• Latest
  • Trending
  • All
  • News
  • Business
  • Politics
  • Science
  • World
  • Lifestyle
  • Tech
Institut Sarinah: Saatnya Menumbuhkan Kesadaran Pro-Kehidupan di Tengah Kekacauan Dunia

Institut Sarinah: Saatnya Menumbuhkan Kesadaran Pro-Kehidupan di Tengah Kekacauan Dunia

April 17, 2026
Operasi Patuh 2026 Dimulai, Korlantas: Kedepankan Pendekatan Humanis dan Edukatif

Operasi Patuh 2026 Dimulai, Korlantas: Kedepankan Pendekatan Humanis dan Edukatif

October 26, 2026
Fahri Minta Masyarakat Berpikir Rasional dan tak Emosional, Utamakan Dialog Ketika Menyampaikan Kritik

Fahri Minta Masyarakat Berpikir Rasional dan tak Emosional, Utamakan Dialog Ketika Menyampaikan Kritik

October 26, 2026
Bapanas Akui Beras Premium Sempat Kosong di Sebagian Ritel

Gerakan Pangan Murah Disambut Antusias Warga Tuban: Disediakan 1 Ton Beras SPHP Harga Terjangkau

October 26, 2026
DKI Beri Keringanan PBJT 50 Persen untuk Film Nasional di Bioskop

DKI Beri Keringanan PBJT 50 Persen untuk Film Nasional di Bioskop

October 25, 2026
“Gue Ini Presiden, Ted”:  Bukan Sekadar Political Joke

“Gue Ini Presiden, Ted”:  Bukan Sekadar Political Joke

October 25, 2026
Operasi Senyap Membuahkan Hasil! Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin di Sumut Terbongkar

Operasi Senyap Membuahkan Hasil! Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin di Sumut Terbongkar

October 25, 2026
Menyusuri Jejak Api dari Udara, Kepala BNPB Pantau Karhutla Way Kambas

Menyusuri Jejak Api dari Udara, Kepala BNPB Pantau Karhutla Way Kambas

October 25, 2026
Kelas Bahasa dan Budaya Mandarin di Migrant Service Center Unhas Perkuat Kesiapan CPMI

Kelas Bahasa dan Budaya Mandarin di Migrant Service Center Unhas Perkuat Kesiapan CPMI

October 24, 2026
Jenderal Maruli, Mendekatkan yang Terpencil

Jenderal Maruli, Mendekatkan yang Terpencil

October 24, 2026
Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

October 24, 2026
243 Tersangka Karhutla Ditetapkan,13 Korporasi Ikut Dijerat

243 Tersangka Karhutla Ditetapkan,13 Korporasi Ikut Dijerat

October 23, 2026
Kardinal Suharyo Sapa Polda Kaltim, Teguhkan Iman dan Integritas Polisi

Kardinal Suharyo Sapa Polda Kaltim, Teguhkan Iman dan Integritas Polisi

October 23, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Monday, October 26, 2026
Jayakarta News
  • Home
  • News
    • All
    • Business
    • Politics
    • Science
    • World
    Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

    Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    BEI Buka Data Kepemilikan Saham Perusahaan Tercatat di Atas 1 Persen

    Tiga Emiten Didenda Rp 2,1 Triliun Karena Manipulasi Pasar Saham

    BPS Catat Komoditas Sawit Masih Jadi Penopang Ekspor Pertanian

    GAPKI Catat Ekspor Produk Sawit Agustus 2026 Naik 12,56 Persen

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Trending Tags

    • Donald Trump
    • Future of News
    • Climate Change
    • Market Stories
    • Election Results
    • Flat Earth
  • Tech
    • All
    • Gear
    • Startup

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Trending Tags

    • Flat Earth
    • Sillicon Valley
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Golden Globes
    • Future of News
  • Entertainment
    • All
    • Gaming
    • Movie
    • Music
    • Sports
    DKI Beri Keringanan PBJT 50 Persen untuk Film Nasional di Bioskop

    DKI Beri Keringanan PBJT 50 Persen untuk Film Nasional di Bioskop

    Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

    Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

    Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

    Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    Trump-May special relationship gets special treatment in the streets of London

  • Lifestyle
    • All
    • Fashion
    • Food
    • Health
    • Travel

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Barack Obama’s Now Mainly Focusing on Wearing This Casual Backwards Hat

    Lady Gaga Pulled Off One of the Best Halftime Shows Ever

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Climate Change
    • Flat Earth
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result
Home Kabar

Institut Sarinah: Saatnya Menumbuhkan Kesadaran Pro-Kehidupan di Tengah Kekacauan Dunia

by Redaksi
April 17, 2026
in Kabar
0
Institut Sarinah: Saatnya Menumbuhkan Kesadaran Pro-Kehidupan di Tengah Kekacauan Dunia
492
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

JAYAKARTA NEWS— Fenomena kekacauan dunia, mulai dari perang, perusakan alam, hingga kekerasan terhadap perempuan dan anak, membawa pesan yang sama: kehancuran, bahkan kematian. Semua ini terjadi karena manusia lupa pada pelajaran paling dasar dari ekologi rahim, sebuah sistem yang justru mewakili prinsip sebaliknya, yaitu pro-kehidupan (pro life).

Hal ini disampaikan oleh politisi perempuan Eva Kusuma Sundari, S.E., M.A. dari Institut Sarinah dalam Focus Group Discussion (FGD) di  Tebet, Jakarta Selatan, dikutip Jumat (17/4).

Politisi Partai Nasdem (Nasional Demokrat) ini menerangkan, di dalam ruang rahim, kehidupan hadir sebagai sebuah relasi: terlindungi, terhubung, dan dirawat dalam satu sistem yang menopang keberlanjutannya sejak awal. Manusia sepenuhnya bergantung pada ibunya dan habitat di dalam rahim yang mendukung tumbuh kembang dirinya.

Namun, paradigma dominan hari ini, Kapitalisme, mendorong logika dominasi melalui prinsip survival of the fittest. Relasi berubah menjadi kompetisi, alam direduksi menjadi sekadar sumber daya, dan tubuh menjadi objek, bahkan oleh diri sendiri. Dalam kerangka ini, krisis ekologis, ketimpangan sosial, hingga krisis kemanusiaan bukanlah penyimpangan, melainkan konsekuensi logis dari cara pandang yang menindas tersebut.

“Kita perlu menggeser pemahaman secara mendasar. Bukan sekadar green growth yang masih berbasis relasi dominasi, tetapi sebuah perubahan paradigma menuju kesadaran pro-kehidupan yang berakar pada kesetaraan dan keselarasan, sebagaimana terjadi di dalam rahim ibu,” papar mantan anggota DPR RI dari PDI-Perjuangan ini.

Ia melanjutkan, dalam rahim, manusia hidup dalam sistem kehidupan yang utuh. Air ketuban melindungi, darah mengalirkan nutrisi dan oksigen, plasenta menghubungkan, dan pusar menjadi pusat kehidupan. Dalam kosmologi Jawa, relasi ini dikenal sebagai Sedulur Papat Limo Pancer, di mana empat unsur bekerja selaras dan bergotong royong demi pertumbuhan sang jabang bayi.

Makna terdalam dari ekologi rahim adalah bahwa hidup bersifat relasional. Sejak awal, manusia bergantung pada tubuh lain, pada aliran kehidupan, serta pada sistem yang menopangnya. Oleh karena itu, tidak ada kehidupan yang benar-benar berdiri sendiri. Rahim menjadi ruang di mana kehidupan tidak dikontrol, melainkan dirawat dan dijaga agar dapat tumbuh menuju tahap berikutnya.

Dalam perspektif Feminisme Pancasila, eksploitasi tubuh terjadi ketika individu memutus relasi kesadarannya dengan kehidupan. Hak atas tubuh tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab terhadap kehidupan, baik terhadap diri sendiri, orang lain, maupun terhadap kehidupan yang lebih luas. Dengan demikian, tubuh bukan objek konsumsi, melainkan amanah untuk merawat, menumbuhkan, dan melanjutkan kehidupan.

Relasi Rahim dan Bumi

Dalam FGD yang dihadiri aktivis, anggota partai, akademisi, wartawan dan kaum profesional itu Eva Kusuma Sundari menjelaskan prinsip yang sama seharusnya berlaku dalam skala yang lebih besar, yaitu bumi. Jika rahim merupakan ekologi mikro, maka bumi adalah ekologi makro yang bekerja dengan prinsip serupa.

Aktivis feminis ini menjelaskan prinsip yang sama seharusnya berlaku dalam skala yang lebih besar, yaitu bumi. Jika rahim merupakan ekologi mikro, maka bumi adalah ekologi makro yang bekerja dengan prinsip serupa.

“Kehidupan hanya dapat berlangsung ketika relasi dijaga. Tanah menyediakan sumber pangan, air menopang kehidupan, udara memungkinkan keberlangsungan hidup, dan energi menggerakkan aktivitas manusia,” jelasnya.

Dalam kosmologi Jawa menurut Eva Sundari,– keseimbangan ini tercermin dalam relasi antara Ibu Bumi yang merepresentasikan tanah dan air, serta Bopo Angkoso yang merepresentasikan udara dan api. Relasi tersebut bukan hubungan dominasi, melainkan saling melengkapi untuk menjaga keberlanjutan kehidupan.

“Ketika relasi ini terganggu, maka keberlangsungan kehidupan juga ikut terancam,” tegasnya.

Ia mengingatkan, keselarasan antara ekologi rahim dan ekologi bumi menjadi prasyarat penting bagi keberlanjutan kehidupan. Dalam konteks ini, negara memiliki peran sebagai penjaga amanah melalui kebijakan dan institusinya agar kehidupan tetap tumbuh, bukan terhenti karena terkuras habis.

“Instrumen seperti AMDAL misalnya, perlu diperluas dengan pendekatan pro-life test, sementara strategi pembangunan perlu bergeser dari ekonomi ekstraktif menuju ekonomi regeneratif yang memulihkan, bukan merusak bahkan mematikan kehidupan,” ujarnya

Hal di atas menurutnya sejalan dengan Pasal 33 UUD 1945 yang menegaskan bahwa sumber daya alam harus dikelola sebagai milik bersama untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, termasuk bagi generasi yang akan datang.

Oleh karena itu, Pancasila tidak cukup dipahami sebagai dasar negara, tetapi perlu dioperasionalkan sebagai etika pembangunan yang menuntun lahirnya struktur yang berkesadaran. Ketika Pancasila menjadi etik pembangunan, tanah, air, udara, dan energi tidak lagi dipandang semata sebagai sumber daya, melainkan sebagai bagian dari sistem kehidupan yang harus dijaga keselarasan dan keberlanjutannya.

Kunci perubahan menurut Eva Sundari terletak pada kesadaran untuk menjaga relasi tersebut. Dalam kearifan lokal Jawa, kesadaran ini terwujud melalui keselarasan antara rogo, cipto, roso, dan jiwo. Rogo atau tubuh yang berkesadaran memahami bahwa hidup adalah amanah yang harus selaras dengan diri, sesama, alam, dan Tuhan. Tubuh yang sadar tidak akan serakah atau merusak, karena merusak tubuh sama dengan merusak alam, dan begitupun sebaliknya.

Ketika cipto atau pikiran tidak lagi terhubung dengan jiwo, ia kehilangan cahaya. Ketika rogo tidak dituntun oleh roso, ia kehilangan arah. Di situlah manusia bergerak, tetapi tidak lagi hidup dalam kesadaran pro-kehidupan.

Namun, kesadaran individu saja tidak cukup jika tidak diikuti oleh struktur sosial yang berkesadaran pula. Manusia hidup dalam keluarga, masyarakat, dan negara sebagai struktur yang membentuk kehidupan bersama. Ketika struktur ini tidak berkesadaran, maka yang muncul adalah eksploitasi, ketimpangan, dan krisis. Sebaliknya, struktur yang berkesadaran bekerja seperti rahim, yaitu melindungi, menumbuhkan, dan memastikan keberlanjutan kehidupan.

Feminisme Pancasila

Lebih dalam lagi ia menegaskan, dalam perspektif Feminisme Pancasila, hal ini sejalan dengan makna keadilan sosial sebagaimana digagas oleh Bung Karno, yaitu sistem yang tidak memberi ruang bagi dominasi atau penindasan, tetapi memungkinkan kehidupan berkembang secara adil. Struktur semacam ini tidak hanya menghindari kerusakan, tetapi juga secara aktif merawat kehidupan.

“Pada akhirnya, arah peradaban ditentukan oleh pilihan yang kita ambil dalam membangun sistem kehidupan. Ekologi rahim telah menunjukkan bahwa kehidupan hanya mungkin berlangsung ketika relasi dirawat, sementara ekologi bumi menegaskan bahwa prinsip tersebut berlaku dalam skala yang lebih luas. Tanpa kesadaran tersebut, krisis yang dihadapi tidak lagi sekadar kemungkinan, melainkan keniscayaan,” ujarnya.

Ia mengingatkan, pengalaman paling awal manusia sesungguhnya telah memberikan pelajaran mendasar bahwa kehidupan tumbuh dalam keterhubungan, dalam perawatan, dan dalam keseimbangan.

“Pelajaran ini tidak pernah hilang, tetapi sering kali dilupakan dalam praktik pembangunan dan kehidupan sehari-hari, sehingga dampaknya adalah kekacauan bahkan kematian kehidupan,” tegasnya.

FGD ini juga menghadirkan narasumber Sosilog UGM, Dr. Arie Sudjito, S.Sos, M.Si dan pengamat politik Danial Indrakusuma dengan aktivis HAM Topan Damanik. (*/di)

Tags: eva kusuma sundariInstitut Sarinahjayakartanews
Share197Tweet123
Redaksi

Redaksi

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

April 22, 2018
Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

June 22, 2018
Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

January 30, 2019
Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

19
SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

11
Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

8
Operasi Patuh 2026 Dimulai, Korlantas: Kedepankan Pendekatan Humanis dan Edukatif

Operasi Patuh 2026 Dimulai, Korlantas: Kedepankan Pendekatan Humanis dan Edukatif

October 26, 2026
Fahri Minta Masyarakat Berpikir Rasional dan tak Emosional, Utamakan Dialog Ketika Menyampaikan Kritik

Fahri Minta Masyarakat Berpikir Rasional dan tak Emosional, Utamakan Dialog Ketika Menyampaikan Kritik

October 26, 2026
Bapanas Akui Beras Premium Sempat Kosong di Sebagian Ritel

Gerakan Pangan Murah Disambut Antusias Warga Tuban: Disediakan 1 Ton Beras SPHP Harga Terjangkau

October 26, 2026
Jayakarta News

Copyright © 2026 Jayakarta News

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politics
    • Business
    • World
    • Science
  • Entertainment
    • Gaming
    • Music
    • Movie
    • Sports
  • Tech
    • Apps
    • Gear
    • Mobile
    • Startup
  • Lifestyle
    • Food
    • Fashion
    • Health
    • Travel

Copyright © 2026 Jayakarta News

Go to mobile version