Bagaimana Bisnis Menghadapi Disrupsi Teknologi Informasi

 Bagaimana Bisnis Menghadapi Disrupsi Teknologi Informasi

JAYAKARTA NEWS – Apa yang akan Anda lakukan dengan  rencana untuk memulai atau bahkan justru sudah bersiap-siap mengembangkan skala bisnis yang ada –mungkin berjualan bed cover, fashion, sepatu,  barang kerajinan tangan atau produk makanan— di jaman now?

Pertanyaan itu perlu disampaikan, mengingat setidaknya dalam 10 tahun terakhir ini,  telah terjadi disrupsi teknologi dalam dunia bisnis. Dulu mungkin orang tua Anda, ketika mempromosikan produk tertentu harus mencetak  selebaran, atau pamphlet. Perusahaan-perusahaan, juga menganggarkan iklan media luar dalam bentuk baliho, untuk lebih mengenalkan produk mereka ke konsumen.

Tapi, dengan berkembangnya  teknologi informasi yang berlangsung drastis, apa yang dilakukan oleh para pebisnis dalam mengenalkan dan menawarkan produknya 15  tahun yang lalu, harus mengubah dan  meninggalkan cara-cara  konvensional dalam pemasaran produk. Ada perubahan drastic yang harus dilakukan, walau pun tidak 100% cara konvensional harus ditinggalkan. Semuanya kembali pada tujuan, dan dampaknya, seberapa efektif cara lama itu kalau masih mau dipertahankan. Sesuaikah budget yang dikeluarkan dengan hasil yang didapat?

Sekarang ini, seseorang yang tengah memulai usaha, tidak perlu modal banyak untuk pengeluaran biaya promosinya. Cukup modal  smartphone, seorang ibu rumah tangga yang mau memulai bisnis catering, bisa berpromosi.

Benar, teknologi informasi telah meruntuhkan hambatan utama dalam dunia bisnis. Biaya promo yang dulu menyita modal besar, kini bisa diperketat, bahkan bisa dibikin sangat ketat. Anda tidak perlu ragu membangun bisnis, karena belum memiliki kantor atau tidak mampu menyewa kantor yang representative.

Anda juga tidak perlu pusing mencetak pamflet, spanduk dll. Di era revolusi industry 4.0 ini, nyaris tidak ada lagi batasan  ruang dan waktu. Semuanya bisa Anda harapkan dari  ketersediaan teknologi informasi. Apa nggak enak banget?

Berikut ini ada beberapa kiat yang dapat Anda tempuh dalam  menghadapi disrupsi teknologi informasi, terutama  bagi Anda yang akan atau sedang memulai sebuah bisnis mandiri.

1. Manfaatkan Media Sosial

Agak aneh kalau sekarang ada orang yang sama sekali  tidak memiliki akun media sosial. Okelah, facebook, atau twiter atau lainya mungkin orang menghindari, tetapi kalau WhatsApp, Line atau Telegram kalau tidak memilikinya, orang lain pasti berpandangan bahwa mereka yang bersikap seperti itu  mungkin ingin tetap bertahan hidup di jaman batu.

Anda sudah pasti menggunakan WhatsApp, Lina atau Telegram kan? Pertanyaannya, selama ini apakah hanya untuk chatingan dengan kawan atau grup teman sekolah, teman kerja, atau kuliah saja? Kalau Anda mau berbisnis, Anda harus memiliki dan memanfaatkan Medsod tersebut untuk bisnis Anda. Untuk promosi sekaligus berjualan. Carilah tip-tip lebih detail bagaimana berbisnis  dengan memanfaatkan  medsos, tidak terkecuali di facebook, twitter, instargram dan lainnya.

Anda harus paham, bahwa medsod  adalah platform paling sederhana untuk memasarkarkan produk-produk Anda secara online. Jadi, jangan ragu lagi untuk menggunakan  platform media sosial paling populer untuk berbisnis:  Facebook, Instagram dan Twitter.

2. Marketplace

Media sosial ternyata hanya bisa menjadi galeri untuk produk yang kita jual, tapi medsos belim bisa melayani fungsi transaksi secara otomatis. Jadi, setelah Anda  memiliki akun media sosial, langkah berikutnya adalah Anda berjualan di  situs jual beli online atau dikenal dengan marketplace. Cukup banyak marketplace yang bisa Anda manfaatkan, seperti  Tokopedia, Bukalapak, Lazada, Shopee, Amazon, Alibaba dll.  

Dengan memanfaatkan  marketplace, Anda bukan hanya bisa memposting foto produk atau jasa yang Anda tawarkan, tetapi juga bisa menjual dan bertransaksi secara otomatis. Konsumen Anda  bisa langsung memesan produk  secara online dan membayarnya. Hal-hal lainnya akan ditangani  oleh marketplace, sedangkan Anda hanya perlu memastikan produk yang dibeli dapat dikemas dengan baik,sehingga ketika  sampai ke tangan  konsumen produk tersebut dalam kondisi  sesuai dengan deskripsi di toko online Anda.

3. Miliki  Domain

Memiliki akun dan berjuakan di marketplace itu bagus, tetapi pada saatnya Anda perlu memikirkan untuk melangkah ke step berikutnya, dengan berjualan di toko online sendiri. Pakai blogspot boleh nggak? Boleh, tetapi karena itu gratisan, maka akan mengurangi tingkat kepercayaan calon konsumen. Mareka takut ketipu. Berbeda dengan marketplace, yang uangnya dijamin aman karena terlebih dahulu uang masuk ke dompet pengelola marketplace. Anda bisa menarik dana di dompet, jika barang sudah dikonfirmasi telah diterima oleh pembeli.

Untuk memiliki toko online, agar lebih kredibel, Anda perlu  membeli atau memiliki nama domain sendiri. Misalnya, Anda jualan kacang goring, Anda bisa membeli domain http:www.kacanggogeng.com. Ada kalanya nama domain yang Anda inginkan sudah dibeli orang lain, maka Anda perlu mencari nama domain lainnya.

Dengan memiliki domain sendiri,  Anda berarti memiliki  branding untuk bisnis yang Anda kelola. Dengan demikian,  para calon pembeli beranggapan  bahwa bisnis Anda dikelola secara  professional, bukan sekadar sampingan untuk menambah pendapatan.

Memiliki nama domain, tidak ada artinya kalau tidak kemudian diikuti dengan membangun website untuk toko online Anda.  Nama domain dan website adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Anda perlu memikirkan mau hosting di mana, apakah cukup di dalam negeri, di luar negeri atau keduanya diambil? Itu tergantung budget yang Anda miliki.

Yang jelas Anda harus pastikan bahwa web hosting yang dipilih harus punya pelayanan prima. Jangan sampai CS-nya sudah dihubungi ketika website Anda sedang ada masalah.

Jadi, siapkan diri Anda untuk memenangkan persaingan bisnis di jaman now.

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *