Gelar Topeng Daring

 Gelar Topeng Daring

International Mask Festival 2020

Jayakarta News – Tidak mudah ketika panitia International Mask Festival (IMF) memutuskan “tidak menyerah” terhadap wabah. Betapa pun, event IMF adalah event tahunan berskala internasional, yang sudah dikenal luas sebagai ajang pertunjukan seni topeng dan pameran kerajinan topeng.

Tak mau menyerah dengan keadaan (adanya pandemi Covid-19), SIPA Community yang menaungi IMF memutuskan tetap menyelenggarakan event tahunan itu secara daring (virtual) dari kota Solo, Jawa Tengah. Demikian press release yang diterima Jayakarta News dari panitia IMF, hari ini (16/6/2020).

Adalah Dra. Irawati Kusumorasri yang di tahun 2014 mencetuskan IIMF (Indonesia International Mask Festival). Namun beberapa tahun belakangan, IIMF berganti nama menjadi IMF seperti yang dikenal masyarakat Solo hingga saat ini.

Dalam enam tahun perjalanannya, IMF telah menjadi ajang tahunan yang terbilang sukses. Alhasil, ketika virus corona muncul akhir 2019, lalu mewabah hingga hari ini, mau-tidak-mau, panitia harus memanfaatkan teknologi informasi sebagai ajang menggelar event.

Perubahan dan penyesuaian masif yang mengiringi peralihan ini, menjadi tantangan tersendiri baik bagi penyelenggara maupun bagi seniman yang terlibat. Meski demikian, komitmen untuk terus mampu menyajikan acara seni yang berkualitas selalu menjadi semangat utama dari penyelenggaran virtual event ini.

Melalui tema “Face Mask of Global Society”, IMF 2020 hadir dengan menggaet seniman dalam dan luar negeri untuk menampilkan karya seninya secara daring pada 19-20 Juni 2020 pukul 17.00-21.00 WIB melalui platform Youtube SIPA Festival.

Dipilihnya tema tersebut merujuk pada topeng sebagai salah satu penyalur nilai-nilai penting dalam kehidupan manusia, khususnya di Indonesia. Topeng adalah artefak seni yang sudah dikenal manusia sejak zaman prasejarah. Dengan usianya yang menembus batas, seni topeng telah mampu ditempatkan menjadi sebuah karya agung dan sakral.

Berbekal peran masker sebagai pelindung diri bagi masyarakat, IMF membawa topeng bersama fungsi dan bentuknya untuk menunjukkan era baru dari dunia. Pada tahun ketujuh, penyelenggaraan IMF secara virtual akan mengenalkan topeng secara lebih mendalam kepada masyarakat dunia digital.

Acara tersebut hadir sebagai wujud penggambaran perkembangan topeng klasik ke kontemporer melalui sebuah media baru. Melalui impian untuk menumbuhkan rasa kecintaan terhadap seni topeng, kehadiran IMF diharapkan mampu memberikan edukasi tentang apresiasi seni bagi masyarakat, sekaligus sebagai sarana penjagaan nilai dari kehidupan seni yang merupakan bagian dari kehidupan budaya yang menjadi karakter bangsa.

Selama dua hari, IMF menghadirkan pertunjukan topeng dari berbagai daerah. Para seniman dan seniwati dari berbagai kota dan provinsi di Indonesia seperti Solo, Semarang, Pati, Malang, Cirebon, Banyumas, Ponorogo, Yogyakarta, Pamekasan, Sukabumi, Bali, Kalimantan Tengah, dan NTB akan berpartisipasi dalam IMF tahun ini.

Selain itu, delegasi luar negeri datang dari Malaysia, Zambia, Bhutan, Perancis, Korea, Belgia, Ecuador, dan Jepang. Pada acara ini, akan ditayangkan pula video dokumenter pembuat topeng dari masyarakat lintas budaya. (*/rr)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *