Demo “Sulap Umur” di Panggung “Pusaran”

 Demo “Sulap Umur” di Panggung “Pusaran”
Erlina “Eyin” Panca, penata busana dan tata rias “Pusaran”. (foto: bambang wartoyo)

Jayakarta News – Erlina Panca adalah salah satu dosen ISI Yogyakarta yang terlibat dalam produksi “Pusaran”. Eyin, begitu ia biasa dipanggil, pada pementasan teater musikal yang bakal digelar di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta, Senin – Selasa, 22 – 23 Juli 2019 itu, didapuk sebagai penata busana sekaligus penata rias. Ia dibantu Juyes dan Bintiwi.

Siapa sangka, perempuan kelahiran Bandung 13 Juli 1966 dan besar di Malang itu, sejatinya adalah seorang penari. “Basically, saya penari. Jadi yang saya pakai di Pusaran ini, ilmu warisan ibu,” ujar bungsu dari lima bersaudara, pasangan Moenari Hartanto dan Niecke Rochiatini itu. Ya, ibunya dulu bukan saja penari, tetapi juga perias pengantin.

Sutradara “Pusaran”, Prof Dr Yudiaryani, MA tidak menyoal latar belakang Eyin. Yang pasti, ia merasa cocok dan mempercayakan urusan tata busana dan tata rias para pemain “Pusaran” (A Streetcar Named Desire – Tenneessee Williams, 1947) kepada Eyin. “Orangnya sabar, selalu tersenyum, kooperatif, banyak temanlah pokoknya,” ujar Prof Yudi saat diminta komentar tentang sosok Eyin.

Guru besar teater ISI Yogyakarta itu, bukan baru sekali ini terlibat produksi bersama Eyin. Yudi bersama Lembaga Teater Perempuan dan Eyin, pernah terlibat dalam pementasan Oedipus Tyrannus, Konde yang Terburai, dan Pilihan Pembayun.

Eyin, sebagai penata busana dan penata rias Prof Yudiaryani saat Pidato Kebudayaan di Societet TBY, Yogyakarta, 3 Januari 2019. (foto: bambang wartoyo)

Terakhir, Januari 2019 Eyin “menyulap” Prof Yudi dengan tata rias dan tata busana yang mengagumkan. Ketika itu, 3 Januari 2019, Prof Yudi membawakan Pidato Kebudayaan, memperingati Ultah Teater Alam ke-47 di Societet, TBY.

Perempuan bernama lengkap Dra Erlina Pantja Sulistijaningtijas, M.Hum merasa senang, ketika Prof Yudi melibatkan kembali dalam “Pusaran”. Bukan saja karena naskah terjemahan Toto Sudarto Bahtiar itu adalah naskah berbobot (meraih Pulitzer 1948), lebih dari itu, ini kali pertama ia menangani penataan busana dan tata rias drama realis.

Telah dimaklumi khalayak, pementasan “Pusaran” ini adalah hasil kolaborasi Jurusan Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta dengan Teater Alam Yogyakarta pimpinan Azwar AN. Dua institusi itu kebetulan memiliki benang merah.

ISI Yogyakarta tengah merayakan Lustrum ke-7, sedangkan Teater Alam menuju Ulang Tahun Emas (50 tahun) pada tahun 2021. Benang merah lain terletak pada sosok sutradara. Selain Guru Besar Teater pada ISI Yogyakarta, Yudiaryani juga anggota Teater Alam angkatan akhir 80-an.

Kolaborasi “teaterawan kuliahan” dengan teaterawan sanggar, menjadi sebuah keniscayaan sejarah yang bakal terjadi di Yogyakarta. Sejak proses casting hingga latihan, berbagai persoalan muncul, namun pada akhirnya menjadi pembelajaran kedua pihak.

Eyin memoles wajah Viola Alexsandra sebagai Blanche DuBois, pemeran utama “Pusaran”. (foto: bambang wartoyo)
Eyin menata rambut Viola Alexsandra, pemeran Blanche DuBois. (foto: bambang wartoyo)

Kini, soalnya bukan lagi dalam hal teknis pementasan. Persoalan nyata di depan mata terletak pada gap usia atarpara pemain. Aktor-aktor Teater Alam seperti Meritz Hindra, Gege Hang Andika, dan Daning Hudoyo berusia 60-an tahun. Sedangkan aktor-aktor Teater Alam lain seperti Gola Bustaman dan Dinar Saka, relatif lebih muda. Sementara aktor-aktris ISI Yogyakarta, masih berusia 20-an tahun.

“Tidak. Saya tidak menganggap gap usia sebagai persoalan, melainkan saya anggap sebagai tantangan,” ujar Eyin. Ibu dua anak itu mengaku, tantangan yang ia hadapi, kemudian dipecahkan melalui sejumlah pendekatan.

Misalnya, Eyin sejak awal dilibatkan, langsung mempelajari latar belakang cerita tahun 50-an di Amerika Serikat bagian selatan. Mempelajari merebaknya budaya bebop, di samping menyelami karakter masing-masing tokoh dalam “Pusaran”. Dari sana ia bisa mendapat bayangan tentang corak kostum dan tata rias untuk para pemainnya.

Eyin harus mampu menghapus gap usia para pemain “Pusaran”. Yang tua dibuat menjadi muda, yang muda dibuat sedikit lebih tua, sehingga beda usia tidak lagi tampak di atas panggung. Peran tata rias sangat penting. Dengan kata lain, panggung “Pusaran” nanti akan menjadi ajang demo “sulap usia” oleh maestro tata rias panggung, Erlin Panca.

“Kalau saya gagal menghilangkan gap usia melalui make up, pentas itu menjadi kurang sempurna. Padahal, naskahnya bagus, para pemainnya bagus-bagus, sutradaranya bagus, penata musiknya bagus, setting panggung juga bagus…. Bagus semua. Maka make up juga harus bagus,” tekad Eyin.

Kabar positif tentang “Pusaran” mengakibatkan, masyarakat antusias menantikan tanggal pementasannya, Senin – Selasa, 22 – 23 Juli 2019. Tak heran jika dari dua hari pementasan, tinggal menyisakan tiket untuk pementasan hari kedua, 23 Juli 2019. Pembelian tiket bisa dilakukan secara online, melalui karcisonline.com atau melalui link: http://bit.ly/pusaranshow. Tiket bisa juga dibeli on-the-spot, di Concert Hall, TBY pada tanggal pergelaran.

Erlina “Eyin” Panca sebagai penari. (foto: dok.pri)

Eyin Sang Penari

Siapa sangka, Eyin sang penata rias dan penata busana “Pusaran” itu, adalah seorang penari. Meski lahir di Yogya, tetapi ia besar di Malang, karena ayahnya yang TNI-AD, bertugas di Malang. “Ayah wafat tahun 1973, saat usia saya tujuh tahun. Tak lama kemudian saya mulai belajar menari,” kenangnya.

Ia masih ingat, ibunya yang juga seorang penari, memasukkannya ke Sanggar Tari Mustika, Malang. Jenis tari yang dipelajarinya adalah tari klasik Jawa dan tari Bali. Sebagai penari, ia langganan juara di berbagai ajang kompetisi atau lomba menari, dari yang lingkup kabupaten hingga provinsi. Kecintaannya pada seni tari, tetap terpelihara hingga ia lulus SMA tahun 1985.

Syahdan, ketika ibunya memberi pilihan kuliah umum atau spesifik tari, tanpa ragu sedikit pun ia memutuskan kuliah tari di ISI Yogyakarta. Sang ibu mendukung. Sementara S-2, ia tempuh di UGM Yogyakarta, bidang Humaniora, Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa.

Sebagai dosen tari ISI Yogyakarta, Eyin tak pelak mendapat penugasan dan penawaran mengajar di luar negeri. Jadilah, ia pernah mengajar tari di kota Sofia, Bulgaria selama tiga bulan pada tahun 2009. Tahun 2018, ia memberi workshop tari Nusantara-Indonesia di Swiss selama 1 bulan. Kemudian bergeser ke Taipei, Taiwan selama dua minggu.

Sedangkan misi kesenian yang pernah ia ikuti, antara lain menari di Malaysia, Singapura, Thailand, Jepang, Finlandia, dan India. Itu dalam rentang waktu antara tahun 1994 – 2014.

Eyin menikah 8 Mei 1991 dengan Bambang Leksono Setyo Adji, SST, guru seni tari SMAN 3 Yogyakarta. “Suami saya wafat tahun 2015,” ujar Eyin sendu. Ia dikaruniai dua anak. Yang pertama perempuan, Rhea Janitra Ajinintyas, S.Farm, Apt (usia 27 th, sudah menikah), dan anak kedua, laki-laki, Patossa Rizki Bernaji (masih kuliah semester 4).

Erlina Pantja Sulistijaningtijas, bagaimana bisa dipanggil Eyin? “Kakak saya waktu masih cedal, tidak bisa memanggil Erlin. Kalau manggil aku Eyin…. Eyin… jadi sampai sekarang keluarga dan teman-teman memanggilku Eyin,” ujarnya sambil tertawa. (bambang wartoyo/rr)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *