Gelora Bung Karno yang Sempat Dilupakan

 Gelora Bung Karno yang Sempat Dilupakan

Proses pembangunan Gelora Bung Karno.

JAYAKARTA NEWS – Tahun 1962 ketika berlangsung Asian Games IV di Jakarta, Timmy Setiawan masih 12 tahun. Ia selalu datang ke Gelora Bung Karno (GBK), Senayan dengan jalan kaki dari rumahnya di Tanah Abang. Sebagai anak-anak ia senang dan bangga di kotanya ada stadion besar dan bagus.

Sekitar 22  tahun kemudian, setelah Timmy menjadi arsitek dan terlibat dalam renovasi GBK tahun 1985, ia kaget menyaksikan kondisi GBK.

“Kondisinya sangat memprihatinkan,“ papar Timmy saat diskusi Arsitektur Temu Gelang,  pertengahan Oktober lalu dalam kuliah daring yang disampaikan Arsitek Dr Ir Yuke Ardhiati di Kampus Merdeka. Kuliah ini diikuti mahasiswa arsitektur S2 dan S3 dari Universitas Pancasila dan Universitas Trisakti Jakarta. Selain itu diundang pula beberapa arsitek senior, di antaranya Timmy, lalu desainer serta perupa yang memiliki keterkaitan dengan tema yang dibahas.

Stadion GBK memang baru dibangun karena persyaratan sebagai tuan rumah harus memiliki stadion bertaraf internasional. Dan Presiden Sukarno menyanggupi bahwa Indonesia sebagai tuan rumah siap untuk itu. Dan tekad memiliki stadion itu sebenarnya muncul setelah serangkaian kunjungan muhibah Presiden RI pertama itu ke luar negeri tahun 1956.

Muhibah pertama pasca Pemilu 1955 Diundang ke Amerika (1956). Dilanjutkan ke Moskow dan negara-negara Eropa (1956). Di antaranya mengunjungi Stadion Pakhtakor di Tashkent, Uzbekistan dan Luzhniki di Moskow yang baru selesai. 

Sejak itu Presiden Sukarno mengkristalkan tekadnya untuk memiliki stadion utama. Dengan suatu Inovasi yang memakai struktur Temu Gelang demi kebanggaan bangsa Indonesia. (Dok: Yayasan Bung Karno, buku Kunjungan Presiden RI Sukarno ke Sowjet Uni, 1956)

Dalam paparannya Yuke mengatakan, GBK memiliki Arsitektur Temu Gelang. Arsitektur Temu Gelang yang dimaksud adalah bertemunya bentuk konstruksi atap melingkar rancangan Stadion Utama GBK 1962.

Ini ide Bung Karno yang memang seorang arsitek lulusan Perguruan  inggi  Teknik , Technische Hoogeschool te Bandoeng , 1926  (sekarang ITB Bandung). Proyek GBK ini dikerjakan para arsitek yang tergabung dalam sebuah Komite di Kota Moskow (Uni Soviet).

Mengutip dari buku yang ditulisnya, Bung Karno Sang Arsitek, Bung Karno, menurut Yuke pernah mengatakan, “Saya memerintahkan kepada arsitek-arsitek Uni Soviet, bikinkan atap temu gelang daripada mainstadium yang tidak ada di lain tempat di seluruh dunia. Bikin seperti itu. Meskipun mereka tetap berkata… yah tidak mungkin Pak.

Tidak biasa, tidak lazim, tidak galib, kok ada stadion atapnya temu gelang, di mana-mana atapnya ya sebagian saja. Tidak, saya katakan sekali lagi, tidak. Atap stadion kita harus temu gelang.”

Tujuannya sederhana saja, supaya para penonton terlindungi dari panasnya matahari. Dan tentu dengan performance yang inovatif demi nation pride Indonesia.

Bung Karno pun menegaskan, lanjut Yuke, “Tidak lain dan tidak bukan oleh karena saya ingin Indonesia kita ini bisa tampil secara luar biasa. Kecuali praktis juga ada gunanya, supaya penonton terhindar dari teriknya matahari. Sehingga ikut mengangkat nama Indonesia.

Dan sekarang ini terbukti benar saudara-saudara, di mana-mana model atap stadion temu gelang dikagumi oleh seluruh dunia. Bahwa Indonesia mempunyai satu-satunya main stadium yang atapnya temu gelang. Sehingga benar-benar memukau kepada siapa saja yang melihatnya.”

Asian Games di Indonesia tahun 1962.

GBK di Suatu Masa

GBK, stadion kebanggaan di masanya. Di tengah kota pula. Dipergunakan pertama kali dalam event olahraga internasional yang juga merupakan kali pertama Indonesia menjadi tuan rumah. Benar-benar kebanggaan bagi masyarakat yang ketika itu baru 17 tahun merdeka.

Menurut Timmy Setiawan, berita yang jadi pembicaraan seolah tiada lagi selain Asian Games. “Saya waktu itu ikut memburu, mengejar-ngejar burung merpati. Karena waktu pembukaan dengan melepaskan banyak merpati,“ kata Timmy mengenang.

Dan kali ini, saat mengikuti kuliah Yuke Ardhiati, dianggap suatu kesempatan bagi Security Officer FIFA atau Federasi Sepak Bola Internasonal ini bisa melepas unek-uneknya. “Bu Yuke menampilkan paparan yang menarik, sehingga menggugah ingatan ke masa itu,“ ujar Timmy yang banyak  terlibat  dalam pengelolaan bangunan olahraga di Senayan.

“Kuliah umum” sebut saja demikian, dari sisi kepesertaan. Kuliah yang sebenarnya hanya membahas kearsitekturan Sukarno, dan perannya sebagai arsitek dan sebagai Kepala Negara pada bangunan-bangunan yang monumental, atau tinggalan-tinggalan bernilai sejarah.

Namun, karena terkait dan senantiasa bersinggungan dengan perjalanan hidup sang tokoh, maka dalam sesi diskusi kuliah ini acap muncul letupan-letupan emosi. Kadang ungkapan kebanggaan, keprihatinan, ada pula rasa sedih, luka, dan perih terbawa kenangan sejarah silam.

Barangkali inilah memang sejarah yang menyangkut Bung Karno. Seakan penuh misteri yang perlu didedah. Dan ada pula pelajaran lewat narasi yang disampaikan peserta walau tak terbahasakan secara gamblang, bahwa kita pernah atau hendak melupakan peran penting aktor tegaknya NKRI ini.

Kembali ke penuturan Timmy tentang Asian Games yang begitu membekas di masa kanak-kanaknya. Seusai gelaran pesta olahraga itu, anak-anak sekolah punya pengalaman melakukan aubade di stadion GBK. Pokoknya menyenangkan sekali. Stadion itu jadi kebanggaan masyarakat. Ada juga perkumpulan pemuda bermain  sepak bola di sana. “Kita punya pengalaman yang mengesankan denga stadion itu,“ ucap Timmy, arsitek lulusan  Universitas Tarumanegara Jakarta.

Tapi seiring perjalanan waktu, kebanggaan pun mulai surut. Bahkan merambahlah kekecewaan. Berawal ketika tahun 1972, dirinya tersentak kaget ketika datang ke stadion GBK. Ketika itu Timmy sudah mahasiswa. Suatu hari bersama teman-temannya melakukan kegiatan mahajaya atau kegiatan resimen mahasiswa di sana. “Saya jadi sedih melihat stadion itu. Keadaannya  tidak terawat. Wastafelnya terlihat ada di tukang loak. Itulah masa suramnya stadion GBK,“ ungkap Timmy tampak sedih.

“Karena keadaan,“ tambahnya lagi.

Ya, menengok sejarah saat itu, kondisi sosial politik dan keamanan cukup muram. Usai peristiwa 1965 masih terus berlanjut terjadinya penghilangan nyawa sesama anak bangsa hingga tahun 1970-an. Masa sejarah kelam NKRI di masa itu mirip revolusi sosial.

Jika anda cukup banyak referensi  dari pelbagai sumber, termasuk dari luar negeri, anda akan memiliki bangunan kisah sejarah masa itu yang mungkin mendekati realita dan kebenaran.

Ekses dari situasi itu, GBK pun menjadi “terabaikan”. Waktu itu dipakai markas tentara karena situasi yang belum kondusif.

Istana Olahraga

Timmy mengatakan, Istora, akronim dari istana olahraga/sport palace. Bagi orang yang dulu bekerja di situ merasa bangga dengan Istora. Kualitasnya pada saat itu terbilang mewah.

Istora Senayan itu awalnya, atapnya masih separuh (atapnya belum temu gelang) dan atas permintaan Bung Karno waktu itu dibantu arsitek Silaban, maka banyak sekali kritikan dan akhirnya disampaikan ke tim Uni Soviet. Tim yang berkedudukan di Kota Moskow, ketika itu bersamaan tengah menangani proyek bendungan Aswan di Mesir (yang mengontrol aliran Sungai Nil). Bahkan di sana dibangun pula Monumen Persahabatan antara Mesir dengan Moskow. Namun di sekitar Istora Jakarta tidak dibangun monumen yang menggambarkan pesahabatan rakyat Indonesia dan Rusia.

Pada saat itu banyak sekali bangunan-bangunan dalam keadaan tidak terawat. Sampai akhirnya pada tahun 1984 bangunan GBK itu diambil alih oleh Setneg. Sebelumnya dikelola oleh Yayasan Gelora Bung Karno. “Tahun 1985 setelah GBK diambil alih Setneg, sebagai arsitek saya terlibat untuk merenovasi GBH dalam rangka PON XI tahun 1985,“ kata Timmy.

Sejak itulah GBK mulai ada perbaikan, lanjut Timmy. Perbaikannya cukup masif sampai kami juga membuat kuadron dari stainless steel. Selain renovasi stadion utama juga stadion-stadion lainnya sehingga layak untuk digunakan PON 1985.

Saat hendak renovasi ada kendala yang cukup berarti. Para arsitek kita tidak punya file gambar. Hal itu akhirnya terpecahkan setelah kontak dengan pihak Uni Soviet melalui jalur diplomasi. Lalu Kemenlu minta ke Kedutaan Uni Soviet guna membeli lagi gambar yang sangat dibutuhkan Jakarta ke negeri beruang merah itu.

Kemudian dikirimlah dari Rusia satu peti gambar, masih manual, dan itu masih lengkap. Mulai pondasi, tiang pancang, kita bisa menemukannya walau dalam bahasa Rusia. Memang masih ada kendala bahasa, sehingga  kita harus pakai penerjemah. “Lalu gambar-gambar itu kita digitalkan,“ ujar Timmy.

Para arsitek Indonesia yang melakukan renovasi itu sebelumnya melakukan penelitian struktur. “Bukan main,“ komentar Timmy. Mereka berdecak kagum. Kualitas bahan bangunannya bukan main. Bagus sekali, kelas satu. Selanjutnya , renovasi yang cukup besar dilakukan lagi pada tahun 2007, ketika Indonesia menjadi tuan rumah Piala Asia dan renovasi-renovasi lain cukup banyak.

Ihwal adanya monumen dua patung Ramayana di Jl Asia Afrika, itu merupakan karya pematung pasca Asian Games. Atau saat dilakukan perbaikan-perbaikan tahun 1980-an. Dan perbaikan GBK yang cukup signifikan adalah penghijauan. “Parkir Timur itu dulu aspal semua. HUT ABRI atau TNI pernah diadakan di sana. Lalu pada era Megawati menjadi Presiden, area itu diganti semua menjadi taman,“ kata Timmy.

Yang cukup menarik pula, ada jogging track di situ dan menjadi taman persinggahan burung. Jadi burung-burung itu ketika bermigrasi dari selatan ke utara singga di taman, di GBK. Dulu waktu 1962 Bung Karno mendapat sumbangan tanaman pohon, tanaman jenis langka dari negara-negara Asia, Asia Tengah, lalu burung-burung langka pun singgah di situ.

Bung Karno berpidato di stadion Pakhtakor Uzbekistan 1956 saat muhibah ke mancanegara.

Kembali ke GBK

Timmy dalam kesempatan ini juga menyinggung tulisan Yulius Poer, wartawan Kompas tentang buku yang ditulisnya berjudul Dari Gelora Bung Karno ke Gelora Bung Karno. Kenapa judulnya demikian? Timmy pun lanjut menjelaskan. Karena sesudah tahun 1965 namanya diganti menjadi Gelora Senayan. Lalu di era Presiden Gus Dur namanya dikembalikan menjadi GBK lagi. 

“Alhamdulillah sekarang pengelolaannya sudah profesional,“ ujar Timmy, pimpinan PT Unitri yang  bergerak di bidang desain dan konstruksi bangunan.

Kita sebagai bangsa Indonesia sangat bangga memiliki stadion yang luas, hijau di tengah kota. Di dunia itu sedikit sekali, bahkan kita tiada lawan punya kompleks olahraga di tengah kota yang merupakan suatu area hijau yang sangat besar. Banyak menteri keolahragaan dari negara-negara tetangga yang iri dengan GBK. Posisinya di tengah kota, hutan kotanya luas sekali.

Karakteristik

Yuke mengatakan, stadion yang menyerupai temu gelang itu ada di stadion Koleseum, Italia tapi Koleseum tidak  memiliki konsul  atau sejumlah teritis yang melingkar seperti GBK yang “se-rigid” itu, yang melindungi semua penonton, tapi sekedar bentuk memang serupa.

Ketika Bung Karno dalam perjalanan muhibah ke Uni Soviet juga mengunjungi Stadion Luzhniki di Moskow, stadion itu belum ada atapnya, baru kemudian ditambahkan atap. Tapi dengan bidang, posisinya tegak lurus, vertikal. Sedangkan GBK, atas diskusi Sukarno dengan Silaban, atapnya diusulkan agak miring ke depan.

Dr Ir Yuke Ardhiati membeberkan, tahun 1962 ketika berlangsung Asian Games di Jakarta, banyak liputan media yang mengatakan bahwa stadion GBK merupakan yang cukup dikenal di zamannya karena memiliki inovasi-inovasi. Stadion Temu Gelang ini menjadi isu yang hangat di masa itu.

Menurut Yuke, perdebatan yang muncul dari arsitek Moskow sepertinya sengaja oleh Bung Karno dijadikan “satu isu”. Kamu boleh saja jadi arsitek, tapi saya penentunya, saya idealismenya dan itu berhasil. Karena pada zaman itu belum ada temu gelang. Kalau soal preseden dimanapun selalu dimulai yang awal. Akan tetapi kalau ada inovasi sesudahnya itu sebetulnya yang menjadi berbeda.

Namun dalam pandangan Timmy Kusuma, ide atap temu gelang, belum tentu ide Bung Karno dari awal. Barangkali itu kebetulan saja ingin menyambungkan garis lingkar dari dua sisi itu. Karena gambar awal yang diberikan Soviet atapnya hanya ada di sisi timur dan barat. Dengan diusulkannya semua terpasang atap, maka dengan sendirinya harus tersambung/ketemu, yang namanya temu gelang,  karena ke bawahnya itu  pakai dilatasi. Kalau lihat bawah itu seperti irisan-irisan kue.

Yuke juga menambahkan, Pembangunan Stadion Utama merupakan bagian terintergrasi dari gagasan Jakarta City Planning, yang meliputi Jembatan Semanggi, Hotel Indonesia dan termasuk Patung Selamat Datang.Di akhir paparnnya Yuke seperti mengingatkan, Bung Karno  sudah memberikan sumbangan pada negara, stadion dengan atap temu gelang  dan lainnya sangat  bernilai. Lantas, kita yang berada di era sekarang apa yang bisa kita lakukan dari tinggalan-tinggalan itu. Dan tentu merawat dan menjaganya, lalu dalam menghadirkan arsitektur bangunan idealnya terus berinovasi dalam berkarya, kreatif  seiring geliat zamannya. Namun, seperti yang sering dikemukakannya adalah memiliki karakteristik  sesuai  jiwa dan paras ke-Indonsia-an kita. (iswati)

admin

1 Comment

  • Thanks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *