Catatan Agus “Oyenk/Ariel/Dilan” Sundayana

 Catatan Agus “Oyenk/Ariel/Dilan” Sundayana
Agus “Ariel” Sundayana. (foto: dokpri)

JAYAKARTA NEWS – Perkenalkan, nama saya Agus. Nama lengkapnya, Agus Sundayana. Orang memanggilku Bento… eh bukan…. Oyenk! Kulitku hitam. Persisnya hitam manis. Mirip lokomotif, hitam-hitam banyak yang menunggu. Apa daya, lokomotif sudah tidak berwarna hitam lagi. Jadi mungkin lebih pas kalau saya dipanggil “rawon”, sop kuah kluwek berwarna hitam yang banyak dijadikan menu favorit.

Sebagai apa, seorang Agus membuat catatan ihwal “Jayakarta News Tour de Jogja 2019”? Sesungguhnya, aku ini seorang bendahara. Di Jayakarta News, posisi itu terus-menerus diletakkan di pundak saya. Saya berani bersaksi, penunjukan itu bukan karena saya paling paham soal-soal kebendaharaan. Di Jayakarta News, masih bercokol Bapak Duta Pranowo, mantan Pemimpin Perusahaan. Ada Bapak Junianto Edith dan Ibu Irawati, dua orang yang kelotokan banget soal-soal keuangan.

Mengapa bukan beliau-beliau yang ditunjuk sebagai bendahara? Sebuah pertanyaan yang tidak kunjung mendapat jawaban. Sekalinya dapat jawaban dari teman (tidak perlu saya sebut namanya), ternyata jawaban “asbun” alias “asal-buntu”. Bagaimana tidak buntu kalau kalimatnya begini, “Gus, elu cocoknya memang bendahara, karena elu item. Orang item ditakuti tuyul…..”

Tak kalah kalimat, saya menjawab, “Bukan begituuu…. menjadi bendahara itu berat…. biar saya saja…..” (Dilan mode on…..)

Ah sudahlah…. Teman-temanku memang begitu. Senang bercanda. Makanya saya doakan panjang usia. Amin. Malah ada seorang teman yang sudah berambut putih, gigi banyak yang tanggal, tapi kalau sakit apa pun, minumnya tetap bodrexin. Separo pula. Benar-benar, sahabat tua yang berjiwa balita. Saya salut sama dia……

Agus “Oyenk” Sundayana. (foto: dok pri)

Kembali ke laptop… (itu hanya istilah Tukul, jangan dikira saya punya laptop).

Menjadi bendahara untuk berbagai kegiatan Jayakarta News, sejak akhir tahun 2016 hingga hari ini, belum pernah beranjak dari dua perasaan: Menyenangkan dan menyebalkan. Senang karena bisa membantu teman-teman mewujudkan semangat silaturahmi. Sebal, karena urusan duit…. ampun…. lebih ribet daripada urusan mancing.

Alhamdulillah, jantung saya sehat, meski saya perokok berat. Kalau tidak kuat, sudah pasti saya akan pinjam jantung Pak Gatot. Betapa tidak, menjelang “Hari H” kegiatan, jantung ini serasa mau copot. Kepala check-out-check-out (maksudnya cekot-cekot saking pusingnya)…… Uang iuran seret, donasi tersendat.

Tapi berkat kulit saya yang item, last minutes (entah apa ini artinya), selalu ada jalan. Biasanya donasi mengalir seperti air bah. Untung tidak sampai kebanjiran. Setidaknya, tidak satu pun kegiatan berlangsung dengan menyisakan –amit-amit—utang. Izinkan saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Martin Hutabarat, Bapak Prof Hermawan “Kikiek” Sulistyo”, mas Harsono, bang Mulia Siregar, mbak Nunung Setiyani, mas Hartono Iggi Saputro, dan beberapa donatur lain yang kalau saya sebut satu per satu, … kepanjangan. Kasihan ibu-ibunya……

Semua kegiatan, berlangsung sukses. Kata siapa? Kata sayaaaaa……

Reuni pertama kali, November 2016 di kediaman mantan Pemred, Bapak Suryohadi di Depok: Sukses. Peluncuran media online www.jayakartanews.com tanggal 2 Februari 2017 di Grage Sangkan Spa & Hotel Kuningan, sukses. Raker di Caringin, Bogor akhir 2017: Sukses. Raker dan Ultah 1 Jayakarta News di Mutiara Carita & Cottages, Pandeglang, Februari 2018: Sukses. Terakhir, “Jayakarta News Tour de Jogja”, 1 – 4 Februari 2019, rrruaarrr biaassaaaah…….

Di Jayakarta News, gagal dan sukses menjadi milik bersama. Suka dan duka, menjadi milik bersama. Sebab, selalu saja ada telinga yang berbaik hati sudi mendengar curhat teman. Selalu ada canda yang mencairkan rasa kelu. Dan sejatinya, sukses luar biasa itu adalah sukses kita: Jayakarta!

Agus “Dilan” Sundayana. (foto: dok pri)

Yogya Istimewa, kata-kata itu saya baca berulang-ulang setiap Gde Mahesa posting sesuatu di Group WA Jayakarta. Wartawan Jayakarta di Yogya itu memang istimewa. Bertemu di kota istimewa. Dalam moment yang juga sangat istimewa.

Selain itu, kehadiran Bapak Aqua Dwipayana, motivator “The Power of Silaturahim” melengkapi keistimewaan “Jayakarta News Tour de Jogja 2019”. Materi berbagi Sabtu dinihari, sangat istimewa. Undangan makan siang di Jejamuran Resto, Sabtu siang, sangat-sangat istimewa. Ditambah, undangan makan malam di Angkringan Gadjah, Jl Kaliurang, membuat semuanya lebih istimewa dari sekadar kata istimewa.

Pak Aqua, izinkan saya mengucapkan salut dan banyak terima kasih atas semua inspirasi, motivasi, dan undangan makan-makannya. Bapak sangat keren dibalut kaos seragam “Jayakarta News Tour de Jogja”. Terima kasih sekali lagi, bapak berkenan mengenakan kaos kenang-kenangan dari kami, saat makan siang di Jejamuran. Detik itu juga saya merasa, Bapak adalah bagian dari keluarga besar Jayakarta News.

Bapak Aqua Dwipayana, memberi sambutan dan semangat silaturahmi saat makan siang di Rest Jejamuran, Yogyakarta. (foto: dok pri)

Memang, sudah sifatnya gading itu retak. Jadi, saya tidak berani mengatakan acara Yogya itu sempurna. Tapi saya sangat berani mengatakan acara itu mendekati sempurna. Raker Jumat (2/2/2019) malam yang dipandu pemimpin kami, Bapak Roso Daras, berlangsung ringkas, lugas, informatif, dan tepat sasaran. Laporan progres perkumpulan, sejak awal dibentuk hingga berhasil mendirikan sebuah Perseroan Terbatas (PT), adalah kabar yang sangat-sangat menggembirakan. Optimisme membuncah di antara semua anggota, tanpa kecuali.

Agus berpose “anak band” dengan latar belakang Candi Prambanan. (foto: dok pri)

Tak berlebihan kalau semua mata acara Jayakarta News Tour de Jogja berlangsung super mengesankan. Jalan-jalan Sabtu pagi ke Candi Prambanan, adalah sebuah awal perjalanan yang menyenangkan. Langit biru sebiru-birunya. Bangunan-bangunan Candi Prambanan menjulang begitu kokoh, megah, dan perkasa. Sepanjang perjalanan kaki menuju komplek candi, tak henti-henti saya –dan teman-teman lain—berfoto-foto. Foto saya kelihatan sangat bagus. Foto-foto itu akan saya share di Facebook dengan keterangan: “Ariel jalan-jalan di Candi Prambanan”…….

Lepas Prambanan, objek berikutnya adalah kawasan sejuk Kaliurang. Lokasi tujuan, Museum Gunung Api Merapi (MGM). Di antara banyak objek wisata di sana, saya mencoba Jeep Lava Tour, menapak jejak dahsyatnya erupsi Merapi tahun 2010 yang menewaskan banyak korban, salah satunya Mbah Maridjan “Rosa”. Bersama Jumadi, Monang Sitohang, dan Martua Silalahi, perjalanan adventure itu sangat mengasyikkan. Sudah kebayang, satu jip dengan seksi dokumentasi, Jumadi, adalah jaminan foto-foto saya bakal banyak dan bagus-bagus….. Cukup stok buat meramaikan Facebook.

Hari Minggu keesokan harinya, adalah hari “wisata bebas”. Kami serombongan mencarter minibus menjelajah wilayah pantai selatan. Gatot adalah salah satu anggota rombongan. Saya sudah menyiapkan kaos warna hijau untuknya….. Mungkin karena tahu mitos Nyi Roro Kidul suka “mengambil” pengunjung Pantai Selatan yang mengenakan pakaian warna hijau, maka sampai detik keberangkatan, Gatot tidak memakai kaos hijau.

Padahal saya hanya ingin ngetes saja…. apakah kalau Pak Gatot pakai kaos hijau, Nyo Roro Kidul masih juga berselera mengambilnya? Kalau dia pakai kaos hijau, saya akan ajak Monang taruhan….. Tapi sudahlah, perjalanan ke pantai Drini dan pantai-pantai eksotik lainnya siang hingga sore itu, sangat asyik. Terima kasih Mbak Laksmi yang sudah memilihkan objek itu untuk kami.

Keesokan pagi, ketika bus penjemput sudah tiba, ada rasa sedih harus meninggalkan Yogya dan kembali ke Ibu Kota. Terus terang, hati saya tertinggal di sana. Semoga, saya bisa kembali untuk mengambilnya lain hari. Bersama mamah, tentunya…..

Kereta Api Bogowonto yang membawa kami pulang Senin pagi, ternyata menyisakan banyak kursi kosong. Jadilah satu gerbong itu serasa milik rombongan Jayakarta News. Saya bahkan bisa menguasai dua deret kursi berhadap-hadapan, sekaligus. Bukan untuk duduk, tapi untuk tidur meringkuk.

Agus, tidur meringkuk “memakan” dua barus kursi sendirian….. (foto: dok pri)

Jelang gelap, kami tiba di Jakarta. Masih satu perjalanan lagi yang harus saya lalui, dari stasiun ke rumah di Bogor. Tiba di rumah, sekitar pukul 23.00. Pintu rumah –tentu saja—sudah tertutup semua. Kupikir, anak-istri sudah tidur semua.

Agus, sesampai rumah dapat kejutan. (foto: dok pri)

Ketika saya buka pintu, eh… tidak dikunci. Baru beberapa langkah ke dalam, saya lihat ada kue kecil dengan lilin yang sudah menyala. Batinku bergumam, “He… he… he…. ternyata ‘ibu negara’ bikin kejutan.” Ya, hari itu, 4 Februari adalah tanggal ulang tahunku.

Tak lama kemudian, istri keluar dari kamar sambil mengucapakan selamat ulang tahun. Setelah saya tiup lilin, saya kasih baju daster yang saya beli di Yogya sebagai oleh-oleh. Istri saya tampak senang, dan bergegas masuk kamar untuk langsung mencoba. Apa yang terjadi? Ternyata dasternya kekecilan!

Sambil makan bakpia oleh-oleh, istri bertanya dari dalam kamar, “Ayah…. kok ukuran baju istri nggak hapal???”

Saya buru-buru ambil handuk, dan langsung ke kamar mandi, sambil bilang, “Yang beli rame jadi susah milih…..”

(agus s, ditulis ulang oleh roso daras)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *