Kabar
Warisan Budaya Mitos Bocah Bajang
Gde Mahesa
Mitos anak bajang dalam primbon Jawa bukan sekadar cerita mistik, tapi bagian dari warisan budaya yang menggambarkan betapa kompleksnya pandangan orang Jawa terhadap kehidupan. Meski zaman telah berubah, kepercayaan ini tetap mengakar di sebagian masyarakat.
Terlepas dari benar tidaknya, kehadiran mitos ini mengingatkan kita untuk menghargai setiap kelahiran sebagai anugerah yang tak ternilai. Dan bagi anak bajang sendiri, ia bisa menjadi simbol kekuatan spiritual yang besar asal dipahami dan dirawat dengan bijak.
Anak-anak di dataran tinggi Dieng yang memiliki rambut gimbal biasa disebut anak bajang. Mereka dianggap mistis dan diyakini ada kaitannya dengan penguasa Laut Selatan, anak-anak itu adalah kesayangan roh-roh gaib penunggu wilayah Dieng.
Pada waktunya, mereka akan diminta kembali oleh sang Ratu, sehingga para orang tua yang mempercayai mitos tersebut memperlakukan dengang istimewa. Orang tua yang memiliki anak berambut gimbal mesti memperlakukan si anak dengan istimewa.
Mitos lain, anak bajang ini konon sudah ada di sejak ratusan tahun silam. Mereka adalah titisan Kiai Kaladete yang dianggap sebagai orang yang pertama kali membuka desa tersebut. Diceritakan, Kiai Kaladete bersumpah tak akan memotong rambutnya dan tak akan mandi sebelum desanya makmur. Kelak, keturunannya akan mempunyai ciri seperti dirinya.
Bayi bajang dalam konteks mistis Jawa merujuk pada makhluk halus berwujud bayi yang dipercaya dapat dipelihara untuk tujuan tertentu, seperti pesugihan. Istilah “bajang” sendiri bisa berarti “kecil”, “kerdil”, atau “cacat” dalam bahasa Jawa. Dalam kepercayaan masyarakat, bayi bajang sering dikaitkan dengan ruh bayi yang meninggal dalam kandungan atau akibat aborsi, yang kemudian dimanfaatkan dalam ritual untuk mendapatkan kekayaan atau tujuan lainnya.
Namun dalam konteks cerita mistis Jawa merujuk pada makhluk halus berwujud bayi yang dipercaya dipelihara oleh manusia untuk tujuan tertentu, seperti kekayaan atau ilmu gaib. Dalam beberapa cerita, bayi bajang dikaitkan dengan praktik pesugihan.
Konon, mereka berasal dari ruh bayi yang meninggal dalam kandungan atau akibat aborsi, yang kemudian dimanfaatkan dalam ritual untuk mendapatkan kekayaan. Sedangkan orang yang memelihara bajang disebut “saka”. Bajang ini dipelihara dalam wadah seperti tabung bambu dan diberi makan, serta dijaga agar tidak menimbulkan gangguan.
Bocah atau bayi bajang merupakan salah satu cerita mistis yang masih ada dalam budaya Jawa, golongan sejenis makhluk halus yang diketahui dari bagsa jin/setan yang dipelihara oleh manusia, biasanya usia bajang ini masih 7 bulan di dalam kandungan yang kemudian diambil ruh-nya. Ruh tersebut digunakan untuk melakukan ritual pesugihan, praktik ini dinilai lebih aman karena tidak membutuhkan banyak syarat dan korban jiwa, namun risiko yang cukup besar, yaitu pelaku suami istri yang melakukan pesugihan ini akan sulit mendapatkan anak, sekalinya berhasil mengandung malah akan keguguran.
Penting untuk membedakan kedua konteks ini. Anak bajang sebagai makhluk halus lebih berkaitan dengan cerita mistis dan praktik pesugihan, sedangkan anak bajang (rambut gimbal) lebih berkaitan dengan mitologi dan tradisi di Dieng.
Jangan sampai tidak, didaerah ini mesti harus sruputtt kopi pahit… bullll bullll klepussss…..
