Ziarah “Sisa Hartaku” di Lereng Merapi

 Ziarah “Sisa Hartaku” di Lereng Merapi
Dua sepeda motor yang hangus terkena hawa panas Merapi, terpajang di Museum Mini “Sisa Hartaku”, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. (foto: diana r)

JAYAKARTA NEWS – Turun dari jip off road, mata langsung melihat tembok tinggi polos dengan satu tulisan: “Museum Mini Sisa Hartaku”, tanpa keterangan lain. Kata “Sisa Hartaku” membuat hati serasa tercekat. Menyeruak suasana sendu-haru. Jungkir baik dengan rasa riang gembira sesaat tadi, ketika knalpot jip menderu mengawali petualangan “Lava Tour Merapi”.

Untuk menuju tempat ini, harus menggunakan mobil jip. Melintasi jalan yang terjal dan ekstrem seperti menantang keberanian, melecut adrenalin. Tiba di altar museum “Sisa Hartaku”, euforia petualangan sirna. Terpekur menatap bangkai rumah berisi bangkai-bangkai harta benda yang luluh lantak akibat terkena lahar panas Merapi. Udara sejuk di Dusun Petung, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, tempat museum itu berada, makin membekukan gelegak suka-cita.

Pelan kaki ini menapak beberapa anak tangga menuju museum. Di anak tangga itu, ada satu tempat kecil untuk menerima sumbangan sukarela dari mereka yang datang. Hati makin sendu. Tempat yang disebut museum itu, bukan bangunan yang sengaja dibuat untuk menyimpan benda-benda bersejarah. “Museum” itu adalah rumah yang hancur menjadi korban awan panas Gunung Merapi pada  5 November 2010.

Penulis (Melva Tobing) di depan Museum Mini Sisa Hartaku. (foto: dokpri)
Rombongan satu jip penulis. Dari kiri: Nina, Melva, Diana, Rina. (foto: dok pri)

 

Mengenang Erupsi Merapi 

Pada 5 November 2010, siang hari, gunung Merapi mengeluarkan lava pijar hampir bersamaan awan panas pukul 12 lewat 5 menit, 40 detik. Awan panasnya memporak-porandakan daerah Sleman, Yogyakarta. Menghanguskan segalanya tanpa terkecuali.

Manusia dan ternak mati karena awan panas dan gas beracun. Ratusan manusia menderita luka parah, bahkan tidak sedikit yang meregang nyawa. Rumah dan harta benda, ladang juga sawah, rusak dan hancur. Banyak benda diselimuti abu tebal dan meleleh akibat terpaan panas yang diperkirakan mencapai 1.600 derajat Celcius. Sebuah peristiwa yang membawa duka begitu mendalam. Bukan hanya untuk warga Yogyakarta, tapi juga sesiapa pun yang menyaksikan peristiwa itu dari layar kaca.

Mendatangi Museum Mini “Sisa Hartaku” adalah cara terbaik untuk mengenang peristiwa itu. Sebuah rumah rusak, seisi rumah juga luluh-lantak. Tampak kerangka hewan yang juga menjadi korban. Rumah tak berbentuk itu, kini dinamai Museum Mini Sisa Hartaku, saksi bisu kedahsyatan Gunung Merapi. Masuk gratis. Hanya saja ada wadah di depan untuk memberikan sumbangan sukarela.

Tengkorak sapi, perabotan rumah tangga yang meleleh…. menjadi pemandangan memilukan di Museum Mini Sisa Hartaku, Kaliurang – Yogyakarta. (foto: diana r)

Pandangan pertama memasuki bangunan ini, terlihat dua kerangka hewan ternak. Kerangka sapi yang mati terkena awan panas, begitu menonjol di muka bangunan. Kesan seram terhadap dahsyatnya bencana alam akan langsung terasa melihat kerangka ternak itu. Di depan museum juga dipajang kerangka sepeda motor dan sepeda onthel yang juga hangus. Bahkan masih dibalut debu Merapi. Pemandangan ini menambah rasa pilu.

Masuk lebih ke dalam, terdapat koleksi yang cukup lengkap. Banyak barang, seperti televisi yang sudah meleleh. Ada sisa peninggalan gamelan rusak. Peralatan rumah tangga, seperti gelas, piring, sendok, uang logam, botol-botol. Semua sudah meleleh. Ada juga pakaian hangus, bahkan dokumen-dokumen juga diperlihatkan di sini. Foto-foto saat kejadian merapi meletus pun dipajang di dinding-dinding nan kusam. Melihat semua itu, sangat terasa kepedihan yang menimpa para korban Gunung Merapi di tahun 2010.

Alhasil, mengunjungi Museum Mini Sisa Hartaku, sebagai salah satu acara rangkaian Jayakarta News Tour de Jogja 2019, menjadi satu sekuel paling membekas di hati. Demi mengenang betapa manusia tak punya kuasa atas Kuasa Tuhan, maka teringatlah akan kalimat bijak Dr Aqua Dwipayana, yang sempat sharing dengan teman-teman Jayakarta News. Kurang lebih beliau berkata, “Berbuatlah baik. Bantulah yang perlu dibantu. Itulah sebaik-baiknya mencari bekal menghadap Yang Kuasa.” (melva tobing)

Bersama sebagian teman yang mengikuti Lava Tour, dan singgah di Museum Sisa Hartaku. Tampak Agus S, Latifah, Elty, Diana, Ira, Rina. Di belakang ada Monang, Nina, dan Martua Silalahi. (foto: dok pri)
Sebagian “koleksi” museum mini “Sisa Hartaku”. (foto: diana r)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *