Sepenggal Kisah Egy Massadiah

 Sepenggal Kisah Egy Massadiah
Egy Massadiah, di antara Joko Widodo (ketika itu Gubernur DKI Jakarta) dan Jusuf Kalla (Ketua Umum PMI). Foto: Ist

SEKIAN banyak orang mengklaim diri sebagai pelaku dan penggiat kebudayaan. Percayalah, hanya sedikit yang memiliki komitmen dan konsistensi tinggi. Dari yang sedikit itu, nama Egy Massadiah ada di dalamnya.

Bisa jadi, salah satu sebabnya karena dia orang Makassar, suku yang terkenal dengan kegigihannya. Jiwa petualang, semangat merantau yang mereka sebut sompe’, melandasi setiap gerak, langkah, dan keputusannya.

Akan tetapi, tahukah Anda, bahwa Egy merantau ke Jakarta tahun 80-an ketika usianya masih belasan tahun? Tentu Anda tidak pernah berpikir, seorang anak ingusan datang ke Ibu Kota dengan modal pengalaman akting. Anda juga tidak salah, jika menduga Egy merantau tanpa kemampuan tulis-menulis. Ya, dia datang dengan modal DOT, dengkul, otot, tekad.

Bahwa kemudian Egy Massadiah dikenal sebagai aktor teater/film, sutradara, bahkan produser (teater dan film)….

Bahwa kemudian Egy Massadiah menduduki posisi decision maker di redaksi sebuah tabloid (Wanita Indonesia-pen)….

Bahwa kemudian Egy Massadiah juga dikenal sebagai penulis buku….

Atau, bahwa kemudian Egy Massadiah dikenal sebagai salah satu tokoh muda Partai Golkar, sebuah partai besar dan mapan….

Serta “bahwa-bahwa” yang lain, itu semua, kata Egy suatu hari, “Tak lepas dari garis tangan. Artinya, ini bagian dari takdir.”

Tentu, alur kehidupan seorang Egy tidak akan menjadi sebuah drama kehidupan yang menarik, jika tidak dikuak bagaimana penggalan kisah sejak menginjakkan kaki di Ibu Kota, hingga –setidaknya—hari ini: Tanggal 9 Mei 2018.

Pernah dengar istilah, “Jakarta keraaasss….”? Egy belia langsung dihajar keras dan kejamnya Ibu Kota yang bahkan dijudul-filmkan, “Kejamnya Ibu Tiri tak Sekejam Ibu Kota”. Film produksi tahun 1981 yang disutradarai oleh Imam Tantowi itu, seperti sengaja dibuat untuk menyambut kedatangan seorang Egy Massadiah dari Makassar ke Ibu Kota.

Tak urung, Egy harus berhadapan langsung dengan kerasnya Ibu Kota. Dengan sekuat tenaga, Egy berusaha survive. Apa pun ia kerjakan, asalkan halal. Jadilah Egy memiliki sederet profesi rendahan yang pernah dijalaninya. Menjadi sopir, kuli panggung, kenek tukang batu, sampai pengamen.

Sekalipun begitu, tekad menaklukkan Jakarta begitu bergelora. Pantang pulang sebelum jadi “orang”. Karenanya, apa pun jenis pekerjaan disadarinya sebagai batu loncatan untuk menggapai mimpi yang telah ia gantungkan tinggi di langit sana.

Putu Wijaya dan Egy Massadiah.

Biduk hidup mulai menuju jalur yang sesuai dengan suara hatinya, justru ketika ia menekuni dunia teater. Sempat bergabung dengan beberapa grup teater kecil, akhirnya Egy tertambat di Teater Mandiri yang didedengkoti Putu Wijaya pada tahun 1983. Egy menunjukkan totalitasnya di Teater Mandiri. Semua pekerjaan produksi teater pernah ia lakoni, sebelum Putu mempercayakan sebuah peran.

Sebagai “cantrik” yang baik, Egy senantiasa haus ilmu. Semua diskusi yang menyerempet lintas bidang, mulai dari budaya, sosial, sampai politik, dan nilai-nilai kehidupan ia ikuti di sanggar Teater Mandiri. Putu Wijaya yang penulis produktif baik karya sastra maupun esai, pun coba ditirunya. Egy belajar dan berlatih menulis. Menulis sastra hingga akhirnya reportase jurnalistik.

Syahdan, Egy Massadiah pun merintis karier kepenulisan sebagai penulis lepas di sejumlah suratkabar pada 1987-1994, dengan jabatan terakhir Redaktur Pelaksana. Prestasi atas kreativitasnya juga telah ia buktikan dengan memenangi lomba penulisan esai Diplomasi Kebudayaan Indonesia-Amerika dalam rangka KIAS tahun 1987 dan menerima honorarium sebesar Rp 75 ribu.

Ia juga menulis buku antara lain Srikandi: Sejumlah Wanita Indonesia; Top Eksekutif Indonesia; Top Pengusaha Indonesia pada tahun ‘90 an. Buku terakhirnya adalah Bung Karno Ata Ende yang ia tulis bersama Roso Daras yang merupakan bagian dari pembuatan Film Ketika Bung di Ende pada 2013, di mana Egy bertindak selaku produser.

Di sela tugas-tugas jurnalistik, ia aktif sebagai pemain teater di kelompok Teater Mandiri. Dunia teater, dengan sendirinya, mendekatkan Egy ke dunia akting film. Tercatat, Egy pun mulai terjun di dunia film. Tahun 2007, ia pernah membintangi film yang ia produseri sendiri Lari Dari Blora. Sebagai produser, ia juga pernah mementaskan teater “Mega Mega” Karya Arifin C. Noer di Gedung Kesenian Jakarta sebagai bagian dari Art Summit International Festival 2013. Ia pernah menjadi sutradara lakon BOM karya Putu Wijaya di Slowakia pada 2012.

Yang menarik, di luar dunia seniman, ia aktif membantu Wakil Presiden RI Jusuf Kalla atau JK sebagai staf ahli dan pada 2013, menangani pertemuan organisasi perdamaian Centris Asia Pacific Democratic International (CAPDI) di mana JK adalah ketuanya. Tahun 2014, ia bahkan pernah dicalonkan menjadi Caleg oleh Partai Golkar untuk Dapil Jakarta IV (Jakarta Selatan dan Luar Negeri). Sayang, ia gagal menembus Senayan. “Semua ada hikmahnya. Mungkin memang lebih baik jika saya berkiprah di luar politik,” ujar Egy suatu hari.

Egy Massadiah berrsama Jusuf Kalla dan Ibnu Munzir. Foto: Ist

Nama Egy Massadiah pun lebih lekat sebagai seniman, dibanding politisi. Totalitasnya pada dunia teater, ia tunjukkan dengan membuat berbagai inovasi. Salah satu inovasi Egy adalah Teater Striping. Istilah yang biasa dipakai untuk serial sinetron, digunakan Egy di dunia teater. “Banyak mimpi-mimpi saya untuk dunia teater. Muaranya adalah bagaimana seni teater bisa berkontribusi bagi pembentukan karakter bangsa, sekaligus ikon bangsa,” ujar lelateki berperawakan tegap ini.

Ambisi Egy juga menjadikan teater sebagai kantong yang mengolah generasi muda Indonesia untuk siap pakai dalam membangun NKRI. Menurut Egy, kehidupan dan negara adalah sebuah panggung teater yang memerlukan pekerja-pekerja yang ulet, setia, dan terlatih. Tak hanya cerdas, tetapi juga bijak, gesit dan memiliki kepekaan tinggi pada kemanusiaan.Teater yang mencakup hampir seluruh cabang kesenian dan juga berbagai aspek dari disiplin lain (psikologi, filsafat, sejarah, politik, hukum bahkan ekonomi dan sebagainya) akan menjadi bengkel pelatihan bukan saja bagi mereka yang ingin menjadi pekerja teater, tetapi seluruh kemungkinan profesi dari kelas pekerja maupun pemimpin.

Karena itu, Egy tidak pernah berpaling dari pernyataan, bahwa dirinya yang sekarang, adalah lahir dari tempaan dunia teater. Itu membuktikan, bahwa di dunia teater, juga berkembang disiplin pengetahuan yang lain. Konsistensinya pada dunia teater, telah mengantarkan Egy bersama Teater Mandiri sukses menembus panggung-panggung bertaraf Internasional di New York Off Broadway, Seatlle, Coneccticut, San Fransisco, Singapore, Cairo, Tokyo, Cheko, Slovakia, Hongkong, Taiwan, dll.

Film Sejarah

Sebagai anak bangsa, Egy segaris dengan ajaran Bung Karno yang salah satunya mengingatkan kita agar “jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”. Karena itulah, ia antusias menggarap film-film bergenre sejarah. Tahun 2013, ia menjadi produser film Ketika Bung di Ende. Film yang digarap sutradara Viva Westy itu menampilkan pemeran utama Baim Wong (Bung Karno), Paramitha Rusady (Inggit Garnasih), dan sejumlah aktor kawakan lain seperti Tio Pakusadewo.

“Film itu didanai oleh Kemendikbud, yang artinya menggunakan dana APBN. Karena itu, sesuai aturan menjadi tidak bisa dikomersialkan. Itu sebabnya film tadi tidak diputar di gedung-gedung bioskop. Saya terus terang masih punya perasaan mengganjal, lantaran film Ketika Bung di Ende tidak bisa disiarkan secara massif. Harusnya pemerintah memiliki solusi. Sebab, ketika Pemerintahan Jokowi berbicara mengenai Revolusi Mental, bicara mengenai Pancasila, maka film Ketika Bung di Ende itu bisa menjadi media yang sangat tepat untuk sosialisasi,” papar Egy, yang juga ikut berakting di film itu.

Egy Massadiah di antara Paramitha Rusady dan Baim Wong sebagai pemeran Inggit Garnasih dan Bung Karno, dalam film Ketika Bung di Ende, yang diproduseri Egy. Foto: Ist

Egy belum menyerah untuk bisa memutar film Ketika Bung di Ende secara lebih massif. Pemerintah harusnya memiliki solusi atas kondisi ini. Kondisi adanya kebutuhan sarana sosialisai dan sarana pendidikan karakter bangsa, antara lain melalui penayangan film. Di sisi lain, sarana atau film itu sudah ada, tetapi tidak bisa diputar di bioskop umum dengan menjual karcis, karena tidak ada mekanismenya secara administrasi keuangan negara.

“Saya yakin ada solusi. Entah bentuknya menjadi PNBP (penerimaan negara bukan pajak), atau solusi lain. Apa sulitnya mengkoordinasikan persoalan itu lintas-kementerian dan APH (aparat penegak hukum). Bagaimana tujuan sosialisasi pembangunan karakter bangsa tercapai, tetapi tidak melanggar aturan tata-kelola keuangan negara,” paparnya, seraya menambahkan, “saya akan mencari jalan untuk menghubungi pejabat-pejabat atau para tokoh yang kompeten.”

Lepas dari film Bung Karno, beralih ke tokoh pahlawan nasional Pangeran Antasari dari Banjarmasin. Kembali tahun 2017, Egy mendapat kepercayaan menjadi produser film Pangeran Antasari “Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing”. “Alhamdulillah keseluruhan proses pembuatan film sudah selesai. Bahkan sudah diputar di Banjarmasin, di mana pak Gubernur nobar bersama rakyat,” kata Egy.

Egy Massadiah di antara Egy Fadly dan Hemalia Putri dalam film Antasari. Foto: Ist

Film yang antara lain mengangkat kisah Perang Banjar, itu, mengambil dua setting dalam satu film. Pertama, setting kekinian, dan kedua setting sejarah Pangeran Antasari. “Ada sekitar 50-an kru kami bawa dari Jakarta. Selebihnya, kami gunakan aktor lokal, sebab banyak dialog dalam film ini menggunakan bahasa Banjar. Hanya tokoh utama dimainkan aktor dari Jakarta, di antaranya Hemalia Putri dan Egy Fadly. Sutradaranya dosen IKJ Irwan Siregar,” kata Egy pula.

Film Pangeran Antasari, dibuka dengan kehadiran pelajar Sekolah Dasar zaman sekarang. Kisahnya, mereka ingin mencari tahu sosok Pangeran Antasari dan perjuangannya yang heroik. Itu menjadi satu segmen. Segmen berikutnya adalah masa perjuangan Pangeran Antasari tahun 1850-an.

Film berdurasi sekitar 100 menit ini mendapat dukungan penuh Gubernur Kalimantan Selatan H. Sahbirin Noor yang memang sangat mencintai dunia kebudayaan khususnya senin peran dan teater. “Ini film edukasi tentang pahlawan Banjar, banyak keteladanan yang bisa dipetik oleh generasi sekarang,” ungkap pria yang akrab disapa Paman Birin, di kesempatan terpisah.

Sejarah mencatat, Perang Banjar pecah saat Pangeran Antasari dengan 300 prajuritnya menyerang tambang batubara milik Belanda di Pengaron tanggal 25 April 1859. Dibantu para panglima dan pengikut setia, Pangeran Antasari menyerang pos-pos Belanda di Martapura, Hulu Sungai, Riam Kanan, Tanah Laut, Tabalong, sepanjang sungai Barito sampai ke Puruk Cahu.

Pertempuran makin sengit antara pasukan Pangeran Antasari dengan pasukan Belanda. Berkali-kali Belanda membujuk Pangeran Antasari untuk menyerah, namun dia tetap pada pendiriannya. Ini tergambar pada suratnya yang ditujukan untuk Letnan Kolonel Gustave Verspijck di Banjarmasin tertanggal 20 Juli 1861. “Dengan tegas kami terangkan kepada tuan: Kami tidak setuju terhadap usul minta ampun dan kami berjuang terus menuntut kemerdekaan.”

Bahasa Ibu Terancam

Ditanya, mengapa ia begitu peduli dengan film-film sejarah, yang bagi sebagian produser dinilai kurang komersial? Egy tegas menjawab, sangat prihatin atas terjadinya gap yang lebar, tentang sejarah masa lalu dengan pemahaman generasi sekarang. “Seliberal-liberalnya Amerika Serikat, murid-murid SD-nya paham sejarah, mengerti kisah para founding fathers-nya. Mengerti George Washington, Thomas Jefferson, dan seterusnya. Sedangkan di Indonesia?” kata Egy penuh keprihatinan.

Gubernur Kalimantan Selatan H. Sahbirin Noor dan Egy Massadiah, yang ikut bermain dalam film Antasari. Foto: Ist

Karena itu, ia sangat mengapresiasi Gubernur Kalimantan Selatan yang mendukung produksi film Pangeran Antasari. “Karena itu pemerintah harus punya solusi terhadap film-film sejarah yang sarat muatan nation and character building ini bisa diputar secara massif. Tidak ada persoalan tanpa solusi,” tandasnya.

Film Pangeran Antasari, menurut Egy lebih 70 persen menggunakan bahasa Banjar, bahasa daerah setempat. “Sengaja saya buat menggunakan bahasa daerah, dan nanti di-subtitel bahasa Indonesia dan Inggris. Saya akan ikutkan festival film daerah di luar negeri,” tekad Egy.

Penggunaan bahasa daerah, menjadi penting karena menurut Egy, makin terpinggirkan, bahkan terancam punah. “Penyebabnya bisa banyak hal. Misalnya, keluarga yang bapak-ibunya berasal dari dua daerah yang berbeda, cenderung memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari. Itu artinya, dua bahasa daerah hilang di satu keluarga. Nah, yang seperti ini sangat banyak di Indonesia. Jangankan itu, kedua orang tua sama-sama dari suku yang satu, kemudian hidup dan beranak-pinak di Jakarta, hampir bisa dipastikan, anak-anaknya tidak menguasai lagi bahasa ibu. Kalaupun tahu, sifatnya pasif. Pada keturunan kedua, praktis akan hilang,” paparnya.

Penyebab lain, tidak adanya upaya strategis dari pengampu kepentingan untuk melestarikan bahasa daerah. “Ini sungguh PR besar bangsa kita. Apa yang saya lakukan, sungguh hanya sebutir pasir di laut. Semoga sebulir pasir tadi bisa bermakna dan menginspirasi,” pungkas Egy Massadiah. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *