya setelah 40 Tahun
Guntur Soekano Putra didampingi Henny Guntur istrinya, serta Puti Guntur Soekarno, putri semata wayang. Sebelah kanan, Ahmad Basara, Wasekjen PDIP yang juga Wakil Ketua MPR RI. Foto: Ist

LEBIH empat puluh tahun, Guntur Soekarno Putra tidak bersua dengaan barisan Sukarnois Jawa Timur. Tak pelak, ketika datang kabar Guntur bakal hadir dan menyampaikan pidato politiknya di Grand City Convention & Exhibition Surabaya, ribuan massa Marhaen berduyun-duyun menghadirinya. Pemandangan lautan manusia berbusana hitam dan merah memadati area convention.

Acara yang dilangsungkan Jumat (11/5), sedianya dimulai pukul 13.00 WIB. Agaknya panitia lupa, hari Jumat tidak sedikit massa marhaen yang menunaikan shalat Jumat terlebih dulu, sebelum ke acara. Jadilah acara molor dua jam.

Jelang pukul 15.00, Guntur Soekarnoputra hadir didampingi istri, Henny Guntur dan putri semata wayangnya, Puti Guntur Soekarno. Di deretan penjemput, hadir tokoh Sukarnois Jawa Timur seperti Ahmad Basarah yang juga Wakil Ketua MPR RI dari PDIP sekaligus Wakil Sekjen PDIP, Eros Djarot, Saleh Ismail Mukadar, dan lain-lain.

Sebelum sampai pada pidato Guntur, audiens harus mengikuti dulu sambutan-sambutan dan doa, serta pertunjukan tari tradisional Tulungagung, binaan Eva Sundari. Dan…. tepuk tangan dan pekik merdeka pun membahana ketika akhirnya Guntur didaulat menuju podium.

Dengan suara sedikit serak akibat gangguan tenggorokan, Guntur terlebih dulu cek-suara. Menanyakan apakah suaranya terdengar jelas. Terdengar dari depan, kiri, kanan, dan belakang. Tidak masalah, karena panitia sudah mengalkulasi kebutuhan kekuatan sound system, sehingga suara dari podium bisa terdengar ke seluruh area convention hall.

Guntur terharu. Ia berterima kasih kepada panitia yang memungkinkan pertemuan hari itu terjadi. Tidak keliru rupanya, ketika Guntur menjawab permintaan restu Puti kepadanya, saat mendapat tugas PDIP maju menjadi Calon Wakil Gubernur Jawa Timur mendampingi Gus Ipul dalam Pilkada 2018 ini. Atas permintaan doa restu putri tunggalnya, kurang lebih Guntur menjawab, “Puti… kamu jangan takut, karena di Jawa Timur sangat banyak barisan Sukarnois yang akan mendukung dan membantumu.”

Lebih dari itu, Guntur mengulang petuah kepada putrinya, yang kemudian ia sampaikan juga kepada para Sukarnois Jawa Timur. Menyitir salah satu bagian dalam tulisan Bung Karno, yakni ihwal keyakinan, maka Guntur pun menguraikan ilmul yaqin, ainul yaqin, dan haqqul yaqin. “Harus haqqul yaqin. Tidak terprovokasi oleh uang atau bujukan,” pesannya.

Tak lupa, Guntur juga mengulang pesannya kepada Puti, yang juga dipesankan kepada barisan Sukarnois di Jawa Timur khususnya, dan Barisan Sukarnois di mana pun berada. Sulung Bung Karno dari Fatmawati itu lalu mengisahkan cupkilan perang Mahabharata. Sebuah adegan di Padang Kurusetra, ketika Arjuna tampak ragu-ragu untuk maju perang menghadapi Karna, yang tak lain adalah saudaranya sendiri.

Petuah Kresna kepada Arjuna, “Karmane, fadikaraste, mapalesyu, kadatyana” yang artinya, “kerjakan engkau punya kewajiban, tanpa menghitung-htiung untung atau rugi.” Kewajibanmu, kerjakan. Keyakinan menunaikan kewajiban itulah yang harus diemban Sukarnois. Puti harus dan wajib menjalankan tugas partai untuk maju dalam Pilkada Jatim menjadi Calon Wakil Gubernur berpasangan dengan Gus Ipul (pasangan nomor urut 2), serta haqqul yaqin akan langkah dan keputusannya, mengabdi untuk rakyat Jawa Timur.

Barisan Sukarnois tanpa kecuali, demikian pula. Wajib dan yakin memilih Puti Guntur Soekarno. Orasi Guntur pun diakhiri dengan meneriakkan yel-yel dukungan kepada putrinya, yang disambut dengan gegap-gempita. Total waktu Guntur berpidato, 25 menit. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *