Bakmi Mbah Surip, Rasanya “Tak Gendong Kemana-mana”

 Bakmi Mbah Surip, Rasanya “Tak Gendong Kemana-mana”
Warung Bakmi Jogja “Mbah Surip” di Jl Ampera Raya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Foto: Roso Daras

MBAH Surip yang satu ini sama sekali tidak identik dengan lagu “Tak Gendong Kemana-mana”…. Dia adalah pemilik warung bakmi Jogja, “Mbah Surip” yang mangkal di depan kantor Medco, Jl Ampera Raya, Ragunan, Jakarta Selatan. Warungnya cukup terkenal sebagai tujuan kuliner enak di Ibukota.

Jika Anda pernah mencicip rasa khas bakmi Yogya, niscaya tidak akan kecewa jika mencoba makan di warung bakmi yang sudah bercokol sejak 20 tahun lalu itu. Tinggal, bakmi favorit mana yang hendak dijadikan perbandingan. Di Yogya, ada bakmi Mbah Mo di Bantul, bakmi Pak Pele di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta, ada bakmi Kadin di Bintaran, dan masih banyak warung sejenis lain di sana.

Pramusaji bakmi “Mbah Surip”. Foto: Roso Daras

Jika Anda tinggal di sekitar Jakarta, dan kebetulan kangen bakmi Pak Pele, Kadin, Mbah Mo dan lain-lainnya itu, sila mampir ke Mbah Surip. Menu utamanya ada mi godog (rebus), bakmi goreng, dan magelangan. Minumannya, ada wedang uwuh, ronde, teh jahe, dan lain-lain Memang, di daftar menu, tampak sederet menu “tak lazim”, seperti ayam goreng dan pecel lele. “Kami sediakan menu lain. Sebab, terkadang, orang tuanya pengen bakmi, tapi anaknya minta ayam goreng,” ujar seorang lelaki di balik meja kasir, yang adalah Mbah Surip.

Sebentar… cukup segitu bicara bakmi. Kita beralih ke sosok lelaki bernama Mbah Surip.

Mbah Surip, di balik meja kasir. Foto: Roso Daras

Pria berbaju batik ini sekilas tidak pas disapa “mbah”. Selain kata “mbah” yang identik dengan pria renta, sebutan “mbah” untuk brand warung, sering ditafsir sebagai nama warisan. Sebut saja Mbah Mo, Mbah Karjo, dan lain-lain, yang pada kenyataannya, mereka sudah almarhum. Sebagai penghargaan, namanya dipakai untuk nama warung.

Karenanya, sempat kaget juga ketika mendapat jawaban, “Inggih, ingkang wonten sak ngajengipun panjenengan….” (Ya yang ada di hadapan Anda), ketika kepadanya ditanya, “Sakmeniko mbah Surip menopo taksih sugeng?” (Saat ini, apakah Mbah Surip masih hidup?).

Sungguh. Mbah Surip masih tampak bugar dan jauh lebih muda dari usia. Namun, ketika ditanya umur, ia hanya terkekeh, “Saya masih dua-puluh-delapan, he…he…he…..” Kalau maksudnya adalah dibalik, maka ketemu angka 82. Benarkah ia berusia 82 tahun? Entahlah. Sekilas, ia tampak seperti lelaki paruh baya. Jika dijadikan bahan tebak-tebakan, jawaban tertinggi pastilah 60 tahun.

Tapi sudahlah, ia tidak ingin menyinggung usia lebih lanjut. Bahkan asal-usul warung bakmi pun ia menjawab sekenanya saja. Hanya informasi “sudah buka sejak 20 tahun lalu” saja yang tampaknya akurat. Ihwal, pekerjaan apa yang ia lakukan sebelum membuka warung bakmi? Lagi-lagi, hanya sunggingan senyum, disertai jawaban serampangan, “pengangguran….”

Begitulah. Jawaban boleh tidak jelas, tapi rasa bakmi dan magelangan-nya sangat jelas. Maksudnya, sangat enak. Tidak heran jika warungnya selalu ramai. Malam itu, tampak satu orang pengunjung wanita yang datang bersama pasangannya, begitu lahap menyantap magelangan, Bakmie campur nasi goreng, dengan ayam kampung di dalamnya. Selesai makan, bahkan ia memesan satu porsi untuk dibungkus. Di sudut lain, benar kata Mbah Surip, seorang anak memesan ayam goreng, sementara kedua orangtuanya lahap menyantap bakmi godog.

Bakmi Mbah Surip, rasanya melekat di lidah… serasa “tak gendong kemana-mana…” ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *