8 Hal yang Harus Kita Pahami tentang Vaksinasi Covid-19

 8 Hal yang Harus Kita Pahami  tentang Vaksinasi Covid-19

Presiden Joko Widodo menerima vaksinasi pertama di Indonesia (Foto: Sekab)

JAYAKARTA NEWS – Perjuangan global untuk memerangi dan mengenyahkan Covid-19 kemungkinan kemungkinan harus menempuh jalan panjang dan diselimuti ketidakpastian. Sekalipun begitu, hampir semua negara kini mencoba mengandalkan vaksinasi untuk membangun kekebalan tubuh para warganya, untuk memaksa pelambatan penularan virus korona, dan diharapkan pada akhirnya berhenti.

Namun yang perlu disadari, dengan peluncuran vaksin yang sangat efektif, cakupan imunisasi mungkin dalam waktu dekat tidak akan mencapai ambang kekebalan kelompok. Pada satu sisi, sajauh ini  juga  tidak diketahui tingkat kekebalan yang diperlukan, selanjutnya  apakah vaksin akan cukup manjur untuk mencapainya. Persoalan dan ancaman lainnya adalah, munculnya  varian virus korona yang dapat melemahkan efektivitas imunisasi.

Setidaknya ada 8 hal krusial yang perlu dipahami terkait dengan upaya pemberantasan Covid-19, yakni:

1. Apakah  Covid-19 bida diberantas?

Tidak. Sejauh ini, hanya penyakit cacar, sebagai satu penyakit manusia,  yang secara resmi diberantas. Dalam artian, dikurangi menjadi nol kasus dan “disimpan” dalam jangka panjang tanpa tindakan intervensi berkelanjutan. Penyakit cacar dapat diberantas berkat vaksin yang sangat efektif dan fakta bahwa manusia adalah satu-satunya mamalia yang secara alami rentan terhadap infeksi virus variola yang menyebabkan penyakit yang menodai dan terkadang mematikan.

Manusia adalah satu-satunya reservoir virus polio yang diketahui, namun virus ini masih menyebar di beberapa negara. Virus tersebut menyebabkan penyakit yang melumpuhkan. Meskipun imunisasi efektif telah digunakan secara luas dan upaya pencegahan dan pemberantasan polio secara global, namun usaha itu telah berlangsung selama 32 tahun.

SARS-CoV-2 diperkirakan bertahan di alam pada kelelawar tapal kuda, dan telah diketahui menginfeksi cerpelai (Mustela erminea, predator aktif yang hidup di Eropa satu keluarga dengan musang), kucing, gorila, dan hewan lainnya. Untuk memusnahkan virus, maka virus itu harus dibuang dari setiap spesies yang rentan, dan ini tentu saja  tidak mungkin dilakukan. Di negara-negara yang berhasil menekan kasus Covid-19, penghapusan penyakit telah diusulkan sebagai gantinya.

2. Apakah eliminasi itu?

Hal itu  terjadi ketika upaya untuk menekan wabah tidak menghasilkan kasus baru dari suatu penyakit atau infeksi di area tertentu selama periode yang berkelanjutan. Tidak ada definisi resmi tentang berapa lama seharusnya. Salah satu usulan adalah membuatnya menjadi 28 hari, sama dengan dua kali lebih lama dari rentang luar masa inkubasi (waktu antara infeksi dan munculnya gejala) Covid-19. Beberapa negara, seperti Selandia Baru, telah mencapai nol kasus baru untuk waktu yang lama dengan menggunakan penutupan perbatasan, penguncian, serta deteksi dan isolasi kasus yang cermat. Selama pandemi, negara  tersebut  mempertahankan pemberantasan penyakit menular di seluruh negeri, dan ini merupakan tantangan. Ancamannya adalah,  virus masuk kembali ke negara itu dari para pelancong internasional yang terinfeksi.

3. Apakah vaksin akan menghilangkan Covid-19?

Sulit untuk memastikannya. Tidak diketahui berapa proporsi populasi yang perlu memiliki kekebalan untuk menghentikan penyebaran virus corona, atau apakah vaksin yang paling ampuh pun dapat mencegah penyebarannya. Sebuah penelitian  memperkirakan bahwa untuk menghentikan penularan, 55% hingga 82% populasi perlu memiliki kekebalan, dan itu  dapat dicapai baik dengan pemulihan dari infeksi atau melalui vaksinasi. Namun, sebagai gambaran, kekebalan kelompok tidak tercapai di Manaus (ibu kota negara bagian Amazonas di Brasil), bahkan setelah sekitar 76% populasi terinfeksi. Sekalipun demikian, ada alasan untuk percaya bahwa inokulasi massal akan memiliki efek yang lebih kuat, karena dengan vaksin tampaknya orang alam memperoleh perlindungan yang lebih kuat dan lebih tahan lama daripada infeksi sebelumnya.

4. Seberapa efektifkah vaksin itu?

Ada bukti bagus bahwa vaksin akan efektif dalam mencegah penerima mengembangkan Covid-19, dengan uji klinis suntikan Pfizer Inc.-BioNTech SE dan Moderna Inc. yang menunjukkan kemanjuran hingga 95%. Namun, data yang tersedia tidak cukup untuk mengukur kemampuan vaksin untuk mencegah orang untuk mengembangkan infeksi tanpa gejala atau menularkan virus ke orang lain.

Standar emas dalam vaksinologi adalah menghentikan infeksi serta penyakit, menyediakan apa yang disebut sebagai kekebalan sterilisasi. Tapi itu tidak selalu tercapai. Vaksin campak, misalnya, mencegah infeksi, sehingga orang yang divaksinasi tidak menyebarkan virus, sedangkan vaksin untuk batuk rejan berfungsi dengan baik dalam melindungi dari penyakit serius, tetapi kurang efektif dalam menghentikan infeksi.

Namun yang menggembirakan, studi tentang vaksin Covid Moderna pada monyet menunjukkan bahwa vaksin itu akan mengurangi infeksi, jika tidak dapat diklaim  sepenuhnya mencegah, penularan virus selanjutnya. Uji klinis yang menggunakan vaksin AstraZeneca Plc menunjukkan bahwa vaksinasi mungkin kurang dari 60% efektif dalam menghentikan infeksi, sehingga membuatnya tidak mungkin mencapai kekebalan kelompok bahkan jika semua orang dalam suatu populasi menerima dua dosis.

5. Bagaimana faktor varian virus?

Semakin banyak SARS-CoV-2 bersirkulasi, semakin besar kesempatan virus untuk bermutasi dengan cara yang meningkatkan kemampuannya untuk menyebar dan bertahan lebih lama dan untuk menghindari kekebalan dari infeksi alami dan vaksinasi. Itu membuat penghentian transmisi menjadi lebih menantang.

Dalam beberapa bulan terakhir, varian yang pertama kali dilaporkan di Inggris, Afrika Selatan dan Brasil – di mana epidemi Covid-19 sangat parah – telah berkembang biak dan menyebar secara global, menyebabkan kekhawatiran yang semakin besar. Penelitian menunjukkan bahwa mereka lebih menular, dan ada bukti yang muncul bahwa beberapa vaksin yang baru dikembangkan mungkin kurang protektif terhadap jenis ini. Pembuat obat mengatakan vaksin mereka harus tetap berfungsi, meskipun beberapa sedang mencari versi baru. Para peneliti telah memperingatkan bahwa suntikan mungkin perlu diperbarui secara berkala untuk mempertahankan kemanjurannya.

6. Apakah vaksin Covid-19 harus mencegah infeksi untuk menekan kasus?

Tidak. Vaksin tidak harus sempurna untuk memiliki manfaat kesehatan masyarakat. Ahli vaksinasi Selandia Baru Helen Petousis-Harris menunjuk pada rotavirus dan cacar air sebagai contoh penyakit yang telah “hampir dibasmi dengan menggunakan vaksin yang sangat baik dalam mencegah penyakit parah, cukup baik dalam mencegah penyakit apa pun, tetapi itu tidak sepenuhnya mencegah infeksi pada semua orang. ”

Karena SARS-CoV-2 menyebar melalui partikel pernapasan dari tenggorokan dan hidung orang yang terinfeksi, vaksin yang mengurangi jumlah virus di saluran pernapasan atau mengurangi frekuensi orang yang terinfeksi batuk dapat mengurangi kemungkinan penularannya ke orang lain dan menurunkan nomor reproduksi efektif (Re), yang merupakan jumlah rata-rata infeksi baru yang diperkirakan berasal dari satu kasus.

Menurut Mike Ryan, kepala program kedaruratan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO),   alih-alih berfokus pada penghapusan SARS-CoV-2, kesuksesan harus dilihat sebagai “mengurangi kapasitas virus ini untuk membunuh, menempatkan orang di rumah sakit, untuk menghancurkan kehidupan ekonomi dan sosial kita. “

7. Bagaimana jika Covid-19 tidak bisa dihilangkan?

David Heymann, ketua Kelompok Penasihat Strategis dan Teknis WHO untuk Bahaya Menular, memperingatkan pada akhir tahun 2020, “tampaknya takdir SARS-CoV-2 akan menjadi endemik.” Virus endemik terus beredar di masyarakat, seringkali menyebabkan lonjakan berkala ketika karakteristik penyakit dan pola perilaku manusia mendukung penularan. Contohnya termasuk norovirus, penyebab gastroenteritis yang terkenal di kapal pesiar, dan segudang virus, termasuk empat virus corona, yang menyebabkan flu biasa, terutama selama musim dingin.

8. Apa implikasinya?

Tidak diketahui bagaimana hal-hal terkait dengan Covid-19 ini akan berkembang, tetapi para peneliti mulai membuat skenario. Orang yang selamat dari Covid-19 dan mereka yang divaksinasi mungkin akan terlindungi dari penyakit untuk beberapa waktu. Pajanan ulang virus atau suntikan penguat vaksin kemungkinan akan meningkatkan perlindungan mereka.

Karena semakin banyak orang mengembangkan kekebalan dengan cara ini, virus akan menemukan mereka yang belum kebal, selama kekebalan kelompok tidak dibangun untuk melindungi mereka. Itu berarti bahwa orang-orang yang tidak dapat divaksinasi – karena sistem kekebalan mereka terganggu, atau mereka memiliki alergi terhadap bahan-bahan vaksin, atau mereka terlalu muda (tidak ada vaksin resmi di negara-negara Barat yang disetujui untuk anak-anak) – akan tetap rentan. Beberapa ilmuwan telah memprediksikan bahwa, setelah fase endemik tercapai dan paparan utama virus terjadi pada masa kanak-kanak, SARS-CoV-2 mungkin tidak lebih ganas daripada flu biasa.

Dengan memahami delapan hal tersebut, maka kita akan tetap ingat dan melaksanakan protokol kesehatan dalam mencegah penularan Covid-19.(sumber Bloomberg/sm)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *