Al Qaeda Sebut Kebijakan Liberalisasi sebagai Dosa Putra Mahkota Saudi

 Al Qaeda Sebut Kebijakan Liberalisasi sebagai Dosa Putra Mahkota Saudi

 

ORGANISASI ekstremis Al-Qaeda telah menyebut proyek liberalisasi cepat yang dipimpin oleh  Putra Mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman sebagai ‘dosa’ yang mencakup pembukaan kembali bioskop dan acara WWE di Kerajaan.

Organisasi ekstremis Al-Qaeda telah menyebut proyek liberalisasi cepat Saudi Putra Mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman, sebagai ‘dosa’, yang mencakup pembukaan kembali bioskop dan acara WWE di Kerajaan.

Al-Qaeda merilis pernyataannya pekan lalu dan mengecam proyek-proyek hiburan yang baru-baru ini  diumumkan oleh pihak berwenang Saudi.

Pemerintah Saudi  juga  menargetkan keputusan yang sangat dipuji, untuk mengizinkan perempuan mengemudi dan ijin untuk bekerja mencari nafkah.

“Era baru Bin Salman menggantikan masjid dengan bioskop.  Dia mengganti buku-buku milik para imam … dengan absurditas ateis dan sekularis dari Timur dan Barat, dan membuka pintu lebar untuk korupsi dan degradasi moral,” demikian sebuah pernyataan dari Juru bicara Al-Qaeda.”

 

“Pegolf asing yang tidak percaya (Tuhan) mengekspos privasi mereka dan sebagian besar dari mereka adalah orang-orang Nasrani, di depan pertemuan campuran pria dan wanita Muslim muda,” tambah pernyataan itu.

 

“Para koruptor tidak berhenti di situ, karena setiap konser musik malam diumumkan, serta pertunjukan film dan sirkus.”

 

Setelah puluhan tahun konservatisme, Kerajaan Arab Saudi, di bawah kepemimpinan Putra Mahkota Muhammad bin Salman, Saudi bergerak menuju liberalisasi yang sangat dibutuhkan. Kerajaan telah melonggarkan hukumnya pada kontrol moral.

Orang-orang dengan sukacita  merayakan Valentine Day di Kerajaan tahun ini. Pada hari itu polisi moral tidak menangkap pedagang yang menjual mawar merah di jalan. Seorang ulama Saudi bahkan mengeluarkan penilaian yang melegitimasi perayaan  Valentine Day.

Arab Saudi telah mengeluarkan lisensi pertama mereka kepada seorang sopir perempuan minggu ini. Perempuan tampaknya pada akhirnya mendapatkan hak mereka untuk “menyetir”, yang dianggap tindakan tidak suci beberapa tahun yang lalu.

Seberapa jauh kecaman moral yang disampaikan Al Qaeda ini dalam aspek keamanan, masih harus ditunggu. Mudah-mudahan, Saudi tidak menjadi ladang baru bagi Al Qaeda untuk melakukan aksi-aksi terorisme.

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *