Connect with us

Kolom

Malang 112 Tahun: Dari Warisan Kerajaan Kuno Hingga Kota Modern di Kaki Semeru

Published

on

Oleh: Heri Mulyono

Tepat hari ini, 1 April 2026, Kota Malang genap berusia 112 tahun sebagai daerah otonom, mewarisi lapisan peradaban panjang—dari kerajaan Hindu-Buddha, kesultanan Islam, kolonialisme Belanda, hingga kota pendidikan dan industri yang terus bertumbuh di era modern.

Tanggal 1 April 1914 terpatri dalam lembaran sejarah administrasi Hindia Belanda sebagai momen lahirnya Gemeente Malang—satuan pemerintahan kotapraja yang memisahkan Malang dari struktur keresidenan dan mengangkatnya menjadi entitas urban mandiri. Namun di balik penetapan formal itu, Malang sesungguhnya telah bernapas sebagai pusat kebudayaan dan kekuasaan jauh sebelum nama Gemeente terucap.

Prasasti Kanjuruhan: Akar Peradaban yang Tak Terbantahkan

Sejarah Malang Raya yang terverifikasi secara epigrafi bermula pada abad ke-8 Masehi. Prasasti Dinoyo yang berangka tahun 682 Saka atau 760 Masehi—ditemukan di tepi Sungai Brantas, kini masuk wilayah Kota Malang—menjadi dokumen tertua yang menyebut keberadaan Kerajaan Kanjuruhan dengan rajanya Gajayana. Prasasti itu mengabadikan pendirian sebuah lingga pemujaan untuk menghormati dewa Agastya, serta menyebut nama sang raja dengan gelar Rake Panangkaran, menunjukkan kedalaman tradisi Shivaistik di lembah Brantas.

Kerajaan Kanjuruhan diperkirakan berpusat di wilayah Dinoyo, Kelurahan Tlogomas, sekarang menjadi bagian barat Kota Malang. Para arkeolog menemukan fondasi candi dan struktur batu andesit di kawasan itu yang dipercaya sebagai sisa permukiman urban kerajaan tersebut. Kanjuruhan bukan sekadar kerajaan kecil—ia adalah entitas politik yang cukup berpengaruh di Jawa Timur sebelum Mataram Kuno menegaskan dominasinya di wilayah ini.

Antara Singhasari dan Majapahit: Malang di Puncak Kejayaan Nusantara

Abad ke-13 membawa Malang ke panggung sejarah Nusantara yang lebih besar. Pada 1222 Masehi, Ken Arok yang berasal dari daerah Tumapel—wilayah yang kini mencakup Malang dan sekitarnya—berhasil menggulingkan kekuasaan Raja Kertajaya dari Kediri dalam Pertempuran Ganter. Peristiwa ini melahirkan Kerajaan Singhasari yang berpusat di Singasari, sebuah kecamatan yang hingga kini masih menyandang nama itu di Kabupaten Malang.

Singhasari mencapai puncak kejayaannya di bawah Raja Kertanagara (1268–1292 M), penguasa yang ambisius dan berpandangan jauh. Kertanagara mengirim ekspedisi Pamalayu ke Sumatera, menolak tunduk kepada Kubilai Khan, dan memperluas pengaruh Singhasari hingga ke Semenanjung Malaka dan Bali. Runtuhnya Singhasari akibat pemberontakan Jayakatwang tidak menghapus warisan Malang—sebaliknya, ia menjadi benih yang melahirkan Majapahit, kerajaan terbesar yang pernah berdiri di bumi Nusantara.

Catatan Nagarakretagama karya Mpu Prapanca (1365 M) menyebut sejumlah tempat di wilayah Malang sebagai bagian dari mandala Majapahit yang ramai. Kawasan seperti Singhasari, Kidal, dan Jajaghu (Jago) tercatat sebagai lokasi percandian penting yang berfungsi sebagai pusat ritual keagamaan sekaligus penanda legitimasi kekuasaan Majapahit.

Candi-Candi: Batu-Batu yang Bercerita

Salah satu warisan fisik paling monumental dari era Hindu-Buddha di Malang Raya adalah deretan candi yang tersebar di penjuru wilayahnya. Candi Kidal (abad ke-13) di Tumpang, Kabupaten Malang, didirikan untuk mendharmakan Raja Anusapati. Relief Garudeya pada dindingnya menggambarkan kisah pembebasan dari perbudakan, sebuah narasi simbolis yang kaya makna filosofis.

Candi Jago atau Jajaghu, juga di Tumpang, menyimpan relief Kunjarakarna dan Pancatantra yang luar biasa detail—perpaduan ikonografi Shaiva dan Buddhis yang mencerminkan sikap toleran dan sintetis peradaban Malang kuno. Sementara Candi Singhasari di Kecamatan Singhasari menjadi penanda lokasi ibu kota kerajaan yang kini ramai dipenuhi permukiman modern namun tetap menyimpan arca-arca agung seperti Prajnaparamita—dewi kebijaksanaan yang kini disimpan di Leiden, Belanda.

Masuknya Islam dan Pergeseran Kekuasaan

Memasuki abad ke-15 dan 16, Malang secara perlahan bertransformasi seiring menyebarnya pengaruh Islam dari pesisir utara Jawa. Kerajaan-kerajaan Islam seperti Demak dan kemudian Mataram Islam mulai menetapkan otoritasnya atas wilayah pedalaman Jawa Timur, termasuk Malang. Dalam berbagai babad—terutama Babad Tanah Jawi—disebutkan Malang sebagai wilayah yang sempat menjadi ajang persaingan antara kekuatan Mataram dan penguasa lokal yang mempertahankan tradisi leluhur.

Tradisi lisan setempat mengenal tokoh-tokoh seperti Tumenggung Suryokusumo dan Raden Tumenggung Notodiningrat sebagai penguasa yang berjasa membangun tatanan pemerintahan Malang pada era kerajaan-kerajaan Islam pra-kolonial. Masjid-masjid tua dan makam-makam keramat yang tersebar di Malang menjadi penanda betapa Islam telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat jauh sebelum kolonialisme Belanda datang mengubah segalanya.

Era Kolonial: Kota yang Dibangun di Atas Konflik

VOC dan kemudian pemerintah Hindia Belanda mulai menancapkan kuku kekuasaannya di Malang secara lebih sistematis sejak abad ke-18. Ekspedisi militer Belanda untuk menundukkan daerah pedalaman Jawa Timur—termasuk Malang—kerap disambut perlawanan sengit. Pada periode 1767–1768, pasukan Belanda di bawah pimpinan Kapten Johann Andreas Paravicini melancarkan operasi penaklukan ke wilayah Malang, menghadapi resistensi dari berbagai kelompok yang mempertahankan kedaulatan mereka.

Belanda kemudian menjadikan Malang sebagai residensi pada 1830, dan kota ini tumbuh pesat seiring pembangunan infrastruktur kolonial. Jalur kereta api yang menghubungkan Malang dengan Surabaya diresmikan pada 1879, membuka akses komoditas perkebunan—kopi, teh, tebu, kina—dari pegunungan sekitar Malang menuju pelabuhan ekspor. Inilah yang mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mengubah wajah kota secara dramatis.

Iklim Malang yang sejuk—berada di ketinggian antara 440 hingga 866 meter di atas permukaan laut dan dikelilingi pegunungan seperti Arjuno, Welirang, Bromo-Tengger, dan Semeru—menjadikannya surga bagi para pejabat dan pengusaha Belanda yang ingin melarikan diri dari panas Batavia dan Surabaya. Bangunan-bangunan bergaya art deco dan kolonial Eropa pun bermunculan, memberi Malang julukan “Paris van Oost-Java” atau Paris-nya Jawa Timur.

1 April 1914: Lahirnya Gemeente Malang

Berdasarkan Besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda, pada 1 April 1914, Malang resmi berdiri sebagai Gemeente—setara kotamadya—yang terpisah dari Kabupaten Malang. Penetapan ini bukan sekadar perubahan administratif; ia mencerminkan pengakuan kolonial atas perkembangan pesat Malang sebagai pusat urban yang mandiri secara ekonomi dan sosial. Populasi kota kala itu sekitar 35.000 jiwa dengan komunitas yang beragam: Eropa, pribumi Jawa, dan Tionghoa.

Balai Kota Malang yang megah dibangun pada 1929, menjadi simbol ambisi kolonial sekaligus bukti kepercayaan diri pemerintah Belanda terhadap masa depan kota ini. Taman Alun-alun yang hijau, deretan toko di Kayutangan, dan jaringan trem listrik menjadikan Malang sebagai salah satu kota paling tertata di Jawa pada masanya.

Dari Proklamasi ke Kota Pendidikan

Kemerdekaan Indonesia pada 1945 membuka babak baru bagi Malang. Kota ini menjadi salah satu pusat perlawanan heroik terhadap upaya Belanda kembali menguasai Indonesia dalam Agresi Militer I (1947). Ribuan pejuang dari Malang dan sekitarnya terlibat dalam pertempuran yang mengorbankan nyawa demi mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan.

Pascakemerdekaan, Malang bertransformasi menjadi pusat pendidikan tinggi yang disegani. Universitas Brawijaya berdiri pada 1963, menyusul Universitas Negeri Malang (awalnya IKIP Malang), Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, dan puluhan perguruan tinggi lainnya. Hari ini, lebih dari 300.000 mahasiswa dari seluruh pelosok Indonesia menimba ilmu di Malang, menjadikannya kota dengan rasio mahasiswa tertinggi kedua di Indonesia setelah Yogyakarta.

Malang Hari Ini: Menatap Abad Kedua

Di usianya yang ke-112, Kota Malang dihuni sekitar 900.000 jiwa dalam luas wilayah 110,06 kilometer persegi—salah satu kota terpadat di Jawa Timur. Pertumbuhan sektor pariwisata, industri kreatif, kuliner, dan ekonomi digital menjadi pilar baru pertumbuhan kota yang tak lagi sepenuhnya bergantung pada warisan perkebunan kolonial.

Namun tantangan kota tua yang bertumbuh cepat juga mengintai: kemacetan yang kian parah, alih fungsi lahan yang mengancam kawasan hijau dan cagar budaya, serta ketimpangan antara pusat kota yang modern dan pinggiran yang tertinggal. Bangunan-bangunan kolonial bersejarah di sepanjang Jalan Besar Ijen dan kawasan Kayutangan sebagian masih bertahan, sebagian lainnya telah rata menjadi ruko dan mal.

Hari jadi ke-112 ini selayaknya menjadi refleksi kolektif. Malang bukan sekadar kota yang lahir dari keputusan administratif kolonial—ia adalah akumulasi ribuan tahun peradaban manusia yang bergumul, bersaing, berdamai, dan bersanding. Dari Gajayana yang mendirikan lingga pemujaan di tepi Brantas, Ken Arok yang merebut takhta di Tumapel, hingga anak-anak muda yang hari ini membangun startup teknologi di kawasan Malang Creative Center—semua adalah bagian dari narasi panjang sebuah kota yang tak pernah berhenti bergerak.

Selamat ulang tahun, Kota Malang. Semoga semakin dewasa dalam merawat warisan, semakin bijak dalam membangun masa depan.

— Heri Mulyono, Malang, 1 April 2026

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement