Bunga Flohope ‘Selamatkan’ Ibu-ibu Penyapu Jalan

 Bunga Flohope ‘Selamatkan’ Ibu-ibu Penyapu Jalan

haniva az zahra

SEBAGIAN orang yang ingin melakukan aktivitas sosial sibuk mencari-cari di luar sana sosok-sosok yang perlu dibantu. Padahal tak jarang sosok-sosok yang membutuhkan perhatian itu ada di sekitarnya. Itu juga yang menjadi pemikiran Haniva Az Zahra saat ia mendapat tugas kampus untuk membuat kegiatan pemberdayaan ekonomi. Zahra sempat mencari-cari di luar, tapi kemudian tersadar bahwa para ibu penyapu jalan yang sehari-hari bekerja kampusnya, Universitas Indonesia, membutuhkan perhatian.

Benar, bahwa mereka telah bekerja dan mendapat honor dari pekerjaannya menyapu jalan. Namun apakah cukup? Tentu tidak. Dari pemikiran itulah maka Zahra dkk  membuat program pemberdayaan ekonomi untuk para ibu penyapu jalan.

Kebanyakan teman mahasiswa mencari di luar kampus, tapi  kami justru mengambil yang ada di dalam lingkungan kampus. Sesuatu yang kita temui sehari-hari ketika berjalan di kampus. Ya, kadang orang tidak sadar bahwa ada sosok-sosok di dekat kita yang membutuhkan perhatian, mereka berjasa kepada kita.  Mereka (ibu-ibu penyapu jalan) dekat dengan mahasiswa. Pendapatan mereka di bawah UMR,” ujar Zahra menceritakan latarbelakang berdirinya Flohope Indonesia.

“Kami mengajarkan mereka membuat bunga-bunga dari kain flanel, mengemasnya dengan baik. Hasilnya, kami pasarkan antara lain lewat media sosial seperti twitter, Facebook juga pada event-event di kampus. Hasilnya cukup bagus, meski tidak terlalu besar, namun dapat membantu meningkatkan penghasilan mereka,” ungkap Zahra seraya menambahkan, resminya Flohope didirikan pada 1 Desember 2012.

Setelah tugas kampus selesai, Zahra dan teman-temannya tidak lantas meninggalkan para ibu itu begitu saja. Kegiatan yang telah berjalan tetap dipertahankan bahkan dikembangkan lebih besar lagi. Dulu, tutur Zahra, waktu melakukan kajian penghasilan para ibu itu hanya Rp165.000 per minggu. Setelah mengikuti program pemberdayaan, ada peningkatan penghasilan cukup lumayan setiap minggunya.

Soal permodalan pada awal proyek, tambahnya,  berasal dari tim Flohope.  Namun setelah bisnis ini berkembang maka Flohope mendapat suntikan dana dari Sedekah Brutal. Per-dua pekan, para ibu ini mendapat dropping kain flanel plus perlengkapan lainnya untuk pembuatan bunga.  “Ibu-ibu yang trampil, dapat menghasilkan sekitar 80 bunga. Tapi bagi yang kurang trampil, mereka hanya bisa menghasilkan sekitar 50 bunga.  Kami membayar Rp2000 per bunga,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Zahra,  para ibu  juga diajarkan cara mengelola penghasilan dengan baik. “Pelatihan financial planning, itu yang kami lakukan agar uang yang kami berikan bisa dikendalikan dengan baik oleh para ibu sehingga tak habis begitu saja. Tidak lagi ‘gali lubang-tutup lubang’ dalam menjalani hidupnya.

Semua pengerjaan ini, jelasnya, dikerjakan para ibu di rumah di sela-sela waktu istirahat mereka. “Para ibu ini kan sebelumnya telah memiliki pekerjaan di kampus kami. Jadi mereka mengerjakannya di  rumah, setelah pulang kerja,” ucapnya. Diakuinya, penghasilan yang didapat memang tak terlalu besar, namun ‘sedikit-banyak’ kegiatan ini  bisa membantu meningkatkan perekonomian mereka.

Di sisi lain, tambah Zahra, adanya kegiatan ini juga semakin membuka mata bagi para mahasiswa tentang keberadaan para ibu penyapu jalan yang selama ini banyak berjasa. “Jadi setidaknya dengan ini para mahasiswa menjadi semakin perhatian, tidak lagi membuang sampah sembarangan, dll,” kata Zahra yang kini tidak lagi mengelola Flohope secara langsung.

“Demi perkembangan Flohope memang kepengurusan harus regenerasi. Pengurus Flohope sekarang adalah adik-adik kelas kami. Kami hanya memantau perkembangannya, juga memberi saran jika dibutuhkan. Sesekali kami terjun langsung,” ungkap Zahra yang menyelesaikan S1-nya tahun 2013.***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *