Gelora Bung Karno yang Sempat Dilupakan

JAYAKARTA NEWS – Tahun 1962 ketika berlangsung Asian Games IV di Jakarta, Timmy Setiawan masih 12 tahun. Ia selalu datang ke Gelora Bung Karno (GBK), Senayan dengan jalan kaki dari rumahnya di Tanah Abang. Sebagai anak-anak ia senang dan bangga di kotanya ada stadion besar dan bagus.

Sekitar 22  tahun kemudian, setelah Timmy menjadi arsitek dan terlibat dalam renovasi GBK tahun 1985, ia kaget menyaksikan kondisi GBK.

“Kondisinya sangat memprihatinkan,“ papar Timmy saat diskusi Arsitektur Temu Gelang,  pertengahan Oktober lalu dalam kuliah daring yang disampaikan Arsitek Dr Ir Yuke Ardhiati di Kampus Merdeka. Kuliah ini diikuti mahasiswa arsitektur S2 dan S3 dari Universitas Pancasila dan Universitas Trisakti Jakarta. Selain itu diundang pula beberapa arsitek senior, di antaranya Timmy, lalu desainer serta perupa yang memiliki keterkaitan dengan tema yang dibahas.

Stadion GBK memang baru dibangun karena persyaratan sebagai tuan rumah harus memiliki stadion bertaraf internasional. Dan Presiden Sukarno menyanggupi bahwa Indonesia sebagai tuan rumah siap untuk itu. Dan tekad memiliki stadion itu sebenarnya muncul setelah serangkaian kunjungan muhibah Presiden RI pertama itu ke luar negeri tahun 1956.

Muhibah pertama pasca Pemilu 1955 Diundang ke Amerika (1956). Dilanjutkan ke Moskow dan negara-negara Eropa (1956). Di antaranya mengunjungi Stadion Pakhtakor di Tashkent, Uzbekistan dan Luzhniki di Moskow yang baru selesai. 

Sejak itu Presiden Sukarno mengkristalkan tekadnya untuk memiliki stadion utama. Dengan suatu Inovasi yang memakai struktur Temu Gelang demi kebanggaan bangsa Indonesia. (Dok: Yayasan Bung Karno, buku Kunjungan Presiden RI Sukarno ke Sowjet Uni, 1956)

Dalam paparannya Yuke mengatakan, GBK memiliki Arsitektur Temu Gelang. Arsitektur Temu Gelang yang dimaksud adalah bertemunya bentuk konstruksi atap melingkar rancangan Stadion Utama GBK 1962.

Ini ide Bung Karno yang memang seorang arsitek lulusan Perguruan  inggi  Teknik , Technische Hoogeschool te Bandoeng , 1926  (sekarang ITB Bandung). Proyek GBK ini dikerjakan para arsitek yang tergabung dalam sebuah Komite di Kota Moskow (Uni Soviet).

Mengutip dari buku yang ditulisnya, Bung Karno Sang Arsitek, Bung Karno, menurut Yuke pernah mengatakan, “Saya memerintahkan kepada arsitek-arsitek Uni Soviet, bikinkan atap temu gelang daripada mainstadium yang tidak ada di lain tempat di seluruh dunia. Bikin seperti itu. Meskipun mereka tetap berkata… yah tidak mungkin Pak.

Tidak biasa, tidak lazim, tidak galib, kok ada stadion atapnya temu gelang, di mana-mana atapnya ya sebagian saja. Tidak, saya katakan sekali lagi, tidak. Atap stadion kita harus temu gelang.”

Tujuannya sederhana saja, supaya para penonton terlindungi dari panasnya matahari. Dan tentu dengan performance yang inovatif demi nation pride Indonesia.

Bung Karno pun menegaskan, lanjut Yuke, “Tidak lain dan tidak bukan oleh karena saya ingin Indonesia kita ini bisa tampil secara luar biasa. Kecuali praktis juga ada gunanya, supaya penonton terhindar dari teriknya matahari. Sehingga ikut mengangkat nama Indonesia.

Dan sekarang ini terbukti benar saudara-saudara, di mana-mana model atap stadion temu gelang dikagumi oleh seluruh dunia. Bahwa Indonesia mempunyai satu-satunya main stadium yang atapnya temu gelang. Sehingga benar-benar memukau kepada siapa saja yang melihatnya.”

Asian Games di Indonesia tahun 1962.

GBK di Suatu Masa

GBK, stadion kebanggaan di masanya. Di tengah kota pula. Dipergunakan pertama kali dalam event olahraga internasional yang juga merupakan kali pertama Indonesia menjadi tuan rumah. Benar-benar kebanggaan bagi masyarakat yang ketika itu baru 17 tahun merdeka.

Menurut Timmy Setiawan, berita yang jadi pembicaraan seolah tiada lagi selain Asian Games. “Saya waktu itu ikut memburu, mengejar-ngejar burung merpati. Karena waktu pembukaan dengan melepaskan banyak merpati,“ kata Timmy mengenang.

Dan kali ini, saat mengikuti kuliah Yuke Ardhiati, dianggap suatu kesempatan bagi Security Officer FIFA atau Federasi Sepak Bola Internasonal ini bisa melepas unek-uneknya. “Bu Yuke menampilkan paparan yang menarik, sehingga menggugah ingatan ke masa itu,“ ujar Timmy yang banyak  terlibat  dalam pengelolaan bangunan olahraga di Senayan.

“Kuliah umum” sebut saja demikian, dari sisi kepesertaan. Kuliah yang sebenarnya hanya membahas kearsitekturan Sukarno, dan perannya sebagai arsitek dan sebagai Kepala Negara pada bangunan-bangunan yang monumental, atau tinggalan-tinggalan bernilai sejarah.

Namun, karena terkait dan senantiasa bersinggungan dengan perjalanan hidup sang tokoh, maka dalam sesi diskusi kuliah ini acap muncul letupan-letupan emosi. Kadang ungkapan kebanggaan, keprihatinan, ada pula rasa sedih, luka, dan perih terbawa kenangan sejarah silam.

Barangkali inilah memang sejarah yang menyangkut Bung Karno. Seakan penuh misteri yang perlu didedah. Dan ada pula pelajaran lewat narasi yang disampaikan peserta walau tak terbahasakan secara gamblang, bahwa kita pernah atau hendak melupakan peran penting aktor tegaknya NKRI ini.

Kembali ke penuturan Timmy tentang Asian Games yang begitu membekas di masa kanak-kanaknya. Seusai gelaran pesta olahraga itu, anak-anak sekolah punya pengalaman melakukan aubade di stadion GBK. Pokoknya menyenangkan sekali. Stadion itu jadi kebanggaan masyarakat. Ada juga perkumpulan pemuda bermain  sepak bola di sana. “Kita punya pengalaman yang mengesankan denga stadion itu,“ ucap Timmy, arsitek lulusan  Universitas Tarumanegara Jakarta.

Tapi seiring perjalanan waktu, kebanggaan pun mulai surut. Bahkan merambahlah kekecewaan. Berawal ketika tahun 1972, dirinya tersentak kaget ketika datang ke stadion GBK. Ketika itu Timmy sudah mahasiswa. Suatu hari bersama teman-temannya melakukan kegiatan mahajaya atau kegiatan resimen mahasiswa di sana. “Saya jadi sedih melihat stadion itu. Keadaannya  tidak terawat. Wastafelnya terlihat ada di tukang loak. Itulah masa suramnya stadion GBK,“ ungkap Timmy tampak sedih.

“Karena keadaan,“ tambahnya lagi.

Ya, menengok sejarah saat itu, kondisi sosial politik dan keamanan cukup muram. Usai peristiwa 1965 masih terus berlanjut terjadinya penghilangan nyawa sesama anak bangsa hingga tahun 1970-an. Masa sejarah kelam NKRI di masa itu mirip revolusi sosial.

Jika anda cukup banyak referensi  dari pelbagai sumber, termasuk dari luar negeri, anda akan memiliki bangunan kisah sejarah masa itu yang mungkin mendekati realita dan kebenaran.

Ekses dari situasi itu, GBK pun menjadi “terabaikan”. Waktu itu dipakai markas tentara karena situasi yang belum kondusif.

Istana Olahraga

Timmy mengatakan, Istora, akronim dari istana olahraga/sport palace. Bagi orang yang dulu bekerja di situ merasa bangga dengan Istora. Kualitasnya pada saat itu terbilang mewah.

Istora Senayan itu awalnya, atapnya masih separuh (atapnya belum temu gelang) dan atas permintaan Bung Karno waktu itu dibantu arsitek Silaban, maka banyak sekali kritikan dan akhirnya disampaikan ke tim Uni Soviet. Tim yang berkedudukan di Kota Moskow, ketika itu bersamaan tengah menangani proyek bendungan Aswan di Mesir (yang mengontrol aliran Sungai Nil). Bahkan di sana dibangun pula Monumen Persahabatan antara Mesir dengan Moskow. Namun di sekitar Istora Jakarta tidak dibangun monumen yang menggambarkan pesahabatan rakyat Indonesia dan Rusia.

Pada saat itu banyak sekali bangunan-bangunan dalam keadaan tidak terawat. Sampai akhirnya pada tahun 1984 bangunan GBK itu diambil alih oleh Setneg. Sebelumnya dikelola oleh Yayasan Gelora Bung Karno. “Tahun 1985 setelah GBK diambil alih Setneg, sebagai arsitek saya terlibat untuk merenovasi GBH dalam rangka PON XI tahun 1985,“ kata Timmy.

Sejak itulah GBK mulai ada perbaikan, lanjut Timmy. Perbaikannya cukup masif sampai kami juga membuat kuadron dari stainless steel. Selain renovasi stadion utama juga stadion-stadion lainnya sehingga layak untuk digunakan PON 1985.

Saat hendak renovasi ada kendala yang cukup berarti. Para arsitek kita tidak punya file gambar. Hal itu akhirnya terpecahkan setelah kontak dengan pihak Uni Soviet melalui jalur diplomasi. Lalu Kemenlu minta ke Kedutaan Uni Soviet guna membeli lagi gambar yang sangat dibutuhkan Jakarta ke negeri beruang merah itu.

Kemudian dikirimlah dari Rusia satu peti gambar, masih manual, dan itu masih lengkap. Mulai pondasi, tiang pancang, kita bisa menemukannya walau dalam bahasa Rusia. Memang masih ada kendala bahasa, sehingga  kita harus pakai penerjemah. “Lalu gambar-gambar itu kita digitalkan,“ ujar Timmy.

Para arsitek Indonesia yang melakukan renovasi itu sebelumnya melakukan penelitian struktur. “Bukan main,“ komentar Timmy. Mereka berdecak kagum. Kualitas bahan bangunannya bukan main. Bagus sekali, kelas satu. Selanjutnya , renovasi yang cukup besar dilakukan lagi pada tahun 2007, ketika Indonesia menjadi tuan rumah Piala Asia dan renovasi-renovasi lain cukup banyak.

Ihwal adanya monumen dua patung Ramayana di Jl Asia Afrika, itu merupakan karya pematung pasca Asian Games. Atau saat dilakukan perbaikan-perbaikan tahun 1980-an. Dan perbaikan GBK yang cukup signifikan adalah penghijauan. “Parkir Timur itu dulu aspal semua. HUT ABRI atau TNI pernah diadakan di sana. Lalu pada era Megawati menjadi Presiden, area itu diganti semua menjadi taman,“ kata Timmy.

Yang cukup menarik pula, ada jogging track di situ dan menjadi taman persinggahan burung. Jadi burung-burung itu ketika bermigrasi dari selatan ke utara singga di taman, di GBK. Dulu waktu 1962 Bung Karno mendapat sumbangan tanaman pohon, tanaman jenis langka dari negara-negara Asia, Asia Tengah, lalu burung-burung langka pun singgah di situ.

Bung Karno berpidato di stadion Pakhtakor Uzbekistan 1956 saat muhibah ke mancanegara.

Kembali ke GBK

Timmy dalam kesempatan ini juga menyinggung tulisan Yulius Poer, wartawan Kompas tentang buku yang ditulisnya berjudul Dari Gelora Bung Karno ke Gelora Bung Karno. Kenapa judulnya demikian? Timmy pun lanjut menjelaskan. Karena sesudah tahun 1965 namanya diganti menjadi Gelora Senayan. Lalu di era Presiden Gus Dur namanya dikembalikan menjadi GBK lagi. 

“Alhamdulillah sekarang pengelolaannya sudah profesional,“ ujar Timmy, pimpinan PT Unitri yang  bergerak di bidang desain dan konstruksi bangunan.

Kita sebagai bangsa Indonesia sangat bangga memiliki stadion yang luas, hijau di tengah kota. Di dunia itu sedikit sekali, bahkan kita tiada lawan punya kompleks olahraga di tengah kota yang merupakan suatu area hijau yang sangat besar. Banyak menteri keolahragaan dari negara-negara tetangga yang iri dengan GBK. Posisinya di tengah kota, hutan kotanya luas sekali.

Karakteristik

Yuke mengatakan, stadion yang menyerupai temu gelang itu ada di stadion Koleseum, Italia tapi Koleseum tidak  memiliki konsul  atau sejumlah teritis yang melingkar seperti GBK yang “se-rigid” itu, yang melindungi semua penonton, tapi sekedar bentuk memang serupa.

Ketika Bung Karno dalam perjalanan muhibah ke Uni Soviet juga mengunjungi Stadion Luzhniki di Moskow, stadion itu belum ada atapnya, baru kemudian ditambahkan atap. Tapi dengan bidang, posisinya tegak lurus, vertikal. Sedangkan GBK, atas diskusi Sukarno dengan Silaban, atapnya diusulkan agak miring ke depan.

Dr Ir Yuke Ardhiati membeberkan, tahun 1962 ketika berlangsung Asian Games di Jakarta, banyak liputan media yang mengatakan bahwa stadion GBK merupakan yang cukup dikenal di zamannya karena memiliki inovasi-inovasi. Stadion Temu Gelang ini menjadi isu yang hangat di masa itu.

Menurut Yuke, perdebatan yang muncul dari arsitek Moskow sepertinya sengaja oleh Bung Karno dijadikan “satu isu”. Kamu boleh saja jadi arsitek, tapi saya penentunya, saya idealismenya dan itu berhasil. Karena pada zaman itu belum ada temu gelang. Kalau soal preseden dimanapun selalu dimulai yang awal. Akan tetapi kalau ada inovasi sesudahnya itu sebetulnya yang menjadi berbeda.

Namun dalam pandangan Timmy Kusuma, ide atap temu gelang, belum tentu ide Bung Karno dari awal. Barangkali itu kebetulan saja ingin menyambungkan garis lingkar dari dua sisi itu. Karena gambar awal yang diberikan Soviet atapnya hanya ada di sisi timur dan barat. Dengan diusulkannya semua terpasang atap, maka dengan sendirinya harus tersambung/ketemu, yang namanya temu gelang,  karena ke bawahnya itu  pakai dilatasi. Kalau lihat bawah itu seperti irisan-irisan kue.

Yuke juga menambahkan, Pembangunan Stadion Utama merupakan bagian terintergrasi dari gagasan Jakarta City Planning, yang meliputi Jembatan Semanggi, Hotel Indonesia dan termasuk Patung Selamat Datang.Di akhir paparnnya Yuke seperti mengingatkan, Bung Karno  sudah memberikan sumbangan pada negara, stadion dengan atap temu gelang  dan lainnya sangat  bernilai. Lantas, kita yang berada di era sekarang apa yang bisa kita lakukan dari tinggalan-tinggalan itu. Dan tentu merawat dan menjaganya, lalu dalam menghadirkan arsitektur bangunan idealnya terus berinovasi dalam berkarya, kreatif  seiring geliat zamannya. Namun, seperti yang sering dikemukakannya adalah memiliki karakteristik  sesuai  jiwa dan paras ke-Indonsia-an kita. (iswati)

I SEE Fest, Ajang Rekreasi Keluarga Perkotaan

Grup band “Halus Lembut” yang baru saja merilis single “kapal miring”, salah satu yang akan mengisi I SEE Fest 2019. Mereka hadir dalam jumpa pers siang tadi (12/8). (foto: dcw)

Jayakarta News – Untuk pertama kalinya, sebuah festival budaya kreatif yang dikemas di ruang terbuka, bakal digelar di Jakarta. Event bertajuk I SEE Fest 2019 itu bakal dihelat di area Gelora Bung Karno (GBK), tanggal 27 September sampai dengan 6 Oktober 2019. Sebuah gawe bareng LIMA Armada Utama dan Pengelola GBK itu mengusung konsep “international creative culture-outdoor festival”.

“Ini event yang didedikasikan sebagai ajang rekreasi keluarga perkotaan. Di sana akan ditampilkan beragam fitur, antara lain produk kreatif, kuliner, kegiatan luar ruang, travel serta pameran budaya dari dalam dan luar negeri,” ujar Lia Indriasari, Direktur LIMA dalam jumpa pers di markas Granada Jl Bumi, Jakarta Selatan, hari ini (12/8).

Gelar perdaa I SEE Fest 2019 yang mengangkat tema “experience the ambience” menjanjikan nuansa rekreasi keluarga perkotaan. I SEE Fest juga bisa diartikan “saya datang untuk melihat festival”. “Kami manargetkan lebih dari 100.000 pengunjung akan menghadiri acara yang dibagi dalam delapan area dengan karakteristik yang kreatif dan menarik,” tambah Lia.

Delapan area itu adalah avenue of the world, travel around the world, hobbyist heaven, sport till you drop, street food arcade, market place corner, playground at the park, dan mini racing area. “Bukan hanya itu. Penyelenggara juga akan menampilkan berbagai hiburan kreatif seperti art and light festival, outdoor cinema, creative art display, gathering komunitas, dan tuning and modification,” kata Lia pula.

I SEE Fest 2019 juga mengangkat tema hybrid festival. Belum habis aneka rupa kegiatan kreatif yang menghibur, penyelenggara juga merancang hiburan yang menyenangkan lainnya seperti sirkus, skate park, playground, bahkan permainan tradisional. Untuk itu semua, dipilihlah lokasi Gelora Bung Karno yang berada di jantung kota.

Festival akan menempati venues lahan outdoor GBK di antaranya Plasa Sudirman, Plasa Timur, Parkir Timur, Plasa Tenggara, Parkir Selatan, dan Ring Road Stadion Utama, seluas total 40.000 meter persegi. Partisipan dari manca negara Asia, akan diklaster khusus bersama 250 eksibitor lain. “Jam buka festival sudah kami atur, Senin sampai Jumat mulai pukul 15.00 – 22.00 WIB, Sabtu mulai pukul 09.00 – 00.00, dan Minggu mulai pukul 07.00 – 22.00 WIB,” tambah Lia. (rr)

Jokowi Hadir ke Konser Guns N’Roses di GBK, Kamis Besok?

Sebagai pencinta musik keras, Presiden Indonesia Joko Widodo diharapkan datang ke konser Guns N’ Roses. Band rock itu akan mengguncang Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta pada Kamis (8/11).

“Kalau soal kedatangan Pak Jokowi belum ada yang tahu, kemungkinan selalu ada,” kata Adib Hidayat, selaku perwakilan dari promotor saat jumpa pers di GBK, Jakarta, Selasa (6/11).

Menurut pihak promotor, sejauh ini tidak ada undangan resmi untuk Jokowi. Namun tentu semua pihak bakal menyambut baik kedatangan orang nomor satu di Indonesia itu di konser Guns N’ Roses.

“Kalau (Jokowi) datang pasti senang,” ujarnya.

Persiapan konser Guns N’ Roses di Stadion Gelora Bung Karno Senayan Jakarta–foto istimewa

Jelang konser spektakuler tersebut, TEM & UnUsUaL Entertainment selaku promotor menyebut persiapan konser Guns N’ Roses telah mencapai 80 persen. Panggung besar sudah berdiri di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.

Area serta panggung siap menyambut ribuan fans yang akan berkumpul untuk merayakan momen kebersamaan formasi klasik Guns N’ Roses yang sangat ditunggu-tunggu pecinta musik rock.

Apalagi band dengan hits November Rain itu bakal beraksi dengan formasi klasik setelah berpuluh tahun lamanya. Tujuh personel Guns N’Roses telah mendarat di Jakarta, Senin (6/11) kemarin. “Dia masih jet lag. Istirahat buat sound cek hari ini,” ujar Adib Hidayat. Mereka memboyong sebanyak 50  orang kru dan akan menggebrak GBK dengan durasi 3 jam. “Lapangan rumput hijau pun sudah ditutup terpal,” timpal Adib lagi. (pik).

Ketua DPRD DKI: KoPHI Bisa Giatkan Hoki Lagi

Tim KoPHI–Komunitas Pecinta Hoki Indonesia–di stadion hoki Pintu VII Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta

Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi menyambut baik Komunitas Pecinta Hoki Indonesia (KoPHI) yang menjadi wahana para atlet senior untuk menggiatkan hoki kembali. KoPHI hendaknya melibatkan dan membina sekaligus memotivasi para junior hoki untuk berkembang dan berprestasi. Masa muda “bandel” itu wajar tapi kemudian harus punya prestasi. Prestasi itu bisa dari berbagai bidang termasuk olahraga.

Dikatakan, adanya lapangan hoki karpet biru di Pintu VII areal GBK Senayan yang 2 Desember 2017 lalu diresmikan Presiden Jokowi bisa dimanfaatkan para atlet hoki di berbagai segmen usia.

“Ayo para atlet yang masih duduk di bangku sekolah atau perguruan tinggi khususnya yang di DKI, galakkan lagi latihan-latihan hoki lapangan, lalu ikuti kompetisi, kita sudah punya fasilitas dua lapangan karpet berstandar internasional, jangan sia-siakan,” demikian pesan Prasetyo, yang dulunya atlet hoki, ketika hadir dalam acara “Main Hoki Bareng dan Silaturrahim di Senayan Jakarta, Minggu (25/2).

Acara ini dihadiri oleh sekitar 140 pehoki, terdiri dari mantan pehoki nasional dari Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Padang, serta pehoki dari SMAN 16 dan London School (sparring partner).

Prasetyo yang mantan atlet hoki DKI dari Klub Star era tahun 1980-an itu melanjutkan, lapangan hoki karpet itu nanti akan digunakan Asian Games ke-18 pada Agustus-September. Dia berjanji akan memfasilitasi kebutuhan tim-tim hoki yang ingin menggunakan lapangan itu melalui Sekretariat Negara sebagai pengelola GBK.

Dalam kesempatan itu hadir juga Rektor IBM ASMI Kampus Ungu Dr Freddy J Rumambi MM yang ikut mendukung kegiatan-kegiatan yang akan diselenggarakan KoPHI. “Saya juga mantan atlet nasional taekwondo, anak-anak saya juga olahragawan, jadi sudah sangat mengerti urusan olahraga. Apalagi pendiri ASMI Kak Benny Tengker memang sejak dulu hingga kini sangat mendukung olahraga hoki, silakan rancang kegiatannya,” katanya.

Salah satu mantan atlet nasional dari ASMI, Pingkan D Frederik mengatakan sangat mendukung dan senang dengan adanya KoPHI. Selain bisa bertemu lagi dengan kawan lama dari berbagai kota, bisa sekadar bermain hoki lagi, juga ingin terlibat memberi semangat olahraga kepada generasi muda.

KoPHI dibentuk 25 November 2017 di Lapangan Hoki Cikutra Bandung yang diprakarsai oleh para mantan atlet hoki Ella Relawati (ketua), Keke Annelisa Amangku, Rina Ginting, Entin Karyadi, Leni Marliani, dan Ririn Utari Prabowo.

Ella menjelaskan, KoPHI terbentuk karena adanya keinginan para mantan atlet hoki yang berusia 40 tahun ke atas ingin bermain fun hoki dan mengikuti festival hoki, yang aturan permainannya disesuaikan dengan usia.

“Kegiatan festival hokinya ada, pemain hoki seniornya juga ada walau berada di berbagai kota, yang belum ada itu adalah komunitas atau wadah untuk mengumpulkan dan mengurusi para senior hoki itu. KoPHI terpanggil untuk itu, dan bila berkembang akan dilanjutkan dengan pembinaan kepada para junior, serta mengadakan berbagai event hoki.***

DKI Segera Tuntaskan Renovasi Lapangan Baseball

ilustrasi baseball–istimewa

Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) DKI Jakarta berencana segera melakukan renovasi atau perbaikan terhadap lapangan baseball yang berlokasi di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Senayan. “Rencananya, dalam waktu dekat kami ingin segera menyelesaikan pekerjaan renovasi lapangan baseball yang ada di GBK Senayan,” kata Kepala Dispora DKI Ratiyono di Jakarta, Rabu (21/2).

Menurut dia, renovasi lapangan baseball tersebut harus segera dilakukan untuk mendukung penyelenggaraan event olah raga Asian Games yang akan dimulai pada Agustus 2018. “Kalau renovasi ini bisa segera dimulai, maka kami targetkan Insya Allah dalam waktu empat bulan, renovasinya sudah selesai dan lapangan baseball itu siap digunakan untuk Asian Games,” ujar Ratiyono.

Dia menuturkan pekerjaan renovasi tersebut baru dapat dilaksanakan setelah adanya persetujuan dari Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan serta Instruksi Presiden (Inpres) Joko Widodo. “Selain itu, renovasi tersebut juga akan segera dilaksanakan setelah kami melakukan survei bersama dengan panitia penyelenggara Asian Games 2018 atau INASGOC,” tutur Ratiyono.

Setelah mendapatkan persetujuan dari INASGOC, sambung dia, pihaknya akan segera melaporkannya kepada Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekda DKI Jakarta Gamal Sinurat.

“Kami sudah lapor kepada Pak Gamal, dan sekarang tinggal merapikan urusan surat-menyuratnya saja. Renovasi itu harus segera dimulai. Lagi pula, lapangannya sudah ada, tinggal dirapikan saja,” ungkap Ratiyono.

Sementara itu, dia menambahkan Dispora DKI Jakarta telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp15,1 miliar untuk melaksanakan renovasi lapangan baseball tersebut.***

Jelang Asian Games, Kondisi Lalin Seputar GBK Harus Dibenahi

HIRUK pikuk lalu-lintas di Jakarta ternyata mendapat sorotan Wakil Presiden Dewan Olimpiade Asia (OCA) Wei Jizhong. Dia menyatakan bahwa kondisi lalu-lintas di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) masih menjadi perhatiannya jelang Asian Games 2018.

Dia menilai padatnya lalu lintas kawasan GBK harus segera dibenahi demi kelancaran Asian Games 2018. “Satu hal yang menjadi perhatian saya untuk Asian Games 2018 nanti adalah lalu lintas, khususnya di GBK. Apalagi di GBK banyak perkantoran,” ujar Mr Wei di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (13/12).

Diakuinya, jalanan di kawasan GBK itu sempit. Untuk itu, dia meminta Inasgoc (Panitia Pelaksana Asian Games 2018) harus segera mencari solusinya. Kendati demikian, Mr Wei mengaku senang dengan perkembangan keseluruhan terkait pembangunan infrastruktur dan venue yang dikerjakan Indonesia.

Namun demikian, dia pun memuji persapan Jakarta yang sudah bagus. “Kalau saya belum cek yang di Palembang,” ujar Mr Wei. “Saya katakan kepada mereka, jangan terburu-buru karena hal terpenting adalah kualitas yang bagus,” tutur dia.

Sementara itu, GBK menjadi salah satu kawasan yang akan mempertandingkan sejumlah cabang olahraga di antaranya, bulu tangkis, atletik, akuatik, dan bola basket. ***

Presiden Jokowi Resmikan Empat Venue Asian Games

PRESIDEN Joko Widodo, Sabtu (2/12) meresmikan lapangan hoki, lapangan sepakbola ABC, lapangan panahan, serta stadion renang, akuatik Gelora Bung Karno yang semuanya menghabiskan dana Rp370 miliar.

Tak henti-hentinya Presiden Joko Widodo (Jokowi) berdecak kagum saat meresmikan empat gelanggang olahraga itu. “Dengan mengucap Bismillahirrohmanirohim, lapangan hockey, lapangan panahan dan lapangan ABC di kawasan Gelora Bung Karno siang hari ini saya resmikan,” kata Presiden saat meresmikan empat gelanggang di lapangan hockey, Gelora Bung Karno Jakarta.

Selain itu, Jokowi juga meninjau stadion renang (Aquatic) GBK yang didesain tertutup (indoor). Dalam acara itu, Presiden melihat sejumlah gambar dan data pembangunan empat gelanggang yang menggunakan dana Rp370 miliar. Sementara itu, saat meninjau stadion renang GBK, Presiden menandatangani prasasti peresmian gelanggang tersebut.

Pada kesempatan itu, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mengatakan pemerintah tengah membangun sembilan gelanggang olahraga lain untuk Asian Games. Total seluruh anggaran yang disediakan pemerintah untuk membangun 13 gelanggang yaitu Rp6,2 triliun. Menurut Basuki, pembangunan seluruh gelanggang olahraga untuk Asian Games akan selesai pada Desember 2017.

Di sisi lain, Ketua Pelaksana Asian Games 2018 Erick Thohir menyatakan bahwa peresmian empat venue di Kompleks Gelora Bung Karno (GBK) oleh Presiden RI Joko Widodo memberikan semangat baru kepada Panitia Pelaksana Asian Games 2018 (Inasgoc). ***