Antasari, Sang Penjebol “Benteng Emas” Difilmkan

 Antasari, Sang Penjebol “Benteng Emas” Difilmkan
Egy Massadiah (tengah), produser film Pangeran Antasari, berfoto bersama aktor Egy Fadli (Pangean Antasari) dan Hemalia Putri. Foto: Istimewa

PABRIK batubara “oranje nassau” (yang artinya “benteng emas”) milik Belanda, adalah tonggak perang masyarakat Banjar melawan Belanda. Di situ pula, Pangeran Antasari tampil perkasa dengan kemampuan menjebol benteng dan menutup “benteng emas”.

Sejarah kemudian mencatat peristiwa di Banjarmasin itu sebagai satu-satunya perang melawan penjajah yang dipicu oleh tambang batubara. Berbeda dengan perang-perang lain yang berlatar belakang eksploitasi rempah-rempah, monopoli perdagangan, dan cultuur stelsel. Tahun 1800-an itu pula, Antasari sudah melakukan perang sistem gerilya. Pasukannya siap melakukan serangan tiba-tiba, dan menghilang seketika di ganasnya belantara Kalimantan.

Sebentara lagi, masyarakat bisa menyaksikan peristiwa heroik itu di layar lebar. Saat ini, Kisah Perang Banjiar, PANGERAN ANTASARI, “Haram Manyarah Waja Kaputing” sedang proses pengambilan gambar di beberapa lokasi di Kalimantan Selatan. “Ada sekitar 50 an orang crew kami dari Jakarta sedang di lapangan. Hampir semua pendukungnya kami gunakan aktor lokal sebab banyak dialog dalam film ini menggunakan bahasa Banjar,” ujar Egy Massadiah, produser film itu.

Egy yang aktor Teater Mandiri (Putu Wijaya) itu menambahkan, hanya tokoh utama yang dimainkan aktor dari Jakarta, di antaranya Hemalia Putri dan Egy Fadly. Film itu disutradarai Irwan Siregar, dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Suasana syuting film Pangeran Antasari di Banjarmasin.

Menurut Egy Massadiah, penggarapan struktur cerita film yang melibatkan lebih 150 pemain ini dimulai dengan kehadiran pelajar sekolah dasar zaman sekarang. Dikisahkan mereka ingin mencari tahu sosok Pangeran Antasari dan perjuangannya. “Akan ada dua segmen yaitu segmen masa perjuangan Pangeran Antasari sekitar tahun 1850-an dan segmen zaman sekarang,” papar Egy.

Film berdurasi sekitar 100 menit ini mendapat dukungan penuh dari Gubernur Kalimantan Selatan H. Sahbirin Noor yang memang sangat mencintai dunia kebudayaan khususnya senin peran dan teater. “Ini film edukasi tentang pahlawan Banjar, banyak keteladanan yang bisa dipetik oleh generasi sekarang,” ungkap pria yang akrab disapa Paman Birin ini.

“Kami juga ingin cerita tentang epos kepahlawanan dari daerah Banjar di-film-kan, seperti halnya provinsi-provinsi lain, misalnya Aceh dengan Tjut Nyak Dien-nya, Jawa Tengah dengan Pangeran Diponegoro-nya,” kata Gubernur Kalimantan Selatan H. Sahbirin Noor kepada wartawan.

Seniman dan budayawan terkemuka asal Banjar Yadi Muryadi juga terlibat langsung dalam film ini. “Kami sangat bangga bisa mewujudkan film ini dan melibatkan banyak pemain lokal yang memang sehari-hari menggeluti dunia seni peran, ” ungkap Yadi yang terlibat sejak riset dan penulisan cerita hingga turut serta ambil bagian sebagai salah seorang pemain.

Sejarah mencatat, Perang Banjar pecah saat Pangeran Antasari dengan 300 prajuritnya menyerang tambang batubara milik Belanda di Pengaron pada tanggal 25 April 1859. Dibantu para panglima dan pengikutnya yang setia, Pangeran Antasari menyerang pos-pos Belanda di Martapura, Hulu Sungai, Riam Kanan, Tanah Laut, Tabalong, sepanjang sungai Barito sampai ke Puruk Cahu.

Berkali-kali Belanda membujuk Pangeran Antasari untuk menyerah, namun dia tetap pada pendiriannya. Ini tergambar pada suratnya yang ditujukan untuk Letnan Kolonel Gustave Verspijck di Banjarmasin tertanggal 20 Juli 1861. “Dengan tegas kami terangkan kepada tuan: Kami tidak setuju terhadap usul minta ampun dan kami berjuang terus menuntut kemerdekaan.”

Dalam film  ini muncul juga tokoh-tokoh, di antaranya Tumenggung Antaludin, Tumenggung Jalil, Demang Lehman, Ratu Zaleha, Wulan Jihad (pejuang wanita Dayak Kenyah), Amin Oellah, Soero Patty, Kiai Djaya Lalana, Goseti Kassan. Sedangkan dari pihak kolonial Belanda, yakni antara lain: Augustus Johannes Andresen, George Frederik Willem Borel, Karel Cornelis Bunnik, C.E. Uhlenbeck, Gustave Verspijck, dan lain-lain. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *